{"id":55463,"date":"2026-03-28T11:31:44","date_gmt":"2026-03-28T04:31:44","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=55463"},"modified":"2026-03-28T11:45:13","modified_gmt":"2026-03-28T04:45:13","slug":"harga-gabah-di-mesuji-rp-6-600-per-kilogram-petani-semringah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/03\/28\/harga-gabah-di-mesuji-rp-6-600-per-kilogram-petani-semringah\/","title":{"rendered":"Harga Gabah di Mesuji Rp 6.600 Per Kilogram, Petani Semringah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Mesuji (LB)<\/strong>: Petani padi di Kabupaten Mesuji, Lampung semringah karena harga gabah stabil di atas Rp 6.000 per kilogram, ditambah lagi produksi hasil panen yang cukup baik.<\/p>\n<p>Kondisi ini membuat petani semangat dan merasa sangat terbantu oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan harga gabah Rp 6.500 per kilogram.<\/p>\n<p>Miko, salah satu petani di Kecamatan Mesuji Timur mengaku menanam padi di lahan seluas dua hektare. Meskipun dia mengatakan kualitas hasil panennya tidak maksimal, harga gabah yang tinggi membuatnya masih merasa untung.<\/p>\n<p>&#8220;Saya tanam padi dua hektare, tapi sayang panennya nggak rata karena sempat kemarau sehingga hasilnya kurang maksimal. Tapi alhamdulillah masih hasil,&#8221; ucapnya, Kamis (26\/3\/2026)<\/p>\n<p>&#8220;Kemarin saya kena harga Rp 6.600 per kilonya. Setelah dipotong ongkos bajak, bibit, perawatan, pupuk dan lain-lain, masih dapatlah sekitar 60-an juta,&#8221; ungkapnya bangga.<\/p>\n<p>Petani lainnya, Rudi mengungkapkan hal senada. Dia mengatakan menanam padi di lahan sawah seluas 3\/4 hektare dan baru akan dipanen sekitar sepekan lagi. Dia juga menyebut tanaman padi bagus.<\/p>\n<p>&#8220;Sekitar empat sampai lima hari lagi panen. Kalau liat sekilas, perkiraan masih dapatlah kalau 25 jutaan setelah dipotong biaya tanam dan lain-lain. Lumayan untuk masa tanam hanya empat bulan,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>&#8220;Sekarang harga gabah tinggi, sehingga para petani di sini semangat menanam padi. Kalau harga gabah terus stabil, kehidupan petani akan lebih baik,&#8221; pungkasnya. (ak)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mesuji (LB): Petani padi di Kabupaten Mesuji, Lampung semringah karena harga gabah stabil di atas Rp 6.000 per kilogram, ditambah lagi produksi hasil panen yang cukup baik. Kondisi ini membuat petani semangat dan merasa sangat terbantu oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan harga gabah Rp 6.500 per kilogram. Miko, salah satu petani di Kecamatan Mesuji Timur mengaku menanam padi di lahan seluas dua hektare. Meskipun dia mengatakan kualitas hasil panennya tidak maksimal, harga gabah yang tinggi membuatnya masih merasa untung. &#8220;Saya tanam padi dua hektare, tapi sayang panennya nggak rata karena sempat kemarau sehingga hasilnya kurang maksimal. Tapi alhamdulillah masih hasil,&#8221; ucapnya, Kamis (26\/3\/2026) &#8220;Kemarin saya kena harga Rp 6.600 per kilonya. Setelah dipotong ongkos bajak, bibit, perawatan, pupuk dan lain-lain, masih dapatlah sekitar 60-an juta,&#8221; ungkapnya bangga. Petani lainnya, Rudi mengungkapkan hal senada. Dia mengatakan menanam padi di lahan sawah seluas 3\/4 hektare dan baru akan dipanen sekitar sepekan lagi. Dia juga menyebut tanaman padi bagus. &#8220;Sekitar empat sampai lima hari lagi panen. Kalau liat sekilas, perkiraan masih dapatlah kalau 25 jutaan setelah dipotong biaya tanam dan lain-lain. Lumayan untuk masa tanam hanya empat bulan,&#8221; ucapnya. &#8220;Sekarang harga gabah tinggi, sehingga para petani di sini semangat menanam padi. Kalau harga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":55465,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[343,2],"tags":[],"class_list":["post-55463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-mesuji","category-pertanian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55463"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55463\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55470,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55463\/revisions\/55470"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}