{"id":54706,"date":"2026-02-12T18:08:07","date_gmt":"2026-02-12T11:08:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54706"},"modified":"2026-02-12T18:08:07","modified_gmt":"2026-02-12T11:08:07","slug":"ayo-anak-muda-lampung-jepang-buka-800-ribu-loker-per-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/02\/12\/ayo-anak-muda-lampung-jepang-buka-800-ribu-loker-per-tahun\/","title":{"rendered":"Ayo Anak Muda Lampung! Jepang Buka 800 Ribu Loker Per Tahun"},"content":{"rendered":"<p data-pm-slice=\"1 1 []\"><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan Pemerintah Provinsi terus memperluas akses peluang kerja ke luar negeri bagi generasi muda. Hal itu disampaikan pada kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Sektor Konstruksi di Jepang bagi siswa SMA\/SMK se-Provinsi Lampung di SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12\/2\/2026).<\/p>\n<p>Gubernur mengatakan Jepang saat ini membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia. Ia menyebut, setiap tahun sekitar 800 ribu lapangan pekerjaan terbuka di Jepang dari berbagai bidang. Menurutnya, berdasarkan penilaian mitra Jepang, tenaga kerja Indonesia dinilai paling sesuai dari sisi budaya, karakter, serta kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi.<\/p>\n<p>\u201cBudaya yang paling cocok, sifat yang paling cocok yang bisa bekerja dan beradaptasi di Jepang adalah tenaga kerja dari Indonesia,\u201d ujar Gubernur.<\/p>\n<p>Gubernur juga mengungkapkan banyak alumni pekerja migran Indonesia di Jepang yang sukses setelah kembali ke Tanah Air; mereka tidak hanya memperoleh penghasilan yang baik, tapi juga pengalaman, teknologi, dan wawasan yang luas.<\/p>\n<p>Menurutnya, pengalaman bekerja di luar negeri menjadi investasi jangka panjang untuk membangun daerah.<\/p>\n<p>\u201cMereka sangat dihormati, mereka belajar, mereka dibayar dengan besar. Enam sampai tujuh tahun pulang, mereka bisa membuka usaha di Indonesia,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Gubernur menyampaikan Pemprov Lampung menargetkan pengiriman generasi muda terbaik, khususnya lulusan SMA\/SMK melalui program terstruktur. Saat ini tercatat sekitar 8.500 siswa SMA\/SMK di Lampung berminat bekerja dan belajar di Jepang.<\/p>\n<div id=\"attachment_54707\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-54707\" class=\"wp-image-54707 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/18144.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" \/><p id=\"caption-attachment-54707\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>SAPA<\/strong>. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sapa siswa SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12\/2\/2026).<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u201cYang kita kirim adalah generasi-generasi terbaik, orang-orang terbaik dengan semangat-semangat terbaik dari Provinsi Lampung,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dia berpesan agar para siswa yang berangkat ke Jepang sadar bahwa mereka bukan hanya mewakili diri dan keluarga, tapi juga Provinsi Lampung dan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, dia juga menekankan pentingnya menjaga nama baik daerah dan bangsa dengan menunjukkan karakter positif bangsa Indonesia seperti ramah, disiplin, dan semangat bekerja.<\/p>\n<p>\u201cJadikan diri kalian contoh bahwa negara kita punya SDM yang unggul yang siap ditempatkan di mana saja,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Selain itu, Gubernur juga memastikan Pemprov Lampung akan terus memonitor dan mendampingi perkembangan para siswa yang bekerja di Jepang agar mereka dapat bekerja dengan baik dan kembali ke tanah air dengan selamat.<\/p>\n<p>Sementara itu, Director General of the Cabinet Secretariat Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) Jepang, Hirashima Masafumi, menyampaikan sektor konstruksi Jepang menghadapi tantangan penuaan tenaga kerja.<\/p>\n<p>Menurutnya, saat ini sekitar 5.000 pekerja konstruksi asal Indonesia telah bekerja dengan baik di Jepang. Hirashima menjelaskan pemerintah Jepang menargetkan penerimaan sekitar 80.000 tenaga kerja asing hingga Maret 2029 melalui skema Specified Skilled Worker (SSW).