{"id":54737,"date":"2026-02-14T07:15:43","date_gmt":"2026-02-14T00:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54737"},"modified":"2026-02-14T07:15:43","modified_gmt":"2026-02-14T00:15:43","slug":"kapan-awal-puasa-ramadan-2026-berikut-perkiraan-versi-pemerintah-brin-muhammadiyah-dan-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/02\/14\/kapan-awal-puasa-ramadan-2026-berikut-perkiraan-versi-pemerintah-brin-muhammadiyah-dan-nu\/","title":{"rendered":"\u200eKapan Awal Puasa Ramadan 2026? Berikut Perkiraan Versi Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan NU \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Bulan Suci Ramadhan adalah bulan spesial dan selalu dinantikan oleh umat muslim. Di bulan Ramadhan, umat muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Oleh karena itu, kepastian awal Ramadhan selalu dinantikan masyarakat muslim di Indonesia hal ini berkaitan dengan persiapan yang baik dalam menyambut bulan suci Ramadhan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMeskipun belum ada ketetapan resmi dari pemerintah, awal Ramadhan Tahun 2026 ini diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari. Beberapa prediksi yang berasal dari lembaga yang kompeten terkait bisa dijadikan sebagai acuan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerikut jadwal perkiraan puasa Ramadan 2026 versi pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.<br \/>\n\u200e<br \/>\n<strong>\u200eAwal Ramadan 2026 Versi Pemerintah<\/strong><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenanggalan 1 Ramadan 2026 secara resmi belum ditetapkan oleh pemerintah. Namun, jika merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, awal Ramadan diprediksi pada Kamis, 19 Februari 2026.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan informasi prakiraan hilal ketika matahari terbenam pada 17 dan 18 Februari 2026 sebagai dasar ilmiah penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima&#8217; adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,&#8221; tulis BMKG dalam laporannya, dikutip dari detikcom, Sabtu (14\/2\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut data hisab BMKG, hilal belum memenuhi kriteria untuk diamati pada 17 Februari 2026. Sementara pada 18 Februari 2026, posisi hilal telah berada di atas horizon dengan ketinggian, elongasi, umur Bulan, lag, dan fraksi iluminasi yang memadai.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePada 17 Februari 2026, ketinggian hilal di Indonesia masih berada di bawah horizon berkisar antara -2,41\u00b0 di Jayapura, Papua hingga -0,93\u00b0 di Tua Pejat, Sumatera Barat. Sementara itu pada 18 Februari 2026 ketinggian hilal sudah positif dan signifikan, yaitu 7,62\u00b0 di Merauke, Papua hingga 10,03\u00b0 di Sabang, Aceh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eElongasi atau jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan Matahari, pada 17 Februari 2026, elongasi berkisar antara 0,94\u00b0 di Banda Aceh hingga 1,89\u00b0 di Jayapura. Sementara pada 18 Februari 2026 elongasi meningkat menjadi 10,7\u00b0 di Jayapura hingga 12,21\u00b0 di Banda Aceh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eNilai elongasi pada 18 Februari 2026 telah memenuhi kriteria visibilitas hilal yang umum digunakan. Indonesia menggunakan standar atau kriteria yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura (MABIMS) dalam penentuan hilal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKriteria baru MABIMS mengatur imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n<strong>\u200eAwal Puasa Ramadan 2026 Versi BRIN<\/strong><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSama seperti prakiraan pemerintah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi puasa Ramadan 1447 H berlangsug pada Kamis, 19 Februari 2026.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKoordinator KR Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan terdapat potensi perbedaan awal puasa. Ia memprediksi pemerintah akan menetapkan 1 Ramadan ppada Kamis, 19 Februari 2026.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurutnya, akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447 yang disebabkan perbedaan &#8220;hilal lokal&#8221; dan &#8220;hilal global&#8221;. Dia menilai hilal lokal diprediksi tidak memenuhi kriteria hilal ketika diamati menjelang sidang isbat pada 17 Februari 2026.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kementerian Agama dan sebagian besar ormas Islam menggunakan kriteria &#8216;hilal lokal&#8217;, yang mensyaratkan posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia. Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal\/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,&#8221; jelasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenentuan awal Ramadan, ujarnya, bisa berbeda jika mengacu posisi hilal global. 1 Ramadan bisa ditetapkan pada 18 Februari apabila merujuk pada posisi hilal global, sama seperti yang dipakai Muhammadiyah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Muhammadiyah menggunakan &#8216;hilal global&#8217;, yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan. Pada 17 Februari posisi hilal\/bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026,&#8221; urai Thomas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n<strong>\u200eAwal Puasa Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah<\/strong><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e1 Ramadan 2026 versi Muhammadiyah telah ditetapkan secara resmi. Menurut Maklumat Nomor 2\/MLM\/1.0\/E\/2025, Ramadan 1447 H dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026 yang berarti satu hari lebih awal dari prediksi pemerintah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenetapan PP Muhammadiyah terkait awal Ramadan 1447 H itu mengacu pada hasil hisab haiki Majelis Tarjih dan Tajdid yang mengacu pada parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n<strong>\u200eAwal Puasa Ramadan 2026 Versi Nahdlatul Ulama<\/strong><br \/>\n<strong>\u200e<\/strong><br \/>\n\u200eNahdlatul Ulama belum menetapkan secara resmi kapan 1 Ramadan 2026, menunggu tim pemantauan hilal pada bulan Syaban. Namun, jika merujuk pada prediksi kalender NU, 1 Ramadan 1447 H berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026. (sumber: detikcom)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Bulan Suci Ramadhan adalah bulan spesial dan selalu dinantikan oleh umat muslim. Di bulan Ramadhan, umat muslim menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Oleh karena itu, kepastian awal Ramadhan selalu dinantikan masyarakat muslim di Indonesia hal ini berkaitan dengan persiapan yang baik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. \u200e \u200eMeskipun belum ada ketetapan resmi dari pemerintah, awal Ramadhan Tahun 2026 ini diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari. Beberapa prediksi yang berasal dari lembaga yang kompeten terkait bisa dijadikan sebagai acuan. \u200e \u200eBerikut jadwal perkiraan puasa Ramadan 2026 versi pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. \u200e \u200eAwal Ramadan 2026 Versi Pemerintah \u200e \u200ePenanggalan 1 Ramadan 2026 secara resmi belum ditetapkan oleh pemerintah. Namun, jika merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, awal Ramadan diprediksi pada Kamis, 19 Februari 2026. \u200e \u200eSementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan informasi prakiraan hilal ketika matahari terbenam pada 17 dan 18 Februari 2026 sebagai dasar ilmiah penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. \u200e \u200e&#8221;Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima&#8217; adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi,&#8221; tulis BMKG dalam laporannya, dikutip dari detikcom, Sabtu (14\/2\/2026). \u200e \u200eMenurut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54738,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406],"tags":[],"class_list":["post-54737","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54737","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54737"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54737\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54739,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54737\/revisions\/54739"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54738"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}