{"id":56622,"date":"2026-05-20T14:47:11","date_gmt":"2026-05-20T07:47:11","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=56622"},"modified":"2026-05-20T14:47:11","modified_gmt":"2026-05-20T07:47:11","slug":"ruang-dalam-garis-hidupkan-semangat-kolektif-perupa-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/05\/20\/ruang-dalam-garis-hidupkan-semangat-kolektif-perupa-lampung\/","title":{"rendered":"&#8216;Ruang Dalam Garis&#8217; Hidupkan Semangat Kolektif Perupa Lampung"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Di tengah arus efisiensi anggaran dan tantangan ruang berkesenian yang kian terbatas, para perupa Lampung justru menunjukkan energi kolektif yang kuat melalui pameran drawing bertajuk \u201cRuang Dalam Garis\u201d yang resmi dibuka di Gedung Dewan Kesenian Lampung, Rabu (20\/5\/2026).<\/p>\n<p>Pameran yang menjadi bagian dari perayaan Bulan Menggambar Nasional itu dibuka langsung Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung, Prof. Dr. Satria Bangsawan, dan dihadiri Ketua Umum Akademi Lampung Ir. Anshori Djausal, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung.<\/p>\n<p>Sebanyak 45 perupa Lampung bersama satu seniman undangan dari Kalimantan Timur, Surya Dharma asal Balikpapan, ambil bagian dalam presentasi karya drawing yang lahir dari rangkaian kegiatan Art Camp. Karya-karya yang dipamerkan menampilkan beragam eksplorasi visual dengan garis sebagai medium utama pembentukan ruang artistik.<\/p>\n<p>Tidak sekadar menjadi ajang pameran karya, \u201cRuang Dalam Garis\u201d juga menghadirkan ruang pembelajaran bersama bagi para seniman. Melalui proses eksplorasi yang terarah, peserta diajak memahami garis bukan hanya sebagai elemen teknis menggambar, melainkan fondasi visual yang mampu membangun struktur, ritme, dan hubungan antarelemen dalam sebuah karya.<\/p>\n<div id=\"attachment_56623\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-56623\" class=\"wp-image-56623 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/650681.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"675\" \/><p id=\"caption-attachment-56623\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>RUANG DALAM GARIS.<\/strong> Ketua Akademi Lampung Anshori Djausal bersama Ketua DKL Satria Bangsawan didampingi panitia saat tour karya dalam pameran bertajuk Ruang dalam Garis di Gedung Pamer DKL Komplek Way Halim, Bandar Lampung, Rabu (20\/5\/2026). (Foto: Dok. Panitia)<\/em><\/p><\/div>\n<p>Kurator pameran menjelaskan drawing dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai praktik artistik yang berbasis proses. Menurutnya, ruang visual terbentuk melalui hubungan antar garis yang disusun secara bertahap dan terus berkembang selama proses eksplorasi berlangsung.<\/p>\n<p>\u201cGaris tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menggambar, tetapi sebagai sarana untuk menyusun struktur visual. Ruang yang dihasilkan merupakan hasil hubungan antar garis yang dibangun secara bertahap melalui proses eksplorasi berkelanjutan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selama kegiatan berlangsung, para peserta juga menjalani latihan teknis yang menitikberatkan pada variasi tekanan, arah, ketebalan, hingga ritme garis. Latihan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana kualitas garis mampu memengaruhi kedalaman ruang dan karakter visual sebuah karya.<\/p>\n<p>Satria Bangsawan menilai kegiatan tersebut sebagai momentum penting bagi gerakan kolektif seni rupa Indonesia, khususnya di Lampung. Ia menyebut keterlibatan berbagai komunitas seni dari sembilan zona nasional menunjukkan bahwa solidaritas antarperupa tetap tumbuh kuat.<\/p>\n<p>\u201cGerakan kolektif seperti ini membuktikan bahwa seni rupa memiliki kekuatan sosial yang mampu menyatukan banyak pihak. Kami sangat mengapresiasi presentasi karya drawing yang digelar di Gedung Dewan Kesenian Lampung ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hal senada disampaikan Ketua Umum Akademi Lampung, Anshori Djausal. Ia menilai semangat \u201crewangan\u201d atau gotong royong yang dibangun para perupa Lampung menjadi contoh penting bagaimana ekosistem seni tetap hidup di tengah keterbatasan.<\/p>\n<p>\u201cDi saat banyak sektor mengalami penyesuaian anggaran, para perupa tetap bergerak dengan konsep urunan dan kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak berhenti karena keterbatasan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Bulan Menggambar Nasional sendiri diperingati setiap Mei dan dirayakan secara serentak oleh komunitas seni rupa di seluruh Indonesia. Tahun ini, perayaan melibatkan sembilan zona wilayah, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Indonesia Timur, Bajadebotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan partisipasi sekitar 300 komunitas seni rupa dari berbagai daerah.<\/p>\n<p>Puncak perayaan nasional digelar di Galeri Katamsi ISI Yogyakarta pada 18 Mei 2026 dan dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam agenda tersebut, sembilan perupa Lampung turut ambil bagian sebagai representasi geliat seni rupa daerah di tingkat nasional.<\/p>\n<p>Melalui pameran \u201cRuang Dalam Garis\u201d, para seniman Lampung berharap Bulan Menggambar Nasional dapat terus berkembang menjadi agenda budaya tahunan berskala nasional yang memperkuat posisi seni rupa Indonesia di ruang publik sekaligus memperluas jejaring antarperupa di berbagai daerah. (Heru)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Di tengah arus efisiensi anggaran dan tantangan ruang berkesenian yang kian terbatas, para perupa Lampung justru menunjukkan energi kolektif yang kuat melalui pameran drawing bertajuk \u201cRuang Dalam Garis\u201d yang resmi dibuka di Gedung Dewan Kesenian Lampung, Rabu (20\/5\/2026). Pameran yang menjadi bagian dari perayaan Bulan Menggambar Nasional itu dibuka langsung Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung, Prof. Dr. Satria Bangsawan, dan dihadiri Ketua Umum Akademi Lampung Ir. Anshori Djausal, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung. Sebanyak 45 perupa Lampung bersama satu seniman undangan dari Kalimantan Timur, Surya Dharma asal Balikpapan, ambil bagian dalam presentasi karya drawing yang lahir dari rangkaian kegiatan Art Camp. Karya-karya yang dipamerkan menampilkan beragam eksplorasi visual dengan garis sebagai medium utama pembentukan ruang artistik. Tidak sekadar menjadi ajang pameran karya, \u201cRuang Dalam Garis\u201d juga menghadirkan ruang pembelajaran bersama bagi para seniman. Melalui proses eksplorasi yang terarah, peserta diajak memahami garis bukan hanya sebagai elemen teknis menggambar, melainkan fondasi visual yang mampu membangun struktur, ritme, dan hubungan antarelemen dalam sebuah karya. Kurator pameran menjelaskan drawing dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai praktik artistik yang berbasis proses. Menurutnya, ruang visual terbentuk melalui hubungan antar garis yang disusun secara bertahap dan terus berkembang selama proses eksplorasi berlangsung. \u201cGaris [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":56624,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,15],"tags":[],"class_list":["post-56622","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56622","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56622"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56622\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56625,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56622\/revisions\/56625"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56624"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56622"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56622"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56622"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}