{"id":57262,"date":"2026-06-29T14:58:43","date_gmt":"2026-06-29T07:58:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=57262"},"modified":"2026-06-29T14:58:43","modified_gmt":"2026-06-29T07:58:43","slug":"dari-cetakan-resin-ke-ruang-publik-nareswari-siapkan-anak-difabel-berdiri-mandiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/06\/29\/dari-cetakan-resin-ke-ruang-publik-nareswari-siapkan-anak-difabel-berdiri-mandiri\/","title":{"rendered":"Dari Cetakan Resin ke Ruang Publik: Nareswari Siapkan Anak Difabel Berdiri Mandiri"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jawa Timur (LB)<\/strong>: Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar pelatihan membuat topeng malangan bagi 15 anak berkebutuhan khusus di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (27\/6\/2026).<\/p>\n<p>Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kemandirian anak difabel. Oleh sebab itu, yang menjadi ukuran dalam kegiatan ini bukan karya yang selesai di hari itu yang menjadi ukurannya. Namun, yang menjadi ukuran adalah apakah kelak anak-anak ini bisa membuat topeng sendiri di rumah, dan menjualnya.<\/p>\n<p>Sebanyak 15 peserta dalam kegiatan ini merupakan anak dengan kebutuhan khusus; down syndrome dan tunagrahita. Dari 15 peserta tersebut, 11 berasal dari Sanggar Nareswari dan empat dari Kelurahan Bumi Ayu. Mereka didampingi orang tua masing-masing mengikuti kegiatan dengan antusias selama tiga jam, belajar menuangkan resin ke dalam cetakan topeng malangan dengan bimbingan pelatih, Ndaru Lazarus.<\/p>\n<p>Panitia pelaksana kegiatan, Brelliane Semesta Pratiwi, mengatakan para peserta dikenalkan dengan membangun metode dari dasar: pengenalan bentuk topeng yang bertahap, prosedur resin yang aman, dan pendampingan orang tua sebagai jembatan instruksi. Menurut Ndaru, setiap langkah dipikirkan agar bisa diulang di sanggar, di rumah, dan di mana pun.<\/p>\n<div id=\"attachment_57263\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-57263\" class=\"wp-image-57263 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/915644.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"795\" \/><p id=\"caption-attachment-57263\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>FOTO BERSAMA<\/strong>. Anak-anak difabel peserta kegiatan pelatihan pembuatan topeng Malangan foto bersama. (Foto: ist)<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u201cKami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah,\u201d ujar Brelliane.<\/p>\n<p>Brelliane yang juga mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, mengatakan hasil karya peserta akan dipamerkan di Hotel Mercure, Pasar Seni Bareng, dan Taman Krida Budaya Jawa Timur.<\/p>\n<p><strong>Tiga Fase Menuju Festival<\/strong><\/p>\n<p>Brelliane mengatakan program ini dibangun dalam tiga fase yang saling menopang. Fase pertama, pelatihan Batik Sampur Ramah Difabel yang telah selesai dilaksanakan pada Mei 2026. Fase kedua, yakni membuat topeng yang dilaksanakan saat ini. Fase ketiga, adalah mewarnai topeng, yang dijadwalkan Juli 2026.<\/p>\n<p>Ketiga fase ini bermuara pada Festival Sendratasik Topeng Malangan yang akan diselenggarakan pada 1 Agustus 2026. Rencananya akan diisi dengan parade tari, pertunjukan seni drama tari musik, dan bazar UMKM sebagai ruang pertama karya mereka bertemu publik.<\/p>\n<p>Program ini terwujud berkat Dana Abadi Kebudayaan 2025 untuk kategori dukungan institusional lembaga kebudayaan, serta didukung Kementerian Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, LPDP, dan Dana Indonesiaraya.<\/p>\n<p>Sanggar Budaya Anak Nareswari yang berdiri sejak 2017 kini menaungi 50 anggota aktif dan berkolaborasi dengan 27 lembaga pendamping ABK se-Malang Raya.<\/p>\n<p>Brelliane menegaskan keterbatasan verbal bukan penghalang berkarya. Seni, ujarnya, adalah ruang berekspresi yang paling jujur dan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, ia juga bisa menjadi ruang ekonomi yang nyata.<\/p>\n<p>Topeng malangan, yang lahir dari tradisi panjang Malang, kini menjadi alat ekspresi sekaligus alat untuk berdiri di atas kaki sendiri.<\/p>\n<p>Daftar peserta kegiatan<br \/>\nDari Sanggar Nareswari: Jesika Ramadhani Sakka, Muhammad Faza Aulia Rahadiyanto, Jordy Arnold Emanuelle Permadi Eoh, Aryasatya Andy Pratama, Agam Baharuddin Syaputra, Dzaky Althaf Wijaya, Aldhi Kurniawan, Dwi Nur Alif Setyawan, Jonathan Heber Bravo, Aline Kirana Salma Asheva, dan Marcel Putra Pamungkas.<\/p>\n<p>Dari Kelurahan Bumiayu: Choirul Rozikin, Intan Ade Reza, Dyan Afriananda Sutopo, dan Pungky Chandra Dwi Fransisca. (Waja)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jawa Timur (LB): Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar pelatihan membuat topeng malangan bagi 15 anak berkebutuhan khusus di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (27\/6\/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kemandirian anak difabel. Oleh sebab itu, yang menjadi ukuran dalam kegiatan ini bukan karya yang selesai di hari itu yang menjadi ukurannya. Namun, yang menjadi ukuran adalah apakah kelak anak-anak ini bisa membuat topeng sendiri di rumah, dan menjualnya. Sebanyak 15 peserta dalam kegiatan ini merupakan anak dengan kebutuhan khusus; down syndrome dan tunagrahita. Dari 15 peserta tersebut, 11 berasal dari Sanggar Nareswari dan empat dari Kelurahan Bumi Ayu. Mereka didampingi orang tua masing-masing mengikuti kegiatan dengan antusias selama tiga jam, belajar menuangkan resin ke dalam cetakan topeng malangan dengan bimbingan pelatih, Ndaru Lazarus. Panitia pelaksana kegiatan, Brelliane Semesta Pratiwi, mengatakan para peserta dikenalkan dengan membangun metode dari dasar: pengenalan bentuk topeng yang bertahap, prosedur resin yang aman, dan pendampingan orang tua sebagai jembatan instruksi. Menurut Ndaru, setiap langkah dipikirkan agar bisa diulang di sanggar, di rumah, dan di mana pun. \u201cKami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah,\u201d ujar Brelliane. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":57264,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1226,406,1196],"tags":[],"class_list":["post-57262","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-jatim","category-nasional","category-barometer-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57262","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57262"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57262\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57265,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57262\/revisions\/57265"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57264"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57262"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57262"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57262"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}