{"id":54463,"date":"2026-01-28T22:33:57","date_gmt":"2026-01-28T15:33:57","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54463"},"modified":"2026-01-28T22:33:57","modified_gmt":"2026-01-28T15:33:57","slug":"menteri-abdul-muti-soal-tka-tidak-disusun-sembarangan-ada-pertimbangan-psikologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/01\/28\/menteri-abdul-muti-soal-tka-tidak-disusun-sembarangan-ada-pertimbangan-psikologis\/","title":{"rendered":"\u200eMenteri Abdul Mu&#8217;ti: Soal TKA Tidak Disusun Sembarangan, Ada Pertimbangan Psikologis \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Soal-soal tes kemampuan akademik (TKA) tidak disusun sembarangan, terdapat pertimbangan psikologis di balik setiap butir soal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal itu diungkap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu&#8217;ti saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Persiapan Pelaksanaan TKA Jenjang SD\/MI\/sederajat dan Jenjang SMP\/MTS\/sederajat Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (27\/1\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut Mu&#8217;ti, soal TKA umumnya dirancang dengan tingkat kesulitan bertahap. Soal pertama, kata dia, sengaja dibuat relatif lebih mudah agar peserta dapat membangun kepercayaan diri sejak awal ujian.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau soal pertama langsung dibuat susah, bisa-bisa waktunya habis hanya di soal itu,&#8221; ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMu&#8217;ti menjelaskan sebagian besar peserta ujian masih memiliki kebiasaan mengerjakan soal secara berurutan, dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Pola ini, menurutnya, jarang disadari, tapi sangat memengaruhi cara peserta mengelola waktu dan strategi pengerjaan soal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Jarang kita bekerja dari bawah ke atas. Murid-murid kita juga dibiasakan mengerjakan soal dari kiri ke kanan,&#8221; katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKarena itu, menurut Mu&#8217;ti faktor psikologis juga berperan dalam mengerjakan soal TKA. Siswa diharapkan mampu membaca situasi, menilai tingkat kesulitan soal, dan menyusun strategi pengerjaan secara mandiri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eOleh sebab itu, Mu&#8217;ti menekankan TKA tidak hanya menguji capaian akademik, tapi juga menilai kesiapan mental dan karakter siswa. &#8220;Ini bukan semata-mata soal akademik. Ada aspek karakter di situ,&#8221; tegasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMu&#8217;ti kemudian menyoroti adanya temuan survei Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebut sekolah sebagai salah satu lingkungan di mana praktik ketidakjujuran masih kerap terjadi. Salah satu pemicunya adalah budaya menyontek saat ujian.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau sudah terbiasa menyontek, berarti mentalnya belum siap,&#8221; ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebaliknya, Mu&#8217;ti menilai kejujuran justru melahirkan ketenangan dan kegembiraan dalam mengerjakan ujian. Dengan sikap jujur, siswa tidak terbebani untuk mencari jalan pintas, apa pun hasil yang diperoleh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau jujur, dia gembira. Enggak usah nyontek. Apa pun hasilnya, itulah yang terbaik, dan masih ada waktu untuk memperbaiki,&#8221; katanya. (Marles)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Soal-soal tes kemampuan akademik (TKA) tidak disusun sembarangan, terdapat pertimbangan psikologis di balik setiap butir soal. \u200e \u200eHal itu diungkap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu&#8217;ti saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Persiapan Pelaksanaan TKA Jenjang SD\/MI\/sederajat dan Jenjang SMP\/MTS\/sederajat Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (27\/1\/2026). \u200e \u200eMenurut Mu&#8217;ti, soal TKA umumnya dirancang dengan tingkat kesulitan bertahap. Soal pertama, kata dia, sengaja dibuat relatif lebih mudah agar peserta dapat membangun kepercayaan diri sejak awal ujian. \u200e \u200e&#8221;Kalau soal pertama langsung dibuat susah, bisa-bisa waktunya habis hanya di soal itu,&#8221; ujarnya. \u200e \u200eMu&#8217;ti menjelaskan sebagian besar peserta ujian masih memiliki kebiasaan mengerjakan soal secara berurutan, dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Pola ini, menurutnya, jarang disadari, tapi sangat memengaruhi cara peserta mengelola waktu dan strategi pengerjaan soal. \u200e \u200e&#8221;Jarang kita bekerja dari bawah ke atas. Murid-murid kita juga dibiasakan mengerjakan soal dari kiri ke kanan,&#8221; katanya. \u200e \u200eKarena itu, menurut Mu&#8217;ti faktor psikologis juga berperan dalam mengerjakan soal TKA. Siswa diharapkan mampu membaca situasi, menilai tingkat kesulitan soal, dan menyusun strategi pengerjaan secara mandiri. \u200e \u200eOleh sebab itu, Mu&#8217;ti menekankan TKA tidak hanya menguji capaian akademik, tapi juga menilai kesiapan mental dan karakter siswa. &#8220;Ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54464,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406,11],"tags":[],"class_list":["post-54463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54463"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54463\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54465,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54463\/revisions\/54465"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}