{"id":58945,"date":"2026-09-23T20:32:35","date_gmt":"2026-09-23T13:32:35","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=58945"},"modified":"2026-09-23T20:34:33","modified_gmt":"2026-09-23T13:34:33","slug":"35-tahun-lampung-barat-parosil-ungkap-capaian-dan-pr-pemerintah-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/09\/23\/35-tahun-lampung-barat-parosil-ungkap-capaian-dan-pr-pemerintah-daerah\/","title":{"rendered":"35 Tahun Lampung Barat, Parosil Ungkap Capaian dan PR Pemerintah Daerah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lampung Barat (LB)<\/strong>: Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerah sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan fiskal dan pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dalam pidato peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-35 Kabupaten Lampung Barat.<\/p>\n<p>Pidato tersebut disampaikan dalam Sidang Paripurna DPRD Lampung Barat yang digelar di Ruang Sidang Makhgasana DPRD dan dibuka Ketua DPRD Lampung Barat Edi Novial, Rabu (23\/9\/2026).<\/p>\n<p>Mengusung semangat &#8220;Setawitan, Seuyunan, Sehangguman, Maju Jejama,&#8221; Parosil menerjemahkan nilai tersebut sebagai satu tujuan, satu arah, satu hati, dan maju bersama. Semangat itu dikaitkan dengan visi pembangunan Lampung Barat Hebat dan Setia Menuju Indonesia Emas 2045.<\/p>\n<p>Parosil menyebut sejumlah indikator makro ekonomi menunjukkan tren positif. Angka kemiskinan pada 2025 turun menjadi 9,93 persen dari 10,68 persen pada tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin juga disebut berkurang sekitar 2.200 jiwa menjadi 31.230 jiwa. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Lampung Barat mencapai 5,45 persen, atau meningkat 1,09 poin dibanding tahun lalu.<\/p>\n<p>Dia juga mengungkapkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp10,733 triliun, meningkat dari sekitar Rp9,9 triliun, dengan pendapatan per kapita tercatat Rp33,77 juta.<\/p>\n<p>Bupati menjelaskan struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 44,09 persen. Namun, beberapa sektor lainnya menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi; industri pengolahan tumbuh 11,84 persen, konstruksi 11,57 persen, sedangkan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,12 persen.<\/p>\n<div id=\"attachment_58946\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-58946\" class=\"wp-image-58946 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/1506527.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" \/><p id=\"caption-attachment-58946\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>KOMPAK<\/strong>. Bupati Kabupaten Lampung Barat Parosil Mabsus (paling tengah baris depan) terlihat kompak dengan Wakil Bupati Mad Hasnurin, Ketua DPRD Edi Novial (memakai jas merah), Sekda Nukman (paling kanan), dan Forkopimda Lampung Barat. (Foto: Dok. Kominfo Lampung Barat)<\/em><\/p><\/div>\n<p>IPM Naik, Pengangguran 2,11 Persen<br \/>\nPada sektor pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung Barat mencapai 73,14 poin, naik 0,73 poin dan masuk kategori tinggi.<br \/>\nParosil menyebut Lampung Barat berada di peringkat keenam IPM di Provinsi Lampung.<\/p>\n<p>Sedangkan untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 2,11 persen atau sekitar 4.000 jiwa. Angka tersebut diklaim sebagai yang terendah di Provinsi Lampung.<br \/>\nSelain indikator pembangunan, Parosil juga memaparkan sejumlah penghargaan yang diraih pemerintah daerah, di antaranya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 16 kali berturut-turut, penghargaan Kabupaten Terinovatif 2025 dalam ajang Innovative Government Award (IGA), LPM Award, serta predikat informatif dalam keterbukaan informasi publik.<\/p>\n<p>Di tingkat pekon, lima pekon disebut naik kelas menjadi Desa Mandiri Baru, yakni Sedampah Indah, Way Empulau Ulu, Padang Tambak, Suka Jaya, dan Bandar Agung. Sementara itu, sembilan pekon lainnya masuk klasifikasi swasembada.<\/p>\n<p>Parosil juga menyampaikan Pemkab Lampung Barat memberikan perhatian terhadap tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu dengan adanya kenaikan penghasilan bagi PPPK paruh waktu; lulusan SMA yang sebelumnya menerima Rp500.000 menjadi Rp750.000 per bulan, lulusan D3 dari Rp600.000 menjadi Rp900.000, sedangkan lulusan S1 dari Rp700.000 menjadi Rp1 juta per bulan.<\/p>\n<p>Beasiswa hingga Program MBG<br \/>\nDi sektor pendidikan, Pemkab Lampung Barat memberikan beasiswa S1 PGSD kepada 30 orang, beasiswa kewirausahaan kepada 30 orang, serta beasiswa untuk lima orang di POLTRADA Bali.<br \/>\nBukan hanya beasiswa, Pemkab Lampung Barat juga menyediakan seragam dan tas gratis bagi 5.957 siswa SD dan 4.828 siswa SMP.<\/p>\n<p>Di sektor kesehatan, pemerintah daerah memberikan beasiswa kepada 11 calon dokter umum dan tiga calon dokter gigi. Sebagian penerima beasiswa disebut telah kembali mengabdi di Lampung Barat, antara lain di Puskesmas Sekincau dan Batu Brak.