{"id":56872,"date":"2026-06-01T19:47:00","date_gmt":"2026-06-01T12:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56872"},"modified":"2026-06-01T19:47:00","modified_gmt":"2026-06-01T12:47:00","slug":"pemprov-lampung-upacara-hari-pancasila-pangdam-xxi-radin-inten-jadi-inspektur-upacara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/06\/01\/pemprov-lampung-upacara-hari-pancasila-pangdam-xxi-radin-inten-jadi-inspektur-upacara\/","title":{"rendered":"Pemprov Lampung Upacara Hari Pancasila, Pangdam XXI\/Radin Inten Jadi Inspektur Upacara"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Pemerintah Provinsi Lampung menggelar Upacara Hari Lahir Pancasila dengan Inspektur Upacara Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI\/Radin Inten, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Senin (1\/6\/2026).<\/p>\n<p>Upacara diikuti Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dan unsur Forkopimda.<\/p>\n<p>Membacakan sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Mayor Jenderal Kristomei menyampaikan peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan tema Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, yakni \u201cPancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia\u201d, menegaskan nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi landasan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u201cPancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnis dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, Pancasila juga menjadi jangkar moral bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik internasional.<\/p>\n<p>Ia menegaskan Indonesia bukan sekadar penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.<\/p>\n<p>\u201cPancasila menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut merupakan instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menyampaikan Indonesia terus menunjukkan kepemimpinan nyata di tingkat global melalui kontribusi pasukan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih mengalami penjajahan.<\/p>\n<p>\u201cPerdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, tetapi hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut, Kristomei juga mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology) dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Pangdam mengingatkan agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi simbol atau teks dalam buku sejarah, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata.<\/p>\n<p>Ia berpesan agar setiap kebijakan publik yang diambil senantiasa berlandaskan keadilan sosial, menjamin hak-hak masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan, serta tidak membiarkan ada warga yang merasa terpinggirkan.<\/p>\n<p>Selain itu, ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat mengganggu harmoni kehidupan berbangsa.<\/p>\n<p>\u201cMari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan. Mari tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi nilai religiusitas, persatuan, dan kemanusiaan. Selama darah Indonesia masih mengalir dalam tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi anak bangsa,\u201d pungkasnya. (pim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Pemerintah Provinsi Lampung menggelar Upacara Hari Lahir Pancasila dengan Inspektur Upacara Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI\/Radin Inten, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Senin (1\/6\/2026). Upacara diikuti Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dan unsur Forkopimda. Membacakan sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Mayor Jenderal Kristomei menyampaikan peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menjelaskan tema Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, yakni \u201cPancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia\u201d, menegaskan nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi landasan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan. \u201cPancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnis dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,\u201d ujarnya. Menurutnya, Pancasila juga menjadi jangkar moral bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik internasional. Ia menegaskan Indonesia bukan sekadar penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56873,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[346],"tags":[],"class_list":["post-56872","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-korem-043-garuda-hitam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56872","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56872"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56872\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56874,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56872\/revisions\/56874"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56873"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}