{"id":57797,"date":"2026-07-17T21:19:23","date_gmt":"2026-07-17T14:19:23","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=57797"},"modified":"2026-07-17T22:00:51","modified_gmt":"2026-07-17T15:00:51","slug":"9-istri-soekarno-presiden-pertama-ri-yang-kharismatik-ini-nama-namanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/07\/17\/9-istri-soekarno-presiden-pertama-ri-yang-kharismatik-ini-nama-namanya\/","title":{"rendered":"9 Istri Soekarno, Presiden Pertama RI yang Kharismatik, Ini Nama-namanya"},"content":{"rendered":"<p><strong>LAMPUNGBAROMETER.ID<\/strong> &#8211; Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dikenal flamboyan dan kharismatik dengan\u00a0\u00a0pesona luar biasa, sehingga banyak perempuan jatuh cinta. Soekarno yang memiliki nama lahir sebagai Koesno Sosrodihardjo, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.<\/p>\n<p>Dalam hidupnya, Singa Podium yang sangat disegani kawan dan lawan ini tercatat memiliki 9 istri, di antaranya ada yang usianya terpaut jauh, dinikahi Soekarno yang sudah menjabat Presiden ketika sang istri masih berusia belasan.<\/p>\n<p>Inilah istri-istri Soekarno, Sang Proklamator, Presiden Pertama Republik Indonesia:<\/p>\n<p><strong>1. Siti Oetari Tjokroaminoto<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57800\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042063.jpg\" alt=\"\" width=\"1079\" height=\"1066\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042063.jpg 1079w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042063-80x80.jpg 80w\" sizes=\"auto, (max-width: 1079px) 100vw, 1079px\" \/><\/p>\n<p>Siti Oetari adalah perempuan pertama dalam hidup Soekarno. Perempuan yang merupakan putri sulung dari HOS (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto, pahlawan nasional yang dijuluki \u201cGuru Bangsa\u201d, tokoh pergerakan nasional yang mendidik banyak pemimpin besar, di antaranya Soekarno, Kartosuwiryo, Alimin, dan Musso.<\/p>\n<p>Kala itu, Soekarno yang sedang menempuh pendidikan Hogere Burger School (HBS), Surabaya, indekos di rumah HOS Cokro Aminoto sekaligus merupakan murid Hos Tjokroaminoto.<\/p>\n<p>Mereka jatuh cinta ketika usia Soekarno 18 tahun, sedangkan Oetari empat tahun lebih muda. Kisah cinta mereka berlanjut sampai mahligai pernikahan dua tahun setelahnya (1921). Atas usulan adik Tjokroaminoto, Soekarno yang berumur 20 menikahi Oetari yang saat itu berusia 16 tahun. Pernikahan mereka digelar sederhana.<\/p>\n<p>Namun, walaupun menikah dengan alasan saling mencintai, rumah tangga Oetari dan Bung Karno tidak bertahan lama karena beberapa alasan. Dua tahun bersama, keduanya memutuskan bercerai dan berpisah dengan cara baik-baik. Setelah tak lagi berstatus suami istri, keduanya tetap berhubungan satu sama lain.<\/p>\n<p>Siti Oetari kemudian menambatkan hati pada Sigit Bachrun Salam, teman\u00a0Bung Karno\u00a0ketika di rumah kos. Mereka menikah pada 1924 hingga tahun 1981, keduanya dikaruniai delapan orang anak, salah satunya adalah Harjono Sigit yang merupakan ayah dari artis Maya Estianty.<\/p>\n<p>Siti Oetari\u00a0merupakan wanita pertama yang berhasil membuat Soekarno\u00a0muda terpikat dan namanya abadi dalam sejarah. Siti Oetari Tjokroaminoto lahir pada 1905 dan meninggal pada 1986.<\/p>\n<p><strong>2. Inggit Garnasih<\/strong><br \/>\nSosok penting yang terlupakan<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57801\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1037194.jpg\" alt=\"\" width=\"616\" height=\"956\" \/><\/p>\n<p>Inggit Garnasih sosok penting dalam perjalanan Soekarno hingga menjadi presiden, tapi dia seolah terlupakan. Inggit Garnasih menikah dengan Soekarno di Bandung pada 24 Maret 1923. Pernikahan itu dikukuhkan dengan Soerat Katerangan Kawin No 1.138. Inggit saat itu berusia 36 tahun, sedangkan Soekarno 22 tahun. Bagi Inggit, ini adalah pernikahan ketiga setelah dirinya gagal berumah tangga dengan Nata Atmaja dan H. Sanusi, sedangkan bagi Soekarno merupakan pernikahan kedua setelah bercerai dari Oetari.<\/p>\n<p>Inggit mampu menjadi tempat mencurahkan pikiran saat Soekarno didera kegelisahan. Kesulitan dan kegelisahan itu bermula saat Soekarno berjuang menamatkan kuliah di THS karena tak punya cukup biaya. Inggit berjuang dengan berjualan jamu untuk membiayai kuliah Soekarno hingga menyandang gelar insinyur.