{"id":54298,"date":"2026-01-19T07:52:33","date_gmt":"2026-01-19T00:52:33","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54298"},"modified":"2026-01-19T07:52:33","modified_gmt":"2026-01-19T00:52:33","slug":"taklukkan-maroko-di-final-senegal-juara-piala-afrika-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/01\/19\/taklukkan-maroko-di-final-senegal-juara-piala-afrika-2025\/","title":{"rendered":"\u200eTaklukkan Maroko di Final, Senegal Juara Piala Afrika 2025 \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eRabat (LB)<\/strong>: Senegal menjadi juara Piala Afrika 2025 setelah di final menang dramatis 1-0 atas tuan rumah Maroko di Stadion Prince Moullay Abdallah, Senin (19\/1\/2026) dini hari WIB, Senegal mendominasi permainan dengan 54 persen ball possesion.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIni menjadi gelar kedua Senegal di ajang ini setelah kemenangan pertama mereka pada tahun 2021.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePertandingan berlangsung tegang sejak menit pertama. Maroko tampak berbahaya sepanjang pertandingan, dengan Yassine Bounou melakukan beberapa penyelamatan penting untuk menjaga Singa Atlas tetap dalam permainan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSenegal berpeluang mencetak gol di menit ke-37 ketika Iliman Ndiaye menerima umpan terobosan Nicolas Jackson di kotak penalti. Tinggal berhadapan dengan Yassine Bounou, bola sepakan Ndiaye berhasil dibendung kaki kiper Maroko itu. Tak ada gol tercipta di babak pertama.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMasuk babak kedua, kedua tim makin terbuka. Jual beli serangan terjadi demi mengejar kemenangan. Di menit ke-90, Senegal mengancam lewat Ibrahim Mbaye, tapi lagi-lagi Yassine Bounou tampil kokoh di bawah mistar gawang Maroko dengan menepis bola.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDrama terjadi di masa injury time, saat gol Senegal pada menit ke-92 yang dicetak Abdoualey Seck dianulir hakim garis karena dianggap melanggar Achraf Hakmi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKetegangan memuncak ketika Maroko mendapat hadiah penalti di menit ke-94 saat Brahim Diaz dilanggar Malick Diouf di kotak terlarang dalam situasi sepak pojok. Keputusan penalti ini membuat kubu Senegal protes keras dan pelatih Pape Thiaw menginstruksikan para pemainnya meninggalkan lapangan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePertandingan sempat ditunda sekitar 20 menit, sebelum kubu Senegal mau melanjutkan laga dan penalti tetap dijalankan karena sudah disahkan VAR.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBrahim Diaz yang mengambil eksekusi penalti gagal menaklukkan Edouard Mendy sehingga laga harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu 2&#215;15 menit.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSenegal berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-94 lewat gol Pape Gueye melalui skema serangan balik cepat. Menerima umpan Idrissa Gueye dari sisi kanan, Pape Gueye yang berada di sisi kiri menggiring bola mendekati kotak penalti dan melepas sepakan keras dengan kaki kiri. Bola bersarang di pojok atas gawang dan membawa Senegal Unggul 1-0.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSkor 1-0 bertahan hingga akhir laga dan membawa Senegal juara Piala Afrika 2025 yang menjadi gelar kedua mereka. Sebelumnya mereka menjadi juara di ajang ini pada 2021.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara tuan rumah Maroko harus gigit jari. Mereka gagal mengakhiri puasa gelar di turnamen ini sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 1976.<br \/>\n\u200e<br \/>\n<strong>\u200eSusunan pemain<\/strong><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e<strong>Senegal<\/strong>: Mendy; Antoine Mendy (Seck 77&#8242;), Sarr, Niakhate, Diouf (Jakobs 106&#8242;); Camara (Sarr 77&#8242;), Gana, Gueye; Ndiaye (Mbaye 77&#8242;), Jackson (C Ndiaye 90&#8242;), Mane<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e<strong>Maroko<\/strong>: Bounou; Hakimi, Masina (El Yamiq 89&#8242;), Aguerd, Mazraoui (Igamane 98&#8242;); El Aynaoui, Saibari (Salah-Eddine 90&#8242;), Diaz (Akhomach 98&#8242;), Ezzalzouli, El Khannouss (Targhalline 80&#8242;); El Kaabi (En-Nesyri 80&#8242;). (AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eRabat (LB): Senegal menjadi juara Piala Afrika 2025 setelah di final menang dramatis 1-0 atas tuan rumah Maroko di Stadion Prince Moullay Abdallah, Senin (19\/1\/2026) dini hari WIB, Senegal mendominasi permainan dengan 54 persen ball possesion. \u200e \u200eIni menjadi gelar kedua Senegal di ajang ini setelah kemenangan pertama mereka pada tahun 2021. \u200e \u200ePertandingan berlangsung tegang sejak menit pertama. Maroko tampak berbahaya sepanjang pertandingan, dengan Yassine Bounou melakukan beberapa penyelamatan penting untuk menjaga Singa Atlas tetap dalam permainan. \u200e \u200eSenegal berpeluang mencetak gol di menit ke-37 ketika Iliman Ndiaye menerima umpan terobosan Nicolas Jackson di kotak penalti. Tinggal berhadapan dengan Yassine Bounou, bola sepakan Ndiaye berhasil dibendung kaki kiper Maroko itu. Tak ada gol tercipta di babak pertama. \u200e \u200eMasuk babak kedua, kedua tim makin terbuka. Jual beli serangan terjadi demi mengejar kemenangan. Di menit ke-90, Senegal mengancam lewat Ibrahim Mbaye, tapi lagi-lagi Yassine Bounou tampil kokoh di bawah mistar gawang Maroko dengan menepis bola. \u200e \u200eDrama terjadi di masa injury time, saat gol Senegal pada menit ke-92 yang dicetak Abdoualey Seck dianulir hakim garis karena dianggap melanggar Achraf Hakmi. \u200e \u200eKetegangan memuncak ketika Maroko mendapat hadiah penalti di menit ke-94 saat Brahim Diaz dilanggar Malick Diouf di kotak terlarang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54299,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-54298","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-olah-raga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54298","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54298"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54298\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54300,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54298\/revisions\/54300"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54299"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54298"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54298"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54298"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}