{"id":55281,"date":"2026-03-14T14:49:20","date_gmt":"2026-03-14T07:49:20","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=55281"},"modified":"2026-03-14T14:49:20","modified_gmt":"2026-03-14T07:49:20","slug":"gagas-micropolis-uluan-nughik-bupati-tubaba-gandeng-investor-belanda-dan-pengusaha-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/03\/14\/gagas-micropolis-uluan-nughik-bupati-tubaba-gandeng-investor-belanda-dan-pengusaha-muda\/","title":{"rendered":"Gagas Micropolis Uluan Nughik, Bupati Tubaba Gandeng Investor Belanda dan Pengusaha Muda"},"content":{"rendered":"<p>TUBABA (LB): Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat terus mematangkan langkah besar dalam membangun kota masa depan. Bertempat di Rumah Baduy, Kompleks Uluan Nughik, Bupati Tubaba, Ir. Novriwan Jaya, S.P., menggelar diskusi strategis gagas Micropolis Uluan Nughik gandeng jajaran Pengusaha Muda nasional dan Investor asal Belanda, Jumat malam (13\/3\/2026).<\/p>\n<p>Pertemuan bertajuk \u201cPerjalanan Pulang ke Masa Depan\u201d ini menjadi momentum krusial bagi pengembangan konsep Micropolis Uluan Nughik. Sebuah visi pembangunan kota modern di daerah eks-transmigrasi yang mengedepankan keseimbangan ruang hidup dan ekologi.<\/p>\n<p>Diskusi ini dihadiri oleh deretan figur kreatif dan pengusaha muda, di antaranya Vella Siahaya dan Resa (Toko Kopi Tuku), Calvin (Wonderwhy Media), Kevin Anderson Hartanto (Panlapan Creatif), Ace Raden (Filmaker : Migunani Creative PH), Danny Wicaksono (Arsitek), serta Lulu Bong (Redwoods Digital \u2013 Industri Kreatif). Tak hanya itu, diskusi juga dilakukan secara daring (zoom) bersama mitra investor asal Belanda, Mr. Gijs Van Seggelen (CEO PT Hira Utama Group \u2013 Produsen CLT).<\/p>\n<p>Dalam sambutannya, Bupati Novriwan Jaya menegaskan bahwa pembangunan Micropolis bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ekosistem yang saling melengkapi dengan program prioritas daerah.<\/p>\n<p>\u201cSaya sangat mengapresiasi diskusi ini. Konsep Micropolis Uluan Nughik harus selaras dengan penguatan pendidikan karakter, ekonomi sirkular melalui bank sampah, hingga ketahanan pangan lokal,\u201d ujar Novriwan.<\/p>\n<p>Ia juga menyambut baik rencana kedatangan Gijs Van Seggelen ke Tubaba pada 20 April mendatang. \u201cMr. Gijs sangat antusias, terutama untuk pengembangan bisnis CLT-nya (Cross-Laminated Timber), yang sangat potensial untuk mendukung pengembangan Uluan Nughik,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Selain tata kota, Novriwan memaparkan kemajuan sektor kesehatan sebagai pilar pendukung kota baru. Tahun ini RSUD Tubaba memperoleh bantuan pengembangan gedung dari pemerintah pusat, serta penambahan fasilitas layanan kesehatan baru.<\/p>\n<p>\u201cRumah sakit kita akan memiliki spesialisasi layanan DSA (seperti metode Dokter Terawan). Dengan lokasi strategis di tengah Lampung dan akses tol, Tubaba akan menjadi magnet bagi pasien dari seluruh Sumatera. Namun, ini semua butuh kolaborasi karena efisiensi anggaran pemerintah saat ini sangat ketat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Mantan Bupati Tubaba, Umar Ahmad, yang turut hadir dalam diskusi tersebut, memberikan catatan mendalam mengenai filosofi pembangunan Uluan Nughik. Ia menekankan bahwa \u201cTubaba\u201d bukan lagi sekadar singkatan nama kabupaten, melainkan sebuah simbol masa depan yang ingin dituju.<\/p>\n<p>\u201cKita tidak menyebutnya sekadar kota, tapi ruang hidup di mana semua makhluk hidup selaras secara harmoni. Saya ingin para pengusaha segera \u2018menapak\u2019 di sini. Jangan hanya cuap-cuap, tapi harus terinternalisasi. Kita butuh penduduk pionir untuk menghidupkan idealisme ini,\u201d tegas Umar.<\/p>\n<p>Umar juga mengingatkan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk gesit menangkap peluang. \u201cWaktu besinya panas, itulah saatnya ditempa. Jangan tunggu dingin. Kalau kita konsisten, proyek idealisme ini akan menjadi kenyataan,\u201d pesannya.<\/p>\n<p>Lulu Bong, mewakili investor potensial, mengakui adanya skeptisisme dalam membangun kota baru di Indonesia. Namun, ia merasa ada frekuensi kebaikan yang kuat di Tubaba.<\/p>\n<p>\u201cKami datang dari Jawa dan melihat terlalu banyak masalah di sana. Membangun kota itu seperti mengumpulkan \u2018Avengers\u2019, harus bareng-bareng. Jika dimulai dari hal baik, hasilnya pasti baik. Kami berharap mimpi menuju masa depan ini bisa kita capai bersama,\u201d pungkas Lulu.<\/p>\n<p>Acara yang juga dihadiri Wakil Bupati Nadirsyah ini ditutup dengan komitmen bersama untuk segera melakukan pertemuan teknis lebih lanjut sebelum realisasi fisik pada bulan April mendatang. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TUBABA (LB): Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat terus mematangkan langkah besar dalam membangun kota masa depan. Bertempat di Rumah Baduy, Kompleks Uluan Nughik, Bupati Tubaba, Ir. Novriwan Jaya, S.P., menggelar diskusi strategis gagas Micropolis Uluan Nughik gandeng jajaran Pengusaha Muda nasional dan Investor asal Belanda, Jumat malam (13\/3\/2026). Pertemuan bertajuk \u201cPerjalanan Pulang ke Masa Depan\u201d ini menjadi momentum krusial bagi pengembangan konsep Micropolis Uluan Nughik. Sebuah visi pembangunan kota modern di daerah eks-transmigrasi yang mengedepankan keseimbangan ruang hidup dan ekologi. Diskusi ini dihadiri oleh deretan figur kreatif dan pengusaha muda, di antaranya Vella Siahaya dan Resa (Toko Kopi Tuku), Calvin (Wonderwhy Media), Kevin Anderson Hartanto (Panlapan Creatif), Ace Raden (Filmaker : Migunani Creative PH), Danny Wicaksono (Arsitek), serta Lulu Bong (Redwoods Digital \u2013 Industri Kreatif). Tak hanya itu, diskusi juga dilakukan secara daring (zoom) bersama mitra investor asal Belanda, Mr. Gijs Van Seggelen (CEO PT Hira Utama Group \u2013 Produsen CLT). Dalam sambutannya, Bupati Novriwan Jaya menegaskan bahwa pembangunan Micropolis bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ekosistem yang saling melengkapi dengan program prioritas daerah. \u201cSaya sangat mengapresiasi diskusi ini. Konsep Micropolis Uluan Nughik harus selaras dengan penguatan pendidikan karakter, ekonomi sirkular melalui bank sampah, hingga ketahanan pangan lokal,\u201d ujar Novriwan. Ia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55283,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[350],"tags":[],"class_list":["post-55281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-tubaba"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55281"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55284,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55281\/revisions\/55284"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55283"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}