{"id":57658,"date":"2026-07-12T21:52:27","date_gmt":"2026-07-12T14:52:27","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=57658"},"modified":"2026-07-12T21:52:27","modified_gmt":"2026-07-12T14:52:27","slug":"dwp-uin-ril-dorong-budaya-gizi-seimbang-tekan-risiko-diabetes-dan-hipertensi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/07\/12\/dwp-uin-ril-dorong-budaya-gizi-seimbang-tekan-risiko-diabetes-dan-hipertensi\/","title":{"rendered":"DWP UIN RIL Dorong Budaya Gizi Seimbang, Tekan Risiko Diabetes dan Hipertensi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Dharma Wanita Persatuan (DWP) <a href=\"https:\/\/www.radenintan.ac.id\">Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL)<\/a> mengintensifkan edukasi pola hidup sehat melalui penyuluhan \u201cGizi Seimbang Cegah Diabetes Melitus dan Hipertensi bagi Keluarga Akademisi <a href=\"https:\/\/www.radenintan.ac.id\">UIN Raden Intan Lampung<\/a>\u201d.<\/p>\n<p>Kegiatan ini dibuka Ketua DWP <a href=\"https:\/\/www.radenintan.ac.id\">UIN RIL<\/a>, Maftuchah Wan Jamaluddin, yang diwakili Rahmawati Andi Thahir, dan dilaksanakan di Ruang Meeting Lantai 1 Gedung Academic &amp; Research Center UIN RIL, Kamis (9\/7\/2026), dengan menghadirkan narasumber ahli gizi RSUD Abdoel Moeloek Provinsi Lampung, Andi Kamaliah Azir, SKM., M.Kes.<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Rahmawati mengapresiasi Bidang Sosial Budaya DWP <a href=\"https:\/\/www.radenintan.ac.id\">UIN RIL<\/a> yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen DWP <a href=\"https:\/\/www.radenintan.ac.id\">UIN RIL<\/a> dalam meningkatkan kualitas anggotanya, khususnya dalam menjaga pemenuhan gizi seimbang di lingkungan keluarga. Kegiatan ini juga menjadi sarana menambah wawasan mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat,&#8221; ucap Rahmawati.<\/p>\n<div id=\"attachment_57659\" style=\"width: 1090px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-57659\" class=\"wp-image-57659 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/1005243.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"720\" \/><p id=\"caption-attachment-57659\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PENYULUHAN<\/strong>. DWP UIN Raden Intan Lampung menggelar penyuluhan tentang pentingnya menjaga keseimbangan gizi untuk mencegah diabetes mellitus. (Foto: Ist)<\/em><\/p><\/div>\n<p>Sementara itu, dalam pemaparannya, Andi Kamaliah Azir menjelaskan konsep Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak lagi digunakan sebagai pedoman gizi.<\/p>\n<p>Menurutnya, anggapan susu merupakan penyempurna makanan dapat menimbulkan pemahaman yang kurang tepat, seolah-olah konsumsi susu menjadi keharusan untuk memenuhi kebutuhan gizi, padahal kebutuhan zat gizi dapat dipenuhi tanpa susu, terutama bagi individu yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi susu.<\/p>\n<p>Selain itu, konsep tersebut juga dinilai belum memberikan perhatian yang cukup terhadap pentingnya asupan serat dari sayur, buah, dan biji-bijian utuh yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan serta menurunkan risiko penyakit kronis.<\/p>\n<p>\u201cGizi seimbang merupakan susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Penerapan gizi seimbang penting untuk mencegah masalah gizi, menjaga daya tahan tubuh, serta mendukung produktivitas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut, Andi Kamaliah juga menyampaikan faktor risiko yang menyebabkan kalangan akademisi rentan mengalami penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes melitus (DM) dan hipertensi.\u00a0Kondisi tersebut, ucapnya, dipengaruhi oleh gaya hidup yang kurang aktif, tingkat stres, jam makan yang tidak teratur, serta kebiasaan mengonsumsi berbagai jenis camilan.<\/p>\n<p>Ia mengingatkan pentingnya mengikuti panduan Kementerian Kesehatan mengenai pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), yakni gula maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari, garam maksimal 1 sendok teh atau 5 gram per hari, serta lemak maksimal 5 sendok makan atau 67 gram per hari.<\/p>\n<p>&#8220;Kita juga harus cermat memperhatikan kandungan gula tersembunyi pada berbagai produk makanan dan minuman kemasan. Selain itu, aktivitas fisik sangat penting dalam menjaga kesehatan,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Andi menjelaskan penerapan gizi seimbang perlu diiringi kebiasaan bergerak dan tetap aktif sebagai upaya mencegah berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus dan hipertensi.<\/p>\n<p>&#8220;Dan jangan lupa lakukan deteksi dini dengan melakukan periksa rutin. PTM tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dicegah,\u201d pungkasnya. (ril)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) mengintensifkan edukasi pola hidup sehat melalui penyuluhan \u201cGizi Seimbang Cegah Diabetes Melitus dan Hipertensi bagi Keluarga Akademisi UIN Raden Intan Lampung\u201d. Kegiatan ini dibuka Ketua DWP UIN RIL, Maftuchah Wan Jamaluddin, yang diwakili Rahmawati Andi Thahir, dan dilaksanakan di Ruang Meeting Lantai 1 Gedung Academic &amp; Research Center UIN RIL, Kamis (9\/7\/2026), dengan menghadirkan narasumber ahli gizi RSUD Abdoel Moeloek Provinsi Lampung, Andi Kamaliah Azir, SKM., M.Kes. Dalam sambutannya, Rahmawati mengapresiasi Bidang Sosial Budaya DWP UIN RIL yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. &#8220;Penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen DWP UIN RIL dalam meningkatkan kualitas anggotanya, khususnya dalam menjaga pemenuhan gizi seimbang di lingkungan keluarga. Kegiatan ini juga menjadi sarana menambah wawasan mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat,&#8221; ucap Rahmawati. Sementara itu, dalam pemaparannya, Andi Kamaliah Azir menjelaskan konsep Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak lagi digunakan sebagai pedoman gizi. Menurutnya, anggapan susu merupakan penyempurna makanan dapat menimbulkan pemahaman yang kurang tepat, seolah-olah konsumsi susu menjadi keharusan untuk memenuhi kebutuhan gizi, padahal kebutuhan zat gizi dapat dipenuhi tanpa susu, terutama bagi individu yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi susu. Selain itu, konsep tersebut juga dinilai belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":57660,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,11,1232],"tags":[],"class_list":["post-57658","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan","category-pendidikan","category-uin-raden-intan-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57658"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57661,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57658\/revisions\/57661"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}