<\/p>\n<p>Pada sektor ekonomi kerakyatan, terdapat 135 unit Koperasi Desa\/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dengan 87 gerai telah terbangun. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga telah didukung 29 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersertifikat laik higiene. Program tersebut disebut menjangkau 84.625 penerima manfaat dan menyerap 1.161 tenaga kerja.<\/p>\n<p>Di sektor perkebunan, kopi mendapat perhatian melalui program peremajaan tanaman kopi seluas 903 hektare serta penguatan kapasitas melalui Sekolah Kopi.<\/p>\n<p>Jalan Mantap Baru 59,5 Persen<\/p>\n<p>Di tengah berbagai capaian tersebut, pekerjaan rumah pembangunan infrastruktur masih cukup besar.<br \/>\nParosil menyebut tingkat kemantapan jalan di Lampung Barat baru mencapai 59,5 persen. Kondisi irigasi yang dinilai baik mencapai 58,47 persen, sanitasi sehat 97,91 persen, sedangkan akses air minum layak mencapai 89,43 persen.<br \/>\nData tersebut menunjukkan masih terdapat kebutuhan pembangunan infrastruktur yang harus dikejar pemerintah daerah, terutama di tengah keterbatasan fiskal.<\/p>\n<p>Parosil mengakui kemampuan APBD Lampung Barat terbatas. Oleh karena itu, pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan sumber pembiayaan daerah.<br \/>\nPada 2025, misalnya, program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di tiga pekon mendapat dukungan anggaran Rp1,6 miliar dan menjangkau 1.474 jiwa.<\/p>\n<p>Untuk 2026, pagu program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), PAMSIMAS, dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) mencapai Rp7,8 miliar yang tersebar di 17 lokasi.<\/p>\n<p>Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) juga terus berjalan. Pada 2025, sebanyak 312 unit rumah mendapat bantuan dengan nilai Rp6,24 miliar.<br \/>\nSementara pada 2026, terdapat 444 rumah dengan nilai Rp8,88 miliar yang masih dalam proses.<br \/>\nPenataan kawasan kumuh di Fajar Bulan juga berjalan dengan dukungan anggaran sekitar Rp8,058 miliar.<\/p>\n<p>Di tengah kebutuhan pembangunan yang masih besar, Parosil menekankan pentingnya dukungan Pemerintah Pusat.<br \/>\nMenurutnya, usulan melalui Instruksi Presiden (Inpres) untuk pembangunan irigasi, Dana Alokasi Khusus (DAK), maupun program kementerian harus dikawal secara serius.<\/p>\n<p>Perencanaan yang matang dan kelengkapan dokumen menjadi faktor penting agar berbagai usulan pembangunan Lampung Barat dapat memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.<\/p>\n<p>&#8220;Pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Karena itu, usulan Inpres, DAK, dan program kementerian harus dikawal dengan perencanaan yang matang dan dokumen yang lengkap,&#8221; kata Parosil.<\/p>\n<p>Pidato HUT Ke-35 Lampung Barat ini tidak hanya sebagai laporan capaian pembangunan, tetapi juga memperlihatkan pekerjaan rumah daerah, terutama dalam mengejar kemantapan infrastruktur dan mencari sumber pembiayaan di luar APBD. (*\/Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung Barat (LB): Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerah sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan fiskal dan pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan dalam pidato peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-35 Kabupaten Lampung Barat. Pidato tersebut disampaikan dalam Sidang Paripurna DPRD Lampung Barat yang digelar di Ruang Sidang Makhgasana DPRD dan dibuka Ketua DPRD Lampung Barat Edi Novial, Rabu (23\/9\/2026). Mengusung semangat &#8220;Setawitan, Seuyunan, Sehangguman, Maju Jejama,&#8221; Parosil menerjemahkan nilai tersebut sebagai satu tujuan, satu arah, satu hati, dan maju bersama. Semangat itu dikaitkan dengan visi pembangunan Lampung Barat Hebat dan Setia Menuju Indonesia Emas 2045. Parosil menyebut sejumlah indikator makro ekonomi menunjukkan tren positif. Angka kemiskinan pada 2025 turun menjadi 9,93 persen dari 10,68 persen pada tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin juga disebut berkurang sekitar 2.200 jiwa menjadi 31.230 jiwa. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Lampung Barat mencapai 5,45 persen, atau meningkat 1,09 poin dibanding tahun lalu. Dia juga mengungkapkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp10,733 triliun, meningkat dari sekitar Rp9,9 triliun, dengan pendapatan per kapita tercatat Rp33,77 juta. Bupati menjelaskan struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 44,09 persen. Namun, beberapa sektor lainnya menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":58947,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[194],"tags":[],"class_list":["post-58945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lampung-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58945"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58945\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58950,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58945\/revisions\/58950"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58947"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}