{"id":54308,"date":"2026-01-19T23:26:50","date_gmt":"2026-01-19T16:26:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54308"},"modified":"2026-01-19T23:26:50","modified_gmt":"2026-01-19T16:26:50","slug":"matangkan-program-kerja-2026-dekranasda-lampung-jadikan-pameran-inacraft-agenda-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/01\/19\/matangkan-program-kerja-2026-dekranasda-lampung-jadikan-pameran-inacraft-agenda-pertama\/","title":{"rendered":"Matangkan Program Kerja 2026, Dekranasda Lampung Jadikan Pameran Inacraft Agenda Pertama \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari, memimpin Rapat Pembahasan Program Kerja Dekranasda Provinsi Lampung 2026 di Kantor Dekranasda Provinsi Lampung, Senin (19\/1\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eRapat ini menjadi momentum awal tahun untuk menyelaraskan langkah antara Dekranasda Provinsi dan Dekranasda Kabupaten\/Kota, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pariwisata &amp; Ekraf, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta dinas pendukung lainnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam arahannya, Purnama Wulan Sari menekankan agenda terdekat dan paling bergengsi yang akan diikuti adalah pameran Inacraft 2026 di Jakarta pada 4 &#8211; 8 Februari 2026. Ia menegaskan keikutsertaan Lampung bukan sekadar rutinitas pameran, melainkan ajang menampilkan jati diri budaya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Keikutsertaan kita di Inacraft nanti bukan sekadar menampilkan produk unggulan, baik wastra, kerajinan, maupun kuliner. Ini adalah ajang etalase jati diri kita. Identitas Lampung harus terpancar melalui kekayaan budaya dan kreativitas para perajin kita,&#8221; ujar Wulan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia meminta pengurus Dekranasda Kabupaten\/Kota melakukan proses kurasi yang ketat terhadap produk-produk yang akan dibawa ke tingkat nasional agar produk Lampung memiliki daya saing tinggi dan mampu menarik minat pasar internasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBeberapa poin penting yang ditekankan dalam persiapan tersebut antara lain :<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e1. Kualitas dan Narasi: Produk harus memiliki nilai tambah, baik dari segi desain maupun cerita budaya (storytelling) yang melekat.<br \/>\n\u200e2. Inovasi Anak Muda: Mendorong keterlibatan generasi muda dalam menciptakan produk kriya yang modern namun tetap berbasis kearifan lokal (seperti anyaman berbasis wastra).<br \/>\n\u200e3. Legalitas: Mendorong percepatan sertifikasi halal bagi UMKM, khususnya sektor kuliner, sebagai jaminan kualitas bagi konsumen.<br \/>\n\u200e4. Promosi Digital: Memastikan setiap produk dilengkapi dengan informasi kontak atau media sosial untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan pembeli potensial.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTerkait teknis pelaksanaan, dia menjelaskan tahun ini terdapat 9 kabupaten\/kota yang telah terdaftar untuk ikut serta. Ia juga menyoroti pentingnya dekorasi stand yang menarik dan tematik guna menarik perhatian pengunjung di tengah ribuan peserta dari provinsi lain.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kita harus gotong-royong. Kerja sama antara pengampu utama seperti Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian, serta dukungan dari sektor pendidikan (seperti UBL) sangat penting agar program kerja tahun 2026 ini berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,&#8221; tambahnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePurnama Wulan Sari berharap melalui ajang Inacraft dan program kerja tahun 2026 lainnya, ekonomi kreatif di Lampung semakin tangguh dan di masa mendatang Provinsi Lampung dapat kembali dipercaya menjadi ikon utama dalam pameran-pameran berskala nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Semoga ini menjadi awal yang baik untuk peningkatan kesejahteraan pengerajin dan penguatan ekonomi daerah melalui produk-produk lokal yang autentik dan inovatif,&#8221; tutupnya. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari, memimpin Rapat Pembahasan Program Kerja Dekranasda Provinsi Lampung 2026 di Kantor Dekranasda Provinsi Lampung, Senin (19\/1\/2026). \u200e \u200eRapat ini menjadi momentum awal tahun untuk menyelaraskan langkah antara Dekranasda Provinsi dan Dekranasda Kabupaten\/Kota, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pariwisata &amp; Ekraf, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta dinas pendukung lainnya. \u200e \u200eDalam arahannya, Purnama Wulan Sari menekankan agenda terdekat dan paling bergengsi yang akan diikuti adalah pameran Inacraft 2026 di Jakarta pada 4 &#8211; 8 Februari 2026. Ia menegaskan keikutsertaan Lampung bukan sekadar rutinitas pameran, melainkan ajang menampilkan jati diri budaya. \u200e \u200e&#8221;Keikutsertaan kita di Inacraft nanti bukan sekadar menampilkan produk unggulan, baik wastra, kerajinan, maupun kuliner. Ini adalah ajang etalase jati diri kita. Identitas Lampung harus terpancar melalui kekayaan budaya dan kreativitas para perajin kita,&#8221; ujar Wulan. \u200e \u200eDia meminta pengurus Dekranasda Kabupaten\/Kota melakukan proses kurasi yang ketat terhadap produk-produk yang akan dibawa ke tingkat nasional agar produk Lampung memiliki daya saing tinggi dan mampu menarik minat pasar internasional. \u200e \u200eBeberapa poin penting yang ditekankan dalam persiapan tersebut antara lain : \u200e \u200e1. Kualitas dan Narasi: [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54309,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-54308","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54308"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54308\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54310,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54308\/revisions\/54310"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54309"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}