{"id":54438,"date":"2026-01-27T22:22:06","date_gmt":"2026-01-27T15:22:06","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54438"},"modified":"2026-01-27T22:22:06","modified_gmt":"2026-01-27T15:22:06","slug":"lampung-resmi-ditetapkan-jadi-lokasi-pusat-singkong-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/01\/27\/lampung-resmi-ditetapkan-jadi-lokasi-pusat-singkong-nasional\/","title":{"rendered":"\u200eLampung Resmi Ditetapkan Jadi Lokasi Pusat Singkong Nasional \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Provinsi Lampung resmi ditetapkan sebagai lokasi National Cassava Center atau Pusat Singkong Nasional. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePertemuan tersebut berlangsung dalam agenda Rencana Pengembangan Cassava Center di Universitas Lampung (Unila) yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional\/Bappenas RI di Ruang Rapat DH 1\u20132 Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (27\/1\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pembentukan National Cassava Center merupakan inisiatif Bappenas bekerja sama dengan Sungai Budi Foundation. Program ini difokuskan pada riset dan pengembangan singkong untuk meningkatkan produktivitas petani di Lampung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cTelah disepakati Lampung akan menjadi National Cassava Center. Ini adalah program Bappenas bersama Sungai Budi Foundation untuk meriset singkong agar produktivitasnya meningkat dan mampu mengejar ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam,\u201d ujar Gubernur Mirza.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menjelaskan salah satu target utama Cassava Center adalah menghasilkan bibit unggul dengan kualitas lebih baik dan kandungan aci yang lebih tinggi. Bibit tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil panen petani sekaligus mendongkrak pendapatan mereka.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cBibit yang dihasilkan diharapkan memiliki kadar aci yang tinggi dan berkualitas sehingga penghasilan petani meningkat,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain pengembangan bibit, Cassava Center juga akan melibatkan peneliti, profesor, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kolaborasi lintas universitas ini diharapkan mampu mempercepat inovasi serta pengembangan teknologi singkong nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut Gubernur, kegiatan Cassava Center akan dipusatkan di Universitas Lampung. Sejumlah fasilitas pendukung, termasuk laboratorium, direncanakan dibangun, salah satunya di kawasan Kota Baru.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPembangunan fisik akan segera berjalan, tapi programnya akan lebih dahulu dilaksanakan dalam waktu dekat dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di Unila,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menegaskan tujuan utama program ini adalah membangun ekosistem singkong yang efisien dari hulu hingga hilir. Dengan peningkatan produktivitas dan kadar aci, industri tapioka di Lampung diharapkan menjadi lebih efisien dan kompetitif di pasar global.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cProduktivitas petani meningkat, pendapatan naik, pabrik menerima kadar aci yang lebih tinggi, sehingga harga tapioka Lampung mampu bersaing dengan negara lain. Intinya, kita ingin tapioka Lampung kompetitif dengan Thailand dan Vietnam,\u201d ujar Mirza. (pim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Provinsi Lampung resmi ditetapkan sebagai lokasi National Cassava Center atau Pusat Singkong Nasional. Kesepakatan ini dicapai setelah pertemuan antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). \u200e \u200ePertemuan tersebut berlangsung dalam agenda Rencana Pengembangan Cassava Center di Universitas Lampung (Unila) yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional\/Bappenas RI di Ruang Rapat DH 1\u20132 Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (27\/1\/2026). \u200e \u200eGubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pembentukan National Cassava Center merupakan inisiatif Bappenas bekerja sama dengan Sungai Budi Foundation. Program ini difokuskan pada riset dan pengembangan singkong untuk meningkatkan produktivitas petani di Lampung. \u200e \u200e\u201cTelah disepakati Lampung akan menjadi National Cassava Center. Ini adalah program Bappenas bersama Sungai Budi Foundation untuk meriset singkong agar produktivitasnya meningkat dan mampu mengejar ketertinggalan dari Thailand dan Vietnam,\u201d ujar Gubernur Mirza. \u200e \u200eIa menjelaskan salah satu target utama Cassava Center adalah menghasilkan bibit unggul dengan kualitas lebih baik dan kandungan aci yang lebih tinggi. Bibit tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil panen petani sekaligus mendongkrak pendapatan mereka. \u200e \u200e\u201cBibit yang dihasilkan diharapkan memiliki kadar aci yang tinggi dan berkualitas sehingga penghasilan petani meningkat,\u201d katanya. \u200e \u200eSelain pengembangan bibit, Cassava Center juga akan melibatkan peneliti, profesor, dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54440,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406,8],"tags":[],"class_list":["post-54438","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54438"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54438\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54441,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54438\/revisions\/54441"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54440"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}