{"id":56746,"date":"2026-05-23T19:16:43","date_gmt":"2026-05-23T12:16:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56746"},"modified":"2026-05-23T19:16:43","modified_gmt":"2026-05-23T12:16:43","slug":"gubernur-hadiri-penyerahan-hadiah-juara-lomba-cawo-bubalah-lampung-hardiknas-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/05\/23\/gubernur-hadiri-penyerahan-hadiah-juara-lomba-cawo-bubalah-lampung-hardiknas-2026\/","title":{"rendered":"Gubernur Hadiri Penyerahan Hadiah Juara Lomba &#8216;Cawo Bubalah Lampung&#8217; Hardiknas 2026"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri acara \u201cCawo Bubalah Lampung\u201d dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Gedung Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (22\/5\/2026).<\/p>\n<p>Gubernur menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya dan identitas daerah.<\/p>\n<p>\u201cPendidikan bukan hanya soal belajar di sekolah, nilai rapor, atau mengejar prestasi akademik saja. Pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak kita mengenal budaya, mencintai daerah, dan menjaga jati diri Lampung,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh langkah yang dilakukan saat ini, baik dalam sektor ekonomi, industri, pariwisata, infrastruktur, maupun pendidikan.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan budaya merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Lampung. Falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, dinilai menjadi kekuatan yang menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat.<\/p>\n<p>Mirza juga menekankan nilai Piil Pesenggiri sering disalahartikan sebagai sikap keras, padahal maknanya adalah menjaga martabat, memiliki rasa malu, dan semangat saling menolong antarsesama.<\/p>\n<p>Ia menilai budaya Lampung selama ini berhasil menjadi perekat sosial, termasuk dalam keberhasilan program transmigrasi di daerah tersebut. Menurut Gubernur, keterbukaan masyarakat Lampung membuat hubungan antarsuku dan agama tetap harmonis.<\/p>\n<p>Gubernur mengungkapkan masyarakat asli Lampung saat ini hanya sekitar 13 persen dari total 9,5 juta penduduk. Namun, ia menilai seluruh masyarakat yang tinggal dan mencintai Lampung merupakan bagian dari identitas Lampung itu sendiri.<\/p>\n<p>\u201cNilai-nilai budaya inilah yang harus kita pertahankan hingga ratusan tahun ke depan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti dampak perkembangan teknologi dan media sosial terhadap perubahan karakter generasi muda. Karena itu, peran keluarga dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai budaya kepada anak-anak.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak hanya beberapa jam berada di sekolah, selebihnya bersama keluarga. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai budaya Lampung,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain sebagai identitas daerah, jelas Gubernur, budaya juga dinilai memiliki potensi ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Berbagai kekayaan budaya Lampung seperti seruit, kain tapis, siger, dan tarian tradisional sebagai daya tarik wisata unggulan.<\/p>\n<p>Mirza juga mengapresiasi organisasi masyarakat dan komunitas budaya yang aktif melestarikan adat Lampung, termasuk Mighrul Lampung Bersatu (MLB).<\/p>\n<p>Ia berharap gerakan pelestarian budaya dapat terus berkembang hingga tingkat kecamatan agar bahasa, adat istiadat, dan kesenian Lampung tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.<\/p>\n<p>\u201cMari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai pengingat bahwa anak-anak Lampung harus maju dalam pendidikan dan pemikirannya, tetapi tidak melupakan akar budayanya,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ketua Umum DPP Mighrul Lampung Bersatu Dwita Ria Gunadi menyampaikan kegiatan ini merupakan wujud kepedulian perempuan Lampung terhadap kelestarian bahasa daerah. Menurutnya, semangat kebangkitan nasional harus relevan dengan upaya menjaga akar budaya agar tidak hilang ditelan zaman.<\/p>\n<p>&#8220;Kebangkitan saat ini dimulai dari kesadaran bahwa identitas, ilmu pengetahuan, dan budaya adalah kekuatan utama bangsa. Melalui Lomba Cawo Bubalah dan kursus daring bahasa Lampung, kita sedang menjaga identitas generasi muda,&#8221; ujar Dwita Ria.<\/p>\n<p>Dwita Ria menjelaskan rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur Nomor 4 Tahun 2025 mengenai program &#8220;Kamis Beradat&#8221;. Ia berharap kebijakan tersebut tidak hanya menjadi simbol seremonial, melainkan menjadi budaya yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.<\/p>\n<p>Berikut daftar pemenang Lomba Video Bubalah Bahasa Lampung Tahun 2026.<\/p>\n<p>Kategori DPP\/DPD Mighrul Lampung Bersatu<\/p>\n<ul>\n<li>Juara 1: DPP Bidang Seni dan Olahraga<\/li>\n<li>Juara 2: DPD Kota Metro<\/li>\n<li>Juara 3: DPP Bidang Pendidikan<\/li>\n<li>Harapan 1: DPD Kabupaten Tulang Bawang<\/li>\n<li>Harapan 2: DPD Kabupaten Lampung Barat<\/li>\n<li>Harapan 3: DPD Kabupaten Way Kanan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kategori Umum<\/p>\n<ul>\n<li>Juara 1: Tim Inti asal Kota Bandar Lampung<\/li>\n<li>Juara 2: Anisa Tri Oktavia dan kawan-kawan asal Kota Bandar Lampung<\/li>\n<li>Juara 3: Mutia dan kawan-kawan asal Kabupaten Tulang Bawang<\/li>\n<\/ul>\n<p>Juara Favorit<\/p>\n<ul>\n<li>Tim Nyenyok asal Kabupaten Way Kanan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penghargaan Khusus<\/p>\n<ul>\n<li>Penghargaan Karya Motivasi Terbaik: Tim Jejamo Production asal Kota Bandar Lampung. (pim)<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri acara \u201cCawo Bubalah Lampung\u201d dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Gedung Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (22\/5\/2026). Gubernur menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya dan identitas daerah. \u201cPendidikan bukan hanya soal belajar di sekolah, nilai rapor, atau mengejar prestasi akademik saja. Pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak kita mengenal budaya, mencintai daerah, dan menjaga jati diri Lampung,\u201d ujarnya. Menurutnya, pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh langkah yang dilakukan saat ini, baik dalam sektor ekonomi, industri, pariwisata, infrastruktur, maupun pendidikan. Ia menjelaskan budaya merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat Lampung. Falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, dinilai menjadi kekuatan yang menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. Mirza juga menekankan nilai Piil Pesenggiri sering disalahartikan sebagai sikap keras, padahal maknanya adalah menjaga martabat, memiliki rasa malu, dan semangat saling menolong antarsesama. Ia menilai budaya Lampung selama ini berhasil menjadi perekat sosial, termasuk dalam keberhasilan program transmigrasi di daerah tersebut. Menurut Gubernur, keterbukaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56747,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,8,15],"tags":[],"class_list":["post-56746","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","category-pemprov-lampung","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56746","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56746"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56746\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56748,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56746\/revisions\/56748"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}