{"id":54139,"date":"2026-01-06T10:21:48","date_gmt":"2026-01-06T03:21:48","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54139"},"modified":"2026-01-06T10:29:13","modified_gmt":"2026-01-06T03:29:13","slug":"super-flu-mulai-masuk-indonesia-tercatat-62-kasus-mayoritas-menginfeksi-anak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/01\/06\/super-flu-mulai-masuk-indonesia-tercatat-62-kasus-mayoritas-menginfeksi-anak-anak\/","title":{"rendered":"\u200eSuper Flu Mulai Masuk Indonesia, Tercatat 62 Kasus, Mayoritas Menginfeksi Anak-Anak"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<em>Gambar: Ilustrasi<\/em><strong>\u200e<\/strong><\/p>\n<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Influenza A (H3N2) Subclade K atau super flu dilaporkan mulai muncul di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus influenza Subclade K atau super flu di Indonesia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTercatat, mayoritas kasus super flu menginfeksi usia anak 1-10 tahun, sebanyak 35 persen.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenanggapi situasi ini, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), mengimbau para orang tua agar memperkuat perlindungan anak.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Intinya di penerapan kembali PHBS, imunisasi influenza dan nutrisi bergizi tinggi serta mengurangi asupan makanan tak sehat yang tinggi gula dan UPF (ultraprocessed food),&#8221; ucap dr. Piprim seperti dikutip dari detikcom, Selasa (6\/1\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker jika anak merasa kurang fit, dan etika batuk harus kembali didisiplinkan di lingkungan sekolah,&#8221; ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDirektur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine dalam laman Antara menjelaskan, super flu tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,&#8221; terang Prima.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMengutip Gavi The Vaccine Alliance, Direktur Pusat Influenza Dunia Prof Nicola Lewis menegaskan bahwa istilah super flu tidak bersifat ilmiah dan tidak ada bukti bahwa Subclade K lebih berbahaya dibanding virus influenza A (H3N2) lain yang saat ini beredar.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eApa Itu Super Flu<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMunculnya istilah super flu dipicu anggapan Subclade K merupakan penyakit baru. Padahal, virus ini termasuk dalam kelompok influenza musiman. Perbedaannya terletak pada tingkat penularan yang lebih cepat, di mana satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang di sekitarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMeskipun demikian, cara penularan Subclade K tetap sama seperti influenza pada umumnya, yakni melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAwal Mula Munculnya Super Flu<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMengutip jurnal internasional Euro Surveillance berjudul Extended Influenza Seasons in Australia and New Zealand in 2025 Due to the Emergence of Influenza A (H3N2) Subclade K Viruses, Subclade K merupakan varian baru influenza A (H3N2) yang muncul pada pertengahan 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eVirus ini disebut menyebabkan perpanjangan musim flu di Australia dan Selandia Baru. Euro Surveillance mencatat, Subclade K diduga berasal atau diimpor dari Amerika Serikat, tepatnya di New York pada 23 Juni 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDeteksi pertama virus ini terjadi di Sydney dan Melbourne pada 17 Agustus 2025, lalu menyebar dengan cepat ke seluruh Australia. Sementara di Selandia Baru, kasus pertama terdeteksi di Auckland pada 27 Agustus 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSaat ini, Subclade K telah teridentifikasi di setidaknya 34 negara di berbagai wilayah dunia, termasuk Eropa Barat, Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Di Indonesia, Kemenkes mencatat hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eWaspadai Gejala Subclade K<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDilansir detikHealth, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menyebut gejala yang muncul akibat infeksi subclade K dinilai lebih parah daripada flu biasa atau COVID-19 yang memiliki gejala ringan sampai sedang.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGejala yang dimaksud sebagai berikut:<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e1. Demam tinggi 39-41 derajat celcius<br \/>\n\u200e2. Nyeri otot berat<br \/>\n\u200e3. Kelelahan atau lemas ekstrem<br \/>\n\u200e4. Batuk kering<br \/>\n\u200e5. Sakit kepala<br \/>\n\u200e6. Tenggorokan terasa berat<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eCara Cegah Super Flu<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKarena super flu Subclade K memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibanding flu musiman, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Prof Agus menekankan pentingnya langkah pencegahan guna menekan risiko penularan virus ini.<\/p>\n<p>Berikut cara mencegah super flu:<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e1. Vaksinasi influenza<br \/>\n\u200e2. Menjaga stamina tubuh dengan makan minum cukup dan bergizi, istirahat cukup, olahraga<br \/>\n\u200e3. Jaga kebersihan lingkungan<br \/>\n\u200e4. Cuci tangan teratur<br \/>\n\u200e5. Pakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian<br \/>\n\u200e6. Bila sakit flu, jangan batuk dan bersin sembarangan<br \/>\n\u200e7. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan siku. (dbs\/AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eGambar: Ilustrasi\u200e Bandar Lampung (LB): Influenza A (H3N2) Subclade K atau super flu dilaporkan mulai muncul di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus influenza Subclade K atau super flu di Indonesia. \u200e \u200eTercatat, mayoritas kasus super flu menginfeksi usia anak 1-10 tahun, sebanyak 35 persen. \u200e \u200eMenanggapi situasi ini, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), mengimbau para orang tua agar memperkuat perlindungan anak. \u200e \u200e&#8221;Intinya di penerapan kembali PHBS, imunisasi influenza dan nutrisi bergizi tinggi serta mengurangi asupan makanan tak sehat yang tinggi gula dan UPF (ultraprocessed food),&#8221; ucap dr. Piprim seperti dikutip dari detikcom, Selasa (6\/1\/2026). \u200e \u200e&#8221;Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker jika anak merasa kurang fit, dan etika batuk harus kembali didisiplinkan di lingkungan sekolah,&#8221; ujarnya. \u200e \u200eDirektur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine dalam laman Antara menjelaskan, super flu tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. \u200e \u200e&#8221;Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,&#8221; terang Prima. \u200e \u200eMengutip Gavi The Vaccine Alliance, Direktur Pusat Influenza Dunia Prof Nicola Lewis menegaskan bahwa istilah super flu tidak bersifat ilmiah dan tidak ada bukti bahwa Subclade K lebih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54140,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,406],"tags":[],"class_list":["post-54139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54139"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54143,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54139\/revisions\/54143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}