{"id":56634,"date":"2026-05-21T07:04:43","date_gmt":"2026-05-21T00:04:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56634"},"modified":"2026-05-21T07:04:43","modified_gmt":"2026-05-21T00:04:43","slug":"gubernur-ingatkan-pejabat-administrator-harus-kreatif-dan-inovatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/05\/21\/gubernur-ingatkan-pejabat-administrator-harus-kreatif-dan-inovatif\/","title":{"rendered":"Gubernur Ingatkan Pejabat Administrator Harus Kreatif dan Inovatif"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lampung Selatan (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membuka Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026 di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Lampung, Lampung Selatan, Rabu (20\/5\/2026).<\/p>\n<p>Pada kesempatan itu, Gubernur Mirza menegaskan pejabat administrator di lingkungan pemerintah provinsi, kabupaten\/kota se-Lampung, serta instansi vertikal harus mampu bertransformasi menjadi arsitek kebijakan yang kreatif dan inovatif.<\/p>\n<p>Menurutnya, peran strategis tersebut diperlukan agar kekayaan komoditas unggulan Lampung dapat dikonversi menjadi kemakmuran dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam arahannya, Mirza mengingatkan esensi utama kehadiran Pemerintah adalah mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.<\/p>\n<p>Ia mengatakan Lampung merupakan daerah yang kaya komoditas pertanian. Provinsi ini menempati peringkat keenam nasional untuk produksi padi dan jagung, peringkat pertama untuk ubi kayu dan nanas, serta peringkat kedua untuk kopi dan lada.<\/p>\n<p>\u201cLampung ini kaya komoditas; padi, jagung, ubi kayu, hingga kopi kita unggul di tingkat nasional. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana regulasi yang kita buat mampu mengonversi kekayaan alam ini menjadi kemakmuran nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,\u201d ujar Gubernur Mirza.<\/p>\n<p>Selanjutnya dia juga menyoroti tantangan ekonomi makro di Lampung, dengan angka kemiskinan periode 2024\u20132025 masih berada di kisaran 10,6 persen, mayoritas kantong kemiskinan berada di pedesaan yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian.<\/p>\n<p>Selain kesejahteraan petani, jelasnya, Pemerintah juga dinilai perlu melakukan intervensi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini melalui pemenuhan nutrisi protein, seperti ayam, telur, dan ikan yang melimpah di Lampung. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan indeks pendidikan dan tingkat kecerdasan anak-anak Lampung.<\/p>\n<p>Terkait pengelolaan keuangan daerah, Gubernur menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah menerapkan prinsip efisiensi secara ketat. Setiap belanja daerah, kata dia, harus memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cUbah pola pikir kita. Hindari belanja anggaran yang tidak efektif atau sekadar seremonial. Di Lampung, jika kita membelanjakan satu rupiah APBD maka kemanfaatan ekonomi yang dirasakan masyarakat minimal harus bernilai lima rupiah,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sebagai stimulus bagi sektor riil, gubernur mencontohkan program penyaluran pupuk organik cair (POC) gratis yang ditargetkan menjangkau 1 juta hektare lahan pertanian pada 2025\u20132026.<\/p>\n<p>Dengan alokasi anggaran sekitar Rp150 miliar, program tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas lahan, daya beli petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga 6,2\u20136,4 persen.<\/p>\n<p>Menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah daerah juga akan memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan mandiri sektor-sektor strategis sesuai amanat Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945. Sektor yang dimaksud antara lain pelabuhan perikanan, pabrik pakan, hingga sumber energi.<\/p>\n<p>Gubernur juga menegaskan keberhasilan transformasi ekonomi, sosial, dan birokrasi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia aparatur.<\/p>\n<p>\u201cIbarat kendaraan, sebagus apa pun mobilnya tidak akan sampai tujuan jika sopirnya tidak tahu arah jalan. Jajaran pejabat administrator hari ini adalah motor penggerak yang akan menentukan arah dan mengantarkan Lampung menuju gerbang Indonesia Emas 2045,\u201d pungkasnya. (pim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampung Selatan (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal membuka Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026 di Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Lampung, Lampung Selatan, Rabu (20\/5\/2026). Pada kesempatan itu, Gubernur Mirza menegaskan pejabat administrator di lingkungan pemerintah provinsi, kabupaten\/kota se-Lampung, serta instansi vertikal harus mampu bertransformasi menjadi arsitek kebijakan yang kreatif dan inovatif. Menurutnya, peran strategis tersebut diperlukan agar kekayaan komoditas unggulan Lampung dapat dikonversi menjadi kemakmuran dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat. Dalam arahannya, Mirza mengingatkan esensi utama kehadiran Pemerintah adalah mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia mengatakan Lampung merupakan daerah yang kaya komoditas pertanian. Provinsi ini menempati peringkat keenam nasional untuk produksi padi dan jagung, peringkat pertama untuk ubi kayu dan nanas, serta peringkat kedua untuk kopi dan lada. \u201cLampung ini kaya komoditas; padi, jagung, ubi kayu, hingga kopi kita unggul di tingkat nasional. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana regulasi yang kita buat mampu mengonversi kekayaan alam ini menjadi kemakmuran nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,\u201d ujar Gubernur Mirza. Selanjutnya dia juga menyoroti tantangan ekonomi makro di Lampung, dengan angka kemiskinan periode 2024\u20132025 masih berada di kisaran 10,6 persen, mayoritas kantong kemiskinan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[27,8],"tags":[],"class_list":["post-56634","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-layanan-masyarakat","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56634","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56634"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56634\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56636,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56634\/revisions\/56636"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56634"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}