{"id":55317,"date":"2026-03-15T14:33:09","date_gmt":"2026-03-15T07:33:09","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=55317"},"modified":"2026-03-15T14:33:09","modified_gmt":"2026-03-15T07:33:09","slug":"gubernur-lampung-dorong-pengusaha-muda-ambil-peran-strategis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/03\/15\/gubernur-lampung-dorong-pengusaha-muda-ambil-peran-strategis\/","title":{"rendered":"Gubernur Lampung Dorong Pengusaha Muda Ambil Peran Strategis"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengambil peran strategis dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas unggulan.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Gubernur saat menghadiri pertemuan bersama BPD Hipmi Provinsi Lampung di Bandar Lampung, Sabtu (14\/3\/2026).<\/p>\n<p>Gubernur Mirza menyampaikan kondisi ekonomi Lampung memiliki prospek yang baik sehingga momentum tersebut perlu dimanfaatkan oleh para pengusaha muda untuk menciptakan berbagai peluang baru.<\/p>\n<p>Menurutnya, salah satu kekuatan utama Hipmi adalah kemampuan para anggotanya untuk melihat potensi komoditas di daerah masing-masing dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah.<\/p>\n<p>\u201cSebagai Gubernur saya bisa melihat secara helicopter view, tetapi Hipmi adalah organisasi yang anggotanya tersebar di seluruh daerah sehingga bisa melihat potensi komoditas di wilayahnya masing-masing dan menjadikannya peluang usaha,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Gubernur Mirza menjelaskan di Provinsi Lampung masih terdapat potensi komoditas bernilai lebih Rp. 100 triliun yang belum diolah secara optimal melalui proses hilirisasi. Ia mencontohkan komoditas pisang yang dibeli dari petani dengan harga sekitar Rp. 7.000 per kilogram dapat meningkat nilainya hingga berkali lipat setelah diolah menjadi produk turunan seperti keripik pisang.<\/p>\n<p>\u201cKalau sudah diolah, nilainya bisa jauh meningkat. Artinya ada nilai tambah yang besar dari proses hilirisasi ini,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Gubernur Mirza berpendapat hilirisasi komoditas menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung hingga di atas delapan persen. Upaya tersebut tidak hanya membutuhkan ketersediaan komoditas, tapi juga kreativitas dan inovasi dari para pelaku usaha.<\/p>\n<p>Ia menilai Lampung memiliki keunggulan geografis karena dekat dengan pasar besar di Pulau Jawa yang menyumbang lebih dari 60 persen konsumsi nasional. Meskipun demikian, ia menyoroti masih banyak komoditas Lampung yang justru diolah di daerah lain sebelum kembali dipasarkan di Lampung, seperti kopi dan cokelat.<\/p>\n<p>\u201cYang membedakan sebenarnya bukan teknologinya, karena teknologinya sering kali sederhana. Yang paling penting adalah kreativitas dan inovasi para pengusaha,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ketua BPD Hipmi Provinsi Lampung Gilang Ramadhan menegaskan Hipmi terus berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyebut semangat kebersamaan dan persaudaraan menjadi fondasi utama dalam perjalanan organisasi.<\/p>\n<p>Menurutnya, berbagai peluang usaha yang ada, saat ini tengah dirumuskan oleh Hipmi untuk dikembangkan oleh para anggotanya. Selain itu, Hipmi Lampung juga terlibat dalam berbagai peluang kerja sama strategis, termasuk dukungan terhadap rencana pengembangan penerbangan internasional dari Lampung yang diharapkan dapat membuka akses perjalanan umrah langsung dari daerah tersebut.<\/p>\n<p>Gilang menambahkan, sinergi antara pemerintah daerah dan pengusaha muda menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang kuat di Lampung.<\/p>\n<p>\u201cKami berkomitmen membawa berbagai peluang dan insight yang diberikan pemerintah untuk dikembangkan bersama anggota Hipmi, sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian daerah,\u201d ujarnya. (pim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengambil peran strategis dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas unggulan. Hal itu disampaikan Gubernur saat menghadiri pertemuan bersama BPD Hipmi Provinsi Lampung di Bandar Lampung, Sabtu (14\/3\/2026). Gubernur Mirza menyampaikan kondisi ekonomi Lampung memiliki prospek yang baik sehingga momentum tersebut perlu dimanfaatkan oleh para pengusaha muda untuk menciptakan berbagai peluang baru. Menurutnya, salah satu kekuatan utama Hipmi adalah kemampuan para anggotanya untuk melihat potensi komoditas di daerah masing-masing dan mengembangkannya menjadi produk bernilai tambah. \u201cSebagai Gubernur saya bisa melihat secara helicopter view, tetapi Hipmi adalah organisasi yang anggotanya tersebar di seluruh daerah sehingga bisa melihat potensi komoditas di wilayahnya masing-masing dan menjadikannya peluang usaha,\u201d ujarnya. Gubernur Mirza menjelaskan di Provinsi Lampung masih terdapat potensi komoditas bernilai lebih Rp. 100 triliun yang belum diolah secara optimal melalui proses hilirisasi. Ia mencontohkan komoditas pisang yang dibeli dari petani dengan harga sekitar Rp. 7.000 per kilogram dapat meningkat nilainya hingga berkali lipat setelah diolah menjadi produk turunan seperti keripik pisang. \u201cKalau sudah diolah, nilainya bisa jauh meningkat. Artinya ada nilai tambah yang besar dari proses hilirisasi ini,\u201d jelasnya. Gubernur Mirza berpendapat hilirisasi komoditas menjadi kunci utama untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":55318,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-55317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55317"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55319,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55317\/revisions\/55319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}