{"id":56848,"date":"2026-05-30T10:28:29","date_gmt":"2026-05-30T03:28:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56848"},"modified":"2026-05-30T10:28:29","modified_gmt":"2026-05-30T03:28:29","slug":"balai-bahasa-lampung-gandeng-dosen-uin-ril-untuk-penguatan-program-bahasa-indonesia-bagi-penutur-asing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/05\/30\/balai-bahasa-lampung-gandeng-dosen-uin-ril-untuk-penguatan-program-bahasa-indonesia-bagi-penutur-asing\/","title":{"rendered":"Balai Bahasa Lampung Gandeng Dosen UIN RIL Untuk Penguatan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pringsewu (LB)<\/strong>: Kontribusi dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) dalam penguatan internasionalisasi kampus kembali ditunjukkan melalui pengembangan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).<\/p>\n<p>Dosen UIN RIL, Istiqomah Nur Rahmawati, M.Pd., dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelayanan Profesional terhadap Lembaga Penyelenggara Program BIPA: Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Pengajar BIPA di Kabupaten Pringsewu.<\/p>\n<p>Kegiatan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Lampung tersebut berlangsung pada Senin-Selasa, 25-26 Mei 2026, di Hotel Regency Pringsewu. Hadir dosen serta guru dari kampus dan sekolah di Pringsewu, juga Duta Bahasa Provinsi Lampung.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan itu, Istiqomah menyampaikan materi bertajuk Penyelenggaraan Program BIPA di Perguruan Tinggi\/Universitas. Materi tersebut membahas pentingnya pengelolaan program BIPA secara terstruktur, terdokumentasi, dan berkelanjutan agar mampu mendukung layanan akademik bagi pembelajar asing sekaligus memperkuat reputasi perguruan tinggi di tingkat internasional.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, BIPA di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai kelas pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya, kehidupan kampus, hingga nilai-nilai keindonesiaan kepada mahasiswa dan tamu internasional.<\/p>\n<p>\u201cBIPA dapat menjadi salah satu pintu masuk internasionalisasi kampus karena di dalamnya tidak hanya ada tata bahasa dan kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga pengalaman lintas budaya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Melalui program BIPA, pembelajar asing juga diperkenalkan pada budaya lokal Lampung, moderasi beragama, serta kehidupan sehari-hari di Indonesia. Karena itu, BIPA dinilai menjadi kombinasi antara layanan akademik, diplomasi bahasa dan budaya, serta pengalaman belajar yang lebih menyeluruh bagi peserta internasional.<\/p>\n<p>Dalam paparannya, Istiqomah juga menekankan penyelenggaraan BIPA di perguruan tinggi idealnya melibatkan banyak unsur di lingkungan kampus, mulai dari Pusat Bahasa, International Office, fakultas, program studi, dosen atau pengajar BIPA, mahasiswa lokal, hingga mitra internasional.<\/p>\n<p>Menurutnya, kolaborasi lintas unit tersebut penting agar program BIPA tidak berdiri hanya sebagai kelas bahasa, tetapi menjadi bagian dari ekosistem akademik dan internasionalisasi kampus secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Selain itu, program BIPA juga perlu disusun berdasarkan kebutuhan pemelajar. Mahasiswa internasional, dosen asing, peneliti, maupun peserta program pendek memiliki kebutuhan belajar yang berbeda sehingga materi, metode pembelajaran, level, hingga asesmen perlu dirancang secara fleksibel dan relevan.<\/p>\n<p>Salah satu kekuatan BIPA UIN RIL, lanjutnya, adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan bahasa dengan konteks kampus, budaya Lampung, dan kehidupan Indonesia.<\/p>\n<p>Pembelajar tidak hanya belajar bahasa Indonesia di ruang kelas, tetapi juga diajak mengenal budaya Lampung, berinteraksi dengan mahasiswa lokal, memahami lingkungan kampus, hingga menggunakan bahasa Indonesia secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Ke depan, penguatan BIPA di UIN RIL diarahkan untuk berkembang dari program kursus menjadi pusat pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia yang berdaya saing internasional.<\/p>\n<p>Roadmap penguatan tersebut mencakup standarisasi SOP, silabus, rubrik, dan modul inti, implementasi kelas reguler, short course, serta <em>immersion program<\/em>, pengembangan kelas daring dan kemitraan internasional, hingga penguatan reputasi melalui publikasi dan sertifikasi.<\/p>\n<p>Kepercayaan Balai Bahasa Provinsi Lampung kepada dosen UIN RIL sebagai narasumber dalam kegiatan ini menjadi salah satu bukti peran aktif kampus dalam pengembangan BIPA di Provinsi Lampung. (uin)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pringsewu (LB): Kontribusi dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) dalam penguatan internasionalisasi kampus kembali ditunjukkan melalui pengembangan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Dosen UIN RIL, Istiqomah Nur Rahmawati, M.Pd., dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelayanan Profesional terhadap Lembaga Penyelenggara Program BIPA: Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Pengajar BIPA di Kabupaten Pringsewu. Kegiatan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Lampung tersebut berlangsung pada Senin-Selasa, 25-26 Mei 2026, di Hotel Regency Pringsewu. Hadir dosen serta guru dari kampus dan sekolah di Pringsewu, juga Duta Bahasa Provinsi Lampung. Dalam kegiatan itu, Istiqomah menyampaikan materi bertajuk Penyelenggaraan Program BIPA di Perguruan Tinggi\/Universitas. Materi tersebut membahas pentingnya pengelolaan program BIPA secara terstruktur, terdokumentasi, dan berkelanjutan agar mampu mendukung layanan akademik bagi pembelajar asing sekaligus memperkuat reputasi perguruan tinggi di tingkat internasional. Ia menjelaskan, BIPA di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai kelas pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya, kehidupan kampus, hingga nilai-nilai keindonesiaan kepada mahasiswa dan tamu internasional. \u201cBIPA dapat menjadi salah satu pintu masuk internasionalisasi kampus karena di dalamnya tidak hanya ada tata bahasa dan kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga pengalaman lintas budaya,\u201d ujarnya. Melalui program BIPA, pembelajar asing juga diperkenalkan pada budaya lokal Lampung, moderasi beragama, serta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1245,11,249],"tags":[],"class_list":["post-56848","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-balai-bahasa","category-pendidikan","category-barometer-pringsewu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56848","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56848"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56848\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56850,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56848\/revisions\/56850"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}