<\/p>\n<p>\u201cSektor konstruksi adalah salah satu bidang dengan gaji tertinggi di antara pekerja berketerampilan khusus,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pemerintah Jepang, lanjutnya, juga menerapkan standar khusus dalam penerimaan tenaga kerja asing, termasuk sistem kuota, pengupahan bulanan yang sesuai, serta sistem pengembangan karier konstruksi. Selain itu, Jepang terus meningkatkan lingkungan kerja melalui teknologi otomatisasi dan digitalisasi i-Construction 2.0.<\/p>\n<p>\u201cKami akan terus mempertahankan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan mempunyai rasa kebanggaan bagi para pekerja tenaga asing,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Perwakilan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Apri Danar Prabowo menegaskan kerja sama ketenagakerjaan Indonesia-Jepang telah berlangsung lama dan kini semakin kuat melalui skema government to government.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan Jepang menjadi negara tujuan nomor satu masyarakat Indonesia yang berminat bekerja di luar negeri, disusul Jerman.<\/p>\n<p>\u201cYang minat kerja luar negeri nomor satu Jepang, nomor dua Jerman,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Apri menekankan dua fokus utama sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, yakni optimalisasi pelindungan pekerja migran dan peningkatan kompetensi. Selanjutnya, dia mengapresiasi program kelas migran yang digagas Pemprov Lampung dan menyebutnya sebagai model yang ingin direplikasi di daerah lain.<\/p>\n<p>Menurutnya, kesiapan bekerja di Jepang tidak hanya soal bahasa, tetapi juga kompetensi teknis, sertifikasi keahlian, soft skill, disiplin, pemahaman budaya kerja, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).<\/p>\n<p>\u201cBekerja ke luar negeri itu investasi. Ilmunya bisa diimplementasikan di tanah air dan memberikan dampak positif bagi industri di Lampung,\u201d pungkasnya. (pim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan Pemerintah Provinsi terus memperluas akses peluang kerja ke luar negeri bagi generasi muda. Hal itu disampaikan pada kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Sektor Konstruksi di Jepang bagi siswa SMA\/SMK se-Provinsi Lampung di SMAN 2 Bandar Lampung, Kamis (12\/2\/2026). Gubernur mengatakan Jepang saat ini membuka peluang besar bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia. Ia menyebut, setiap tahun sekitar 800 ribu lapangan pekerjaan terbuka di Jepang dari berbagai bidang. Menurutnya, berdasarkan penilaian mitra Jepang, tenaga kerja Indonesia dinilai paling sesuai dari sisi budaya, karakter, serta kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi. \u201cBudaya yang paling cocok, sifat yang paling cocok yang bisa bekerja dan beradaptasi di Jepang adalah tenaga kerja dari Indonesia,\u201d ujar Gubernur. Gubernur juga mengungkapkan banyak alumni pekerja migran Indonesia di Jepang yang sukses setelah kembali ke Tanah Air; mereka tidak hanya memperoleh penghasilan yang baik, tapi juga pengalaman, teknologi, dan wawasan yang luas. Menurutnya, pengalaman bekerja di luar negeri menjadi investasi jangka panjang untuk membangun daerah. \u201cMereka sangat dihormati, mereka belajar, mereka dibayar dengan besar. Enam sampai tujuh tahun pulang, mereka bisa membuka usaha di Indonesia,\u201d ungkapnya. Gubernur menyampaikan Pemprov Lampung menargetkan pengiriman generasi muda terbaik, khususnya lulusan SMA\/SMK melalui program terstruktur. Saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54708,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[351,11],"tags":[],"class_list":["post-54706","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-internasional","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54706"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54706\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54709,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54706\/revisions\/54709"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54708"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}