{"id":57311,"date":"2026-07-02T21:10:16","date_gmt":"2026-07-02T14:10:16","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=57311"},"modified":"2026-07-02T21:11:41","modified_gmt":"2026-07-02T14:11:41","slug":"nadiem-makarim-di-balik-bising-perkara-ada-kelas-yang-berubah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/07\/02\/nadiem-makarim-di-balik-bising-perkara-ada-kelas-yang-berubah\/","title":{"rendered":"Nadiem Makarim, di Balik Bising Perkara Ada Kelas yang Berubah"},"content":{"rendered":"<p><em>Oleh: Aan Frimadona Roza*<\/em><\/p>\n<p>SEBAGAI guru di sekolah negeri yang berada jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, saya belajar bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang sempurna. Sejarah sering kali ditulis mereka yang berani memulai perubahan meski di kemudian hari harus menghadapi kritik, bahkan persoalan hukum.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari ini nama Nadiem Makarim menjadi sorotan. Proses hukum yang sedang berjalan tentu harus dihormati dan diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Di negara hukum, setiap orang berhak mendapatkan proses yang adil dan asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung. Namun, di luar persoalan itu, ada satu hal yang menurut saya juga layak dicatat: jejak kebijakan pendidikannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebagai guru, saya bukan Guru Penggerak. Saya hanya guru biasa di UPT SMPN 7 Banjit yang setiap hari berhadapan dengan ruang kelas, buku, dan anak-anak yang memiliki mimpi. Dari ruang sederhana itu, saya merasakan beberapa perubahan yang nyata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pertama adalah penyederhanaan RPP. Mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi banyak guru, kebijakan ini mengurangi beban administrasi yang selama bertahun-tahun menyita waktu. Guru memiliki ruang lebih banyak untuk memikirkan bagaimana mengajar, bukan sekadar bagaimana membuat dokumen.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kedua adalah penghapusan Ujian Nasional. Kebijakan ini mengubah cara pandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur hanya dengan satu ujian. Penilaian mulai bergeser pada proses belajar, literasi, numerasi, dan pembentukan karakter.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketiga adalah percepatan digitalisasi pendidikan. Ketika pandemi COVID-19 memaksa sekolah ditutup, dunia pendidikan dipaksa melompat. Memang banyak kekurangan, terutama di daerah yang akses internetnya terbatas. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa pada masa itulah transformasi digital mulai dipercepat. Guru belajar menggunakan platform digital, siswa mulai mengenal pembelajaran daring, dan sekolah perlahan memasuki cara belajar yang berbeda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tidak semua berjalan mulus. Banyak kritik yang patut menjadi bahan evaluasi. Masih ada ketimpangan fasilitas, kesiapan guru, hingga implementasi yang belum merata. Kritik itu sah dan penting, tetapi sebuah perubahan besar memang jarang lahir tanpa gesekan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut saya, Nadiem adalah sosok yang mendorong dunia pendidikan untuk lebih siap menghadapi zaman digital. Pandemi dan masa pascapandemi menjadi momentum yang memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada cara-cara lama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menghargai sebuah gagasan bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Mendukung proses hukum juga bukan berarti menghapus seluruh jejak pengabdian seseorang. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Karena itu, di tengah riuhnya berbagai pemberitaan, saya memilih melihat pendidikan secara lebih utuh. Apa yang baik patut diapresiasi, apa yang keliru harus diperbaiki melalui mekanisme hukum yang berlaku.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Barangkali kelak sejarah akan mencatat bahwa ada seorang menteri yang datang membawa banyak ide, meninggalkan banyak perdebatan, tetapi juga memulai langkah-langkah penting menuju pendidikan yang lebih adaptif terhadap era digital. Dan jejak itu, saya percaya, tidak akan ikut terseret oleh debu zaman. []<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p><em><strong>* AAN FRIMADONA ROZA, <\/strong>anggota PGRI Way Kanan dan Guru UPT SMPN 7 Banjit.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Aan Frimadona Roza* SEBAGAI guru di sekolah negeri yang berada jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, saya belajar bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang sempurna. Sejarah sering kali ditulis mereka yang berani memulai perubahan meski di kemudian hari harus menghadapi kritik, bahkan persoalan hukum. &nbsp; Hari ini nama Nadiem Makarim menjadi sorotan. Proses hukum yang sedang berjalan tentu harus dihormati dan diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Di negara hukum, setiap orang berhak mendapatkan proses yang adil dan asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung. Namun, di luar persoalan itu, ada satu hal yang menurut saya juga layak dicatat: jejak kebijakan pendidikannya. &nbsp; Sebagai guru, saya bukan Guru Penggerak. Saya hanya guru biasa di UPT SMPN 7 Banjit yang setiap hari berhadapan dengan ruang kelas, buku, dan anak-anak yang memiliki mimpi. Dari ruang sederhana itu, saya merasakan beberapa perubahan yang nyata. &nbsp; Pertama adalah penyederhanaan RPP. Mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi banyak guru, kebijakan ini mengurangi beban administrasi yang selama bertahun-tahun menyita waktu. Guru memiliki ruang lebih banyak untuk memikirkan bagaimana mengajar, bukan sekadar bagaimana membuat dokumen. &nbsp; Kedua adalah penghapusan Ujian Nasional. Kebijakan ini mengubah cara pandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur hanya dengan satu ujian. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":57313,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-57311","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dan-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57311","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57311"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57311\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57315,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57311\/revisions\/57315"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57313"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57311"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57311"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57311"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}