<\/p>\n<p>Pada 29 Desember di tahun yang sama, Soekarno ditangkap Belanda dan dipenjara di Banceuy. Atas putusan pengadilan, Soekarno dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Saat itu Inggit menyambung hidup dengan menjahit baju serta menjual kutang, bedak, rokok, sabun, dan cangkul.<\/p>\n<p>Tidak lama setelah keluar dari penjara Sukamiskin, pada 1 Agustus 1933, Soekarno kembali ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores. Saat itu Inggit setia mendampingi Soekarno, bahkan dia membawa serta ibu dan anak angkatnya, Ratna Juami, ke Ende.<\/p>\n<p>Pada 1938 mereka pindah ke Bengkulu karena Soekarno terserang malaria, Inggit tetap setia mendampingi Soekarno. Namun, di Bengkulu cinta mereka retak seketika, sebab Soekarno kembali jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Fatmawati. Kala itu Soekarno mengatakan akan menikahi Fatmawati. Inggit menolak dimadu, karena baginya sangat tabu dan memilih sendiri daripada harus berbagi.<\/p>\n<p>Inggit kembali ke Bandung dengan membawa hati yang hancur. Soekarno melenggang ke Jakarta dan menikahi Fatmawati pada 1944. Soekarno tetap mengatakan Inggit adalah ratu dalam hatinya. Inggit dan Soekarno bercerai di Pegangsaan Timur 56 disaksikan oleh Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur.<\/p>\n<p>Inggit Garnasih lahir pada 17 Februari 1888 di Kamasan, Banjaran, Bandung dan meninggal di\u00a0Bandung pada\u00a013 April\u00a01984\u00a0(96 tahun).<\/p>\n<p><strong>3. Fatmawati<\/strong><br \/>\nIbu Negara Pertama Republik Indonesia<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57802\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1037214.jpg\" alt=\"\" width=\"888\" height=\"1200\" \/><\/p>\n<p>Fatmawati yang bernama asli Fatimah adalah istri ketiga Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan ibunda dari Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Selain\u00a0menjadi Ibu Negara RI, Fatmawati juga berjasa dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945.<\/p>\n<p>Soekarno dan Fatmawati dikaruniai lima orang anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Sampai akhir hayatnya, Soekarno dan Fatmawati tidak pernah bercerai.\u00a0Fatmawati lahir di Bengkulu\u00a05 Februari 1923 dan meninggal pada 14 Mei 1980 di Jakarta.<\/p>\n<p><strong>4. Hartini<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57803\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1037217.jpg\" alt=\"\" width=\"459\" height=\"594\" \/><\/p>\n<p>Hartini mampu membuat Soekarno jatuh cinta pada pandangan pertama. Perannya di istana Bogor di era 1950-an sangat besar.<\/p>\n<p>Hartini, yang menjadi istri keempat Soekarno lahir di Ponorogo, Jawa Timur pada 20 September 1924 sebagai anak kedua dari lima bersaudara pasangan Osan Murawi dan Mairah. Ayahnya, Osan Murawi, adalah pegawai Departemen Kehutanan yang rutin berpindah kota.<\/p>\n<p>Hartini menamatkan SD di Malang dan diangkat anak oleh keluarga Oesman di Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan di Nijverheidsschool Bandung dan menamatkan SMP serta SMU di Bandung.<\/p>\n<p>Hartini remaja dikenal cantik. Hartini muda menikah dengan Soewondo dan menetap di\u00a0Salatiga, Jawa Tengah. Ia menjadi janda pada usia 28 tahun dengan lima orang anak. Tahun\u00a01952\u00a0di Salatiga, Hartini berkenalan dengan Soekarno. Saat itu Soekarno, dalam perjalanan ke\u00a0Yogyakarta meresmikan\u00a0Masjid Syuhada. Melihat kecantikan Hartini, Soekarno langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.<\/p>\n<p>Setahun kemudian, pada 1953 Hartini dan Soekarno bertemu saat peresmian Teater Terbuka Ramayana\u00a0di\u00a0Candi Prambanan. Melalui seorang teman, Soekarno mengirimkan sepucuk surat kepada Hartini dengan nama samaran Srihana. Dua hari setelah\u00a0Guruh Soekarno Putra\u00a0lahir, pada 15 Januari\u00a01953, Soekarno meminta izin kepada Fatmawati untuk menikahi Hartini.<\/p>\n<p>Soekarno dan Hartini menikah di\u00a0Istana Cipanas pada\u00a07 Juli\u00a01953. Tahun 1954 Hartini pindah ke salah satu paviliun di Istana Bogor. Hartini ikut mendampingi acara kenegaraan Soekarno di Istana Bogor, antara lain menemui Ho Chi Minh, Norodom Sihanouk, Akihito dan Michiko.<\/p>\n<p>Pada masa 1950-an, peran Hartini di Istana Bogor sangat besar. Dia menjadi satu-satunya istri yang paling lama bisa bertemu Soekarno. Namun meskipun demikian, Soekarno masih menikahi Ratna Sari Dewi. Hartini lahir di Ponorogo 20 September 1924 dan meninggal 12 Maret 2002. Dari Hartini lahir Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra.<\/p>\n<p><strong>5. Kartini Manoppo<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57804\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042212.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"946\" \/><\/p>\n<p>Kartini Manopo adalah istri ke-5 Soekarno, merupakan wanita asal\u00a0Bolaang Mongondow,\u00a0Sulawesi. Dia terlahir dari keluarga terhormat dan pernah bekerja sebagai\u00a0pramugari\u00a0Garuda Indonesia.<\/p>\n<p>Soekarno dan Kartini Manoppo pertama kali bertemu saat menyaksikan pagelaran seni lukis karya Basuki Abdullah. Ketika itu, Kartini menjadi model potret lukisan Basuki Abdullah. Sejak saat itu, Kartini Manoppo tak pernah absen setiap Soekarno ke luar negeri. Soekarno dan Kartini Manoppo menikah pada 1959 dan dikaruniai anak bernama Totok Suryawan Soekarnoputra pada\u00a01967.<\/p>\n<p>Kartini Manoppo wafat di Jakarta pada 14 April 1990 dan dimakamkan di pemakaman umum di Kelurahan Kotobangun, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kota Kotamobagu.<\/p>\n<p><strong>6. Ratna Sari Dewi<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57813\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042459.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"1008\" \/><\/p>\n<p>Ratna Sari Dewi bernama asli Naoko Nemoto lahir di Tokyo, Jepang pada 6 Februari 1940 adalah istri ke-6 Soekarno. Setelah menikah Soekarno memberinya Ratna Sari Dewi merupakan nama pemberian Soekarno setelah mereka menikah.<\/p>\n<p>Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seorang relasi saat berada di Hotel Imperial, Tokyo, saat Soekarno kunjungan kenegaraan ke Jepang. Naoko Nemoto berusia 19 tahun dan Soekarno telah berumur 57 tahun. Soekarno terpesona dengan wajah ayu Naoko Nemoto. Ia pun berkirim surat dengan Naoko ketika telah pulang ke Indonesia.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian, Soekarno mengundang Naoko ke Indonesia, hingga keduanya memutuskan menikah. Sebelum menjadi istri Sukarno, ia adalah seorang pelajar dan entertainer. Ada gosip dia telah bekerja sebagai geisha, namun ia telah berulang kali menyangkal tuduhan tersebut.<\/p>\n<p>Ratna Sari Dewi menikah dengan Soekarno pada 1962 saat itu umurnya 22 tahun. Dari pernikahan ini mereka memiliki anak, yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno dan cucu Frederik Kiran Soekarno.<\/p>\n<p>Setelah Soekarno meninggal, Ratna Sari Dewi Soekarno kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Prancis, dan Amerika Serikat. Pada 2008 ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang. Tinggal di sebuah tempat yang luas dengan bangunan empat lantai dan penuh dengan memorabilia.<\/p>\n<p><strong>7. Haryati<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57805\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042236.jpg\" alt=\"\" width=\"736\" height=\"926\" \/><\/p>\n<p>Haryati adalah istri ke-7 Soekarno yang lahir pada 24 Agustus 1940. Sebelum menikah dengan Soekarno, Haryati adalah seorang seniman tari yang bekerja sebagai staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Soekarno dan Haryati menikah pada Tanggal 21 Mei 1963. Keduanya dikaruniai anak bernama Ayu Gembirowati. Namun pada tahun 1966, Haryati diceraikan. Soekarno beralasan sudah tidak cocok. Saat itu Soekarno juga sedang dekat dengan Ratna Sari Dewi.<\/p>\n<p>Haryati merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, putri Kanjeng Pangeran Koesoemajoedho,\u00a0Bupati Ponorogo\u00a0Periode 1916\u20141926.<\/p>\n<p><strong>8. Yurike Sanger<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57808\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042344.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"589\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042344.jpg 800w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042344-80x60.jpg 80w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p>Yurike Sanger adalah istri ke-8 Soekarno, Pertama kali Presiden Soekarno bertemu dengan Yurike Sanger pada 1963. Kala itu Yurike masih yang masih berstatus pelajar menjadi salah satu anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika pada acara Kenegaraan.<\/p>\n<p>Pertemuan itu rupanya langsung menarik perhatian Sang Putera Fajar. Perhatian ekstra diberikan sang presiden kepada gadis muda itu, mulai dari diajak bicara sampai diantar pulang ke rumah. Rupanya, benih-benih cinta sudah mulai di antara keduanya. Akhirnya, Bung Karno menemui orang tua Yurike. Pada 6 Agustus 1964 mereka menikah secara Islam di rumah Yurike.