{"id":55834,"date":"2026-04-12T16:18:45","date_gmt":"2026-04-12T09:18:45","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=55834"},"modified":"2026-04-12T16:18:45","modified_gmt":"2026-04-12T09:18:45","slug":"kunker-komisi-vi-dpr-ri-di-lampung-gubernur-tekankan-pemerataan-ekonomi-berbasis-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/04\/12\/kunker-komisi-vi-dpr-ri-di-lampung-gubernur-tekankan-pemerataan-ekonomi-berbasis-digital\/","title":{"rendered":"Kunker Komisi VI DPR RI di Lampung, Gubernur Tekankan Pemerataan Ekonomi Berbasis Digital"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB):<\/strong> Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, menekankan pentingnya pemerataan ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan melaui penguatan ekosistem digital.<\/p>\n<p>Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI terkait pengawasan Kinerja serta Dukungan Ekosistem Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, bertempat di Hotel Grand Mercure, Sabtu (11\/4\/2026).<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Gubernur memaparkan kondisi demografis Lampung sebagai provinsi dengan populasi tertinggi \u00a0kedua dipulau Sumatera. Namun Gubernur menyoroti adanya ketimpangan perputaran uang dimana 70% terkonstrentrasi di kota, sementara 30% di desa.<\/p>\n<p>\u201c Presiden kita memahami bahwa\u00a0 pemerataan ekonomi adalah kunci. Di Lampung, kita memiliki potensi besar di sector komunitas local. Sebagai contoh, ada sekitar 5.000 merek keripik singkong berbasis komunitas, namun seringkali pertumbuhannya terhambat karena\u00a0 masalah distribusi dan infrastruktur digital yang belum merata hingga kepelosok\u00b8\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Gubernur Juga mengapresiasi kebijakan strategis Pemerintah Pusat yang berdampak langsung \u00a0pada peningkatan pendapatan Petani di lampung. Ia menyebut bahwa program-program tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung mencapau 5,90% secara tahunan.<\/p>\n<p>\u201c Kedepan, Kami fokus pada dua program kerja utama. Pertama, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kecil di desa. Kedua, memastikan pemerataan konektivitas digital agar produk lokal desa bisa bersaing tanpa harus lari ke kota,\u201dtambahnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI selaku Ketua Tim Kunjungan Kerja, Nurdin Halim, menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memastikan BUMN, khususnya sector telekomunikasi hadir secara optimal untk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi di pusat dan di daerah. Transpormasi digital harus menjadi pondasi utama pembangunan ekonomi kita agar tidak ada wilayah yang tertinggal,\u201d Kata Nurdin.<\/p>\n<p>Senada dengan hal itu, Direktur Peningkatan Nilai PT. Telkom, Widia menyatakan komitmennya mendukung Visi Pemerintah Provinsi Lampung. Ia menjelaskan bahwa Telkom tengan fokus pada program desentralisasi sector public, termasuk penyediaan platform digital untuk sekolah-sekolah di wilayah terpencil serta pemberdayaan UMKM melalui infrastruktur ekonomi digital yang inklusif.<\/p>\n<p>Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto turut menambahkan bahwa sinergi antar-lembaga dan BUMN sangat krusial dalam mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Ia mencatat bahwa transformasi digital yang dilakukan BUMN seperti Telkom akan jadi motor penggerak industri \u00a0telekomunikasi yang berdampak pada peningkatan produktivitas daerah.<\/p>\n<p>Acara ini dihadiri oleh anggota Komisi VI DPR RI. Perwakilan manajemen BUMN serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung. Kegiatan di akhiri dengan diskusi terkait langkah strategis perluasan akses digital dari kota hingga ke desa untuk memperkuat ekonomi kerakyatan di Bumi Rua Jurai. (kmf)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, menekankan pentingnya pemerataan ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan melaui penguatan ekosistem digital. Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI terkait pengawasan Kinerja serta Dukungan Ekosistem Digital dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, bertempat di Hotel Grand Mercure, Sabtu (11\/4\/2026). Dalam sambutannya, Gubernur memaparkan kondisi demografis Lampung sebagai provinsi dengan populasi tertinggi \u00a0kedua dipulau Sumatera. Namun Gubernur menyoroti adanya ketimpangan perputaran uang dimana 70% terkonstrentrasi di kota, sementara 30% di desa. \u201c Presiden kita memahami bahwa\u00a0 pemerataan ekonomi adalah kunci. Di Lampung, kita memiliki potensi besar di sector komunitas local. Sebagai contoh, ada sekitar 5.000 merek keripik singkong berbasis komunitas, namun seringkali pertumbuhannya terhambat karena\u00a0 masalah distribusi dan infrastruktur digital yang belum merata hingga kepelosok\u00b8\u201d ujarnya. Gubernur Juga mengapresiasi kebijakan strategis Pemerintah Pusat yang berdampak langsung \u00a0pada peningkatan pendapatan Petani di lampung. Ia menyebut bahwa program-program tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung mencapau 5,90% secara tahunan. \u201c Kedepan, Kami fokus pada dua program kerja utama. Pertama, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kecil di desa. Kedua, memastikan pemerataan konektivitas digital agar produk lokal desa bisa bersaing tanpa harus lari ke kota,\u201dtambahnya. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55836,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-55834","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55834","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55834"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55834\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55837,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55834\/revisions\/55837"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55836"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55834"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55834"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55834"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}