{"id":56878,"date":"2026-06-02T13:28:11","date_gmt":"2026-06-02T06:28:11","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56878"},"modified":"2026-06-02T13:28:11","modified_gmt":"2026-06-02T06:28:11","slug":"50-perupa-lampung-siap-ramaikan-pameran-seni-rupa-per-empu-an","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/06\/02\/50-perupa-lampung-siap-ramaikan-pameran-seni-rupa-per-empu-an\/","title":{"rendered":"50 Perupa Lampung Siap Ramaikan Pameran Seni Rupa &#8216;Per-Empu-An&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Komunitas Biroe (Kombir) akan menggelar pameran seni rupa bertajuk \u201cPer-Empu-An\u201d di Taman Budaya Lampung pada 4 Juni 2026. Pameran tahunan tersebut akan menghadirkan sekitar 50 perupa dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga seniman umum, dengan menampilkan karya fotografi, lukisan, dan instalasi.<\/p>\n<p>Pameran yang direncanakan dibuka Sekretaris Yayasan Dharma Jaya, Dr. Ir. H. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc. ini memilih Tema \u201cPer-Empu-An\u201d sebagai ruang refleksi mengenai peran, pengalaman, dan eksistensi perempuan dalam kehidupan sosial maupun dunia seni rupa. Melalui karya yang dipamerkan, para seniman berupaya mengangkat beragam perspektif tentang perempuan, mulai dari aktivitas keseharian, pengalaman batin, hingga perjalanan spiritual.<\/p>\n<p>Ketua Panitia Penyelenggara, Bayu Putra Ramadhani, mengatakan sebagian besar karya dalam pameran ini dihasilkan perupa perempuan yang mengekspresikan pengalaman hidup mereka sebagai ibu rumah tangga, pekerja profesional, maupun pelaku seni. Berbagai pengalaman personal, endapan emosi, serta refleksi atas posisi perempuan dalam masyarakat diterjemahkan ke dalam beragam medium seni visual.<\/p>\n<p>Menurut Bayu, perempuan masih kerap ditempatkan sebagai objek dalam representasi seni. Keberadaan perempuan sebagai subjek pencipta karya seni, ucapnya, belum selalu mendapatkan ruang yang setara.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang lahirnya pameran &#8216;Per-Empu-An&#8217;,&#8221; ucap Bayu.<\/p>\n<p>Pameran ini juga mengangkat isu kesetaraan gender dan mengajak publik meninjau kembali berbagai konstruksi sosial yang selama ini melekat pada perempuan. Melalui karya-karya yang dipamerkan, para perupa menawarkan pembacaan baru mengenai perempuan sebagai individu yang memiliki kreativitas, daya cipta, dan kebebasan berekspresi.<\/p>\n<p>Setiap karya menjadi representasi pengalaman, gagasan, dan refleksi yang lahir dari proses kreatif para seniman dalam mengamati kehidupan sehari-hari serta dinamika sosial di lingkungan mereka. Dalam konteks tersebut, seni rupa menjadi medium untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan, kesetaraan, dan penghargaan terhadap pengalaman perempuan.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Bayu mengatakan pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga membuka dialog publik mengenai posisi perempuan dalam kehidupan budaya dan seni kontemporer.<\/p>\n<p>&#8220;Selain menghadirkan karya-karya visual, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran perempuan sebagai subjek kreatif yang turut membentuk perkembangan seni rupa di Lampung,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Dia juga mengungkapkan Pameran \u201cPer-Empu-An\u201d ini terbuka untuk masyarakat umum dan diharapkan menjadi momentum penting bagi perkembangan seni rupa Lampung, sekaligus memperluas apresiasi terhadap karya-karya perempuan di Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Melalui pameran ini, Komunitas Biroe berupaya menghadirkan ruang perjumpaan antara seni, refleksi sosial, dan semangat kesetaraan yang terus relevan dalam kehidupan masyarakat masa kini,&#8221; pungkasnya. (Christian Saputro)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Komunitas Biroe (Kombir) akan menggelar pameran seni rupa bertajuk \u201cPer-Empu-An\u201d di Taman Budaya Lampung pada 4 Juni 2026. Pameran tahunan tersebut akan menghadirkan sekitar 50 perupa dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga seniman umum, dengan menampilkan karya fotografi, lukisan, dan instalasi. Pameran yang direncanakan dibuka Sekretaris Yayasan Dharma Jaya, Dr. Ir. H. Firmansyah Y. Alfian, MBA., M.Sc. ini memilih Tema \u201cPer-Empu-An\u201d sebagai ruang refleksi mengenai peran, pengalaman, dan eksistensi perempuan dalam kehidupan sosial maupun dunia seni rupa. Melalui karya yang dipamerkan, para seniman berupaya mengangkat beragam perspektif tentang perempuan, mulai dari aktivitas keseharian, pengalaman batin, hingga perjalanan spiritual. Ketua Panitia Penyelenggara, Bayu Putra Ramadhani, mengatakan sebagian besar karya dalam pameran ini dihasilkan perupa perempuan yang mengekspresikan pengalaman hidup mereka sebagai ibu rumah tangga, pekerja profesional, maupun pelaku seni. Berbagai pengalaman personal, endapan emosi, serta refleksi atas posisi perempuan dalam masyarakat diterjemahkan ke dalam beragam medium seni visual. Menurut Bayu, perempuan masih kerap ditempatkan sebagai objek dalam representasi seni. Keberadaan perempuan sebagai subjek pencipta karya seni, ucapnya, belum selalu mendapatkan ruang yang setara. &#8220;Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang lahirnya pameran &#8216;Per-Empu-An&#8217;,&#8221; ucap Bayu. Pameran ini juga mengangkat isu kesetaraan gender dan mengajak publik meninjau kembali berbagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-56878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56878"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56880,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56878\/revisions\/56880"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}