<\/p>\n<p>Mengutip dari buku Trah Politik Sang Proklamator karya Radis Bastian, rumah tangga Yurike dan Soekarno hanya bertahan selama 4 tahun. Situasi yang tak menentu pasca pemakzulannya pada 1967, menyebabkan Bung Karno menjadi tahanan rumah di Wisma Yoso. Dia meminta pada Yurike untuk mengajukan cerai.<\/p>\n<p><strong>9. Heldy Djafar<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-57807\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042302.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"500\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042302.jpg 700w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1042302-180x130.jpg 180w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p>Heldy Dja&#8217;far adalah istri kesembilan Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Heldy Djafar lahir dari pasangan H. Djafar dan Hj. Hamiah. Ia bungsu dari sembilan bersaudara. Ia menikah dengan Soekarno pada tahun 1966. Kala itu Soekarno berusia 65 tahun sementara Heldy Djafar berusia 18 tahun.<\/p>\n<p>Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu. Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yoso. Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan dan hanya ingin dipisahkan oleh maut.<\/p>\n<p>Akhirnya, pada\u00a019 Juni\u00a01968, Heldy yang berusia 21 tahun menikah lagi dengan\u00a0Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari\u00a0Kerajaan Banjar. Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Soekarno wafat. Soekarno tutup usia pada 21 Juni\u00a01970, dalam usia 69 tahun. Belakangan, satu dari enam orang anaknya, Maya Firanti Noor, menikah dengan\u00a0Ari Sigit, cucu Presiden RI Suharto.<\/p>\n<p>Selain 9 istri Soekarno yang telah disebutkan, ada dua sosok lain yang kerap disebut sebagai pendamping sang pendiri RI. Namun tidak banyak informasi yang bisa diperoleh terkait sosok Maharani Wisma Susana Siregar dan Sakiko Kanase.<\/p>\n<p>Dari pernikahannya, Presiden Soekarno dikaruniai 9 orang anak dan 2 anak angkat. Bukan hanya romantisme, semua istrinya memiliki peran masing-masing dalam perjalanan hidup Bung Karno memimpin bangsa ini sejak 1945 hingga 1966. [*]<\/p>\n<p>Editor: Anton Kurniawan<br \/>\n(<em>Dirangkum dari berbagai sumber<\/em>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LAMPUNGBAROMETER.ID &#8211; Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dikenal flamboyan dan kharismatik dengan\u00a0\u00a0pesona luar biasa, sehingga banyak perempuan jatuh cinta. Soekarno yang memiliki nama lahir sebagai Koesno Sosrodihardjo, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Dalam hidupnya, Singa Podium yang sangat disegani kawan dan lawan ini tercatat memiliki 9 istri, di antaranya ada yang usianya terpaut jauh, dinikahi Soekarno yang sudah menjabat Presiden ketika sang istri masih berusia belasan. Inilah istri-istri Soekarno, Sang Proklamator, Presiden Pertama Republik Indonesia: 1. Siti Oetari Tjokroaminoto Siti Oetari adalah perempuan pertama dalam hidup Soekarno. Perempuan yang merupakan putri sulung dari HOS (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto, pahlawan nasional yang dijuluki \u201cGuru Bangsa\u201d, tokoh pergerakan nasional yang mendidik banyak pemimpin besar, di antaranya Soekarno, Kartosuwiryo, Alimin, dan Musso. Kala itu, Soekarno yang sedang menempuh pendidikan Hogere Burger School (HBS), Surabaya, indekos di rumah HOS Cokro Aminoto sekaligus merupakan murid Hos Tjokroaminoto. Mereka jatuh cinta ketika usia Soekarno 18 tahun, sedangkan Oetari empat tahun lebih muda. Kisah cinta mereka berlanjut sampai mahligai pernikahan dua tahun setelahnya (1921). Atas usulan adik Tjokroaminoto, Soekarno yang berumur 20 menikahi Oetari yang saat itu berusia 16 tahun. Pernikahan mereka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":57810,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1196,28,31],"tags":[],"class_list":["post-57797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ragam","category-sudahkah-anda-tahu","category-tokoh-inspirasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57797"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57797\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57814,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57797\/revisions\/57814"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57810"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}