{"id":58694,"date":"2026-09-06T11:15:33","date_gmt":"2026-09-06T04:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=58694"},"modified":"2026-09-06T11:46:08","modified_gmt":"2026-09-06T04:46:08","slug":"lampung-mandi-debu-bandara-soekarno-hatta-ditutup-sementara-dampak-erupsi-krakatau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/09\/06\/lampung-mandi-debu-bandara-soekarno-hatta-ditutup-sementara-dampak-erupsi-krakatau\/","title":{"rendered":"Lampung Mandi Debu, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Sementara Dampak Erupsi Krakatau"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banten (LB)<\/strong>: Abu erupsi Gunung Anak Krakatau terus menyebar ke berbagai daerah di Pulau Sumatera maupun Pulau Jawa hingga mengakibatkan Bandar Udara Soekarno-Hatta ditutup sementara.<\/p>\n<p>Manager Teknik Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta, Tri Fajar Parwoto, mengatakan Bandara Soekarno-Hatta akan ditutup sementara hingga Pukul 13.30 WIB sambil menunggu tes berkala dari BMKG berkaitan dengan arah debu vulkanik.<\/p>\n<p>&#8220;Ya, penerbangan dari\u00a0dan\u00a0ke\u00a0CGK (Cengkareng\/Bandara Soekarno-Hatta, red)\u00a0ditutup\u00a0sementara.\u00a0Kalau info\u00a0dari Airnav\u00a0sampe\u00a013.30\u00a0tutup\u00a0sambil\u00a0menunggu\u00a0hasil\u00a0hasil\u00a0tes\u00a0berkala\u00a0dari\u00a0BMKG. Apakah abu\u00a0vulkanik\u00a0Gunung\u00a0Anak Krakatau sudah tidak ke\u00a0arah\u00a0Bandara,&#8221; ujar Tri Fajar, Minggu (6\/9\/2026).<\/p>\n<p>Di Provinsi Lampung, debu tebal menyelimuti sebagian besar wilayah Kota Bandar Lampung, Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, dan beberapa kabupaten lain pada Minggu, 6 September 2026.<\/p>\n<div id=\"attachment_58696\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-58696\" class=\"wp-image-58696 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/1386902.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" \/><p id=\"caption-attachment-58696\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PENAMPAKAN DEBU<\/strong>. Begini penampakan debu Gunung Anak Krakatau (GAK) di teras salah rumah warga Bandar Lampung. (Foto: dok. lampungbarometer.id)<\/em><\/p><\/div>\n<p>Di Kelurahan Tanjung Senang, debu hitam terlihat menumpuk di teras rumah warga, salah satunya rumah milik Dani. Menurut Dani, sejak pagi ini, sudah beberapa kali lantainya disapu, tapi debu hitam dan keras masih ada.<\/p>\n<p>&#8220;Ini sudah berkali-kali disapu, tapi debunya seperti nggak ngurang, ada lagi,&#8221; ucap Dani.<\/p>\n<p>Kondisi yang sama juga terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Bandar Lampung, debu tebal berwarna hitam menempel di di teras dan halaman rumah warga. Selain membuat rumah terlihat kotor, debu erupsi Gunung Anak Krakatau juga mengganggu pernapasan.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau napas agak berat dan dada kayak sakit gitu. Mata juga perih, apalagi kalau bawa motor. Kalau bawa motor harus pakai helm yang ada kacanya,&#8221; ungkap Herdi.<\/p>\n<p>&#8220;Tadi malam yang debunya paling parah, pagi ini masih cukup parah, tapi tidak separah tadi malam,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, salah satu warga Bogor, Endang mengatakan beberapa tamu dan anggota keluarga yang dijadwalkan menghadiri pernikahan anaknya terpaksa tidak bisa hadir karena dibatalkannya penerbangan dan bandara ditutup.<\/p>\n<p>&#8220;Keluarga dari Medan tidak bisa hadir, karena Bandara Kualanamu ditutup, penerbangan dibatalkan. Mereka sudah sampai Bandara, tapi pesawat tidak bisa terbang dampak debu erupsi Gunung Anak Krakatau,&#8221; ucapnya. (ak)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banten (LB): Abu erupsi Gunung Anak Krakatau terus menyebar ke berbagai daerah di Pulau Sumatera maupun Pulau Jawa hingga mengakibatkan Bandar Udara Soekarno-Hatta ditutup sementara. Manager Teknik Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta, Tri Fajar Parwoto, mengatakan Bandara Soekarno-Hatta akan ditutup sementara hingga Pukul 13.30 WIB sambil menunggu tes berkala dari BMKG berkaitan dengan arah debu vulkanik. &#8220;Ya, penerbangan dari\u00a0dan\u00a0ke\u00a0CGK (Cengkareng\/Bandara Soekarno-Hatta, red)\u00a0ditutup\u00a0sementara.\u00a0Kalau info\u00a0dari Airnav\u00a0sampe\u00a013.30\u00a0tutup\u00a0sambil\u00a0menunggu\u00a0hasil\u00a0hasil\u00a0tes\u00a0berkala\u00a0dari\u00a0BMKG. Apakah abu\u00a0vulkanik\u00a0Gunung\u00a0Anak Krakatau sudah tidak ke\u00a0arah\u00a0Bandara,&#8221; ujar Tri Fajar, Minggu (6\/9\/2026). Di Provinsi Lampung, debu tebal menyelimuti sebagian besar wilayah Kota Bandar Lampung, Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, dan beberapa kabupaten lain pada Minggu, 6 September 2026. Di Kelurahan Tanjung Senang, debu hitam terlihat menumpuk di teras rumah warga, salah satunya rumah milik Dani. Menurut Dani, sejak pagi ini, sudah beberapa kali lantainya disapu, tapi debu hitam dan keras masih ada. &#8220;Ini sudah berkali-kali disapu, tapi debunya seperti nggak ngurang, ada lagi,&#8221; ucap Dani. Kondisi yang sama juga terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Bandar Lampung, debu tebal berwarna hitam menempel di di teras dan halaman rumah warga. Selain membuat rumah terlihat kotor, debu erupsi Gunung Anak Krakatau juga mengganggu pernapasan. &#8220;Kalau napas agak berat dan dada kayak sakit gitu. Mata juga perih, apalagi kalau bawa motor. Kalau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":58695,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1251,406],"tags":[],"class_list":["post-58694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-banten","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58694"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58694\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58699,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58694\/revisions\/58699"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58695"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}