{"id":54067,"date":"2025-12-31T11:18:53","date_gmt":"2025-12-31T04:18:53","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=54067"},"modified":"2025-12-31T11:18:53","modified_gmt":"2025-12-31T04:18:53","slug":"penguatan-ekonomi-rakyat-lampung-bangun-500-unit-pusat-produksi-pupuk-organik-cair","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/31\/penguatan-ekonomi-rakyat-lampung-bangun-500-unit-pusat-produksi-pupuk-organik-cair\/","title":{"rendered":"\u200ePenguatan Ekonomi Rakyat, Lampung Bangun 500 Unit Pusat Produksi Pupuk Organik Cair \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Belum genap satu tahun kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal &#8211; Jihan Nurlela, Lampung telah membangun 500 unit pusat produksi pupuk organik cair sebagai salah satu upaya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal itu disampaikan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam kegiatan Kaleidoskop Pembangunan Provinsi Lampung 2025 di Mahan Agung, Minggu (28\/12\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGubernur Mirza mengungkapkan selain pembangunan infrastruktur, Pemerintah Provinsi Lampung juga mengusung Desa Kumaju sebagai program unggulan penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal, yang mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga UMKM.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Sepanjang 2025, sebanyak 500 unit pusat produksi pupuk organik cair dibangun di desa-desa,&#8221; ungkap Gubernur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia juga mengatakan program tersebut menjangkau lebih dari 190.000 petani di lahan seluas 175.788 hektar, dengan dampak sosial mencapai 477.000 jiwa. &#8220;Ketergantungan pupuk kimia berhasil ditekan hingga 30 persen dan produktivitas meningkat sekitar 25 persen,&#8221; imbuhnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelanjutnya dia juga menyampaikan di sisi hilirisasi, Lampung membangun 34 unit bed dryer di 34 desa. Setiap unit mesin pengering ini, ucap Gubernur, mampu mengeringkan hingga 200 ton padi dan 300 ton singkong per bulan, sekaligus menekan kehilangan hasil panen hingga 7 persen.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Program ini bertujuan membangkitkan cara berpikir inovatif masyarakat desa agar mandiri dan berdaulat,&#8221; tegas Mirza. (M. Aritonang)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Belum genap satu tahun kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal &#8211; Jihan Nurlela, Lampung telah membangun 500 unit pusat produksi pupuk organik cair sebagai salah satu upaya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. \u200e \u200eHal itu disampaikan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam kegiatan Kaleidoskop Pembangunan Provinsi Lampung 2025 di Mahan Agung, Minggu (28\/12\/2025). \u200e \u200eGubernur Mirza mengungkapkan selain pembangunan infrastruktur, Pemerintah Provinsi Lampung juga mengusung Desa Kumaju sebagai program unggulan penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal, yang mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga UMKM. \u200e \u200e&#8221;Sepanjang 2025, sebanyak 500 unit pusat produksi pupuk organik cair dibangun di desa-desa,&#8221; ungkap Gubernur. \u200e \u200eDia juga mengatakan program tersebut menjangkau lebih dari 190.000 petani di lahan seluas 175.788 hektar, dengan dampak sosial mencapai 477.000 jiwa. &#8220;Ketergantungan pupuk kimia berhasil ditekan hingga 30 persen dan produktivitas meningkat sekitar 25 persen,&#8221; imbuhnya. \u200e \u200eSelanjutnya dia juga menyampaikan di sisi hilirisasi, Lampung membangun 34 unit bed dryer di 34 desa. Setiap unit mesin pengering ini, ucap Gubernur, mampu mengeringkan hingga 200 ton padi dan 300 ton singkong per bulan, sekaligus menekan kehilangan hasil panen hingga 7 persen. \u200e \u200e&#8221;Program ini bertujuan membangkitkan cara berpikir inovatif masyarakat desa agar mandiri dan berdaulat,&#8221; tegas Mirza. (M. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":54068,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,2],"tags":[],"class_list":["post-54067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung","category-pertanian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54067"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54067\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54069,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54067\/revisions\/54069"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54068"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}