{"id":53917,"date":"2025-12-21T23:57:07","date_gmt":"2025-12-21T16:57:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53917"},"modified":"2025-12-21T23:57:07","modified_gmt":"2025-12-21T16:57:07","slug":"dua-hari-digelar-gebyar-pesona-lumbok-ranau-disambut-antusias-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/21\/dua-hari-digelar-gebyar-pesona-lumbok-ranau-disambut-antusias-masyarakat\/","title":{"rendered":"\u200eDua Hari Digelar, Gebyar Pesona Lumbok Ranau Disambut Antusias Masyarakat \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eLampung Barat (LB)<\/strong>: Gebyar Pesona Lumbok Ranau Tahun 2025 yang digelar sebagai upaya menggali budaya lokal, resmi ditutup Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Barat, Drs. Nukman, M.M., Sabtu (20\/12\/2025) malam WIB.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan yang digelar selama dua hari ini disambut antusias dan menyedot perhatian masyarakat, terbukti meskipun sepanjang puncak perayaan diguyur hujan, warga tetap berbondong-bondong untuk menyaksikan berbagai tari-tarian tradisional yang ditampilkan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eNukman mengatakan menyambut baik adanya kegiatan Gebyar Pesona Lumbok Ranau yang menurutnya dapat meningkatkan budaya yang mulai pudar kini terangkat kembali. Ia berharap warga dapat menggali, mempelajari, dan mempertahankan budaya khas Lampung Barat agar tetap terjaga dengan baik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Malam ini sudah dibuktikan anak-anak kita dengan menampilkan berbagai budaya mulai dari tari-tarian tradisional yang memberi pesan dan kesan untuk kebaikan,&#8221; ungkap Nukman.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kita belajar dari alur tari-tarian yang ditampilkan anak-anak kita tadi bahwa Lampung Barat banyak sekali historis,&#8221; imbuhnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eLebih lanjut Nukman mengatakan budaya-budaya seperti itu harus terus dikembangkan oleh masyarakat serta diperkenalkan kepada masyarakat luas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMeskipun Kabupaten Lampung Barat berada di ujung Provinsi Lampung, Nukman mengaku merasa bangga karena sangat banyak pesona yang bisa ditunjukkan ke masyarakat luas dan benar-benar budaya tersebut terjaga dengan baik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Pemerintah Kabupaten Lampung Barat akan terus berkomitmen untuk menjaga budaya khas Lampung Barat,&#8221; tegasnya. (*\/San).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eLampung Barat (LB): Gebyar Pesona Lumbok Ranau Tahun 2025 yang digelar sebagai upaya menggali budaya lokal, resmi ditutup Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Barat, Drs. Nukman, M.M., Sabtu (20\/12\/2025) malam WIB. \u200e \u200eKegiatan yang digelar selama dua hari ini disambut antusias dan menyedot perhatian masyarakat, terbukti meskipun sepanjang puncak perayaan diguyur hujan, warga tetap berbondong-bondong untuk menyaksikan berbagai tari-tarian tradisional yang ditampilkan. \u200e \u200eNukman mengatakan menyambut baik adanya kegiatan Gebyar Pesona Lumbok Ranau yang menurutnya dapat meningkatkan budaya yang mulai pudar kini terangkat kembali. Ia berharap warga dapat menggali, mempelajari, dan mempertahankan budaya khas Lampung Barat agar tetap terjaga dengan baik. \u200e \u200e&#8221;Malam ini sudah dibuktikan anak-anak kita dengan menampilkan berbagai budaya mulai dari tari-tarian tradisional yang memberi pesan dan kesan untuk kebaikan,&#8221; ungkap Nukman. \u200e \u200e&#8221;Kita belajar dari alur tari-tarian yang ditampilkan anak-anak kita tadi bahwa Lampung Barat banyak sekali historis,&#8221; imbuhnya. \u200e \u200eLebih lanjut Nukman mengatakan budaya-budaya seperti itu harus terus dikembangkan oleh masyarakat serta diperkenalkan kepada masyarakat luas. \u200e \u200eMeskipun Kabupaten Lampung Barat berada di ujung Provinsi Lampung, Nukman mengaku merasa bangga karena sangat banyak pesona yang bisa ditunjukkan ke masyarakat luas dan benar-benar budaya tersebut terjaga dengan baik. \u200e \u200e&#8221;Pemerintah Kabupaten Lampung Barat akan terus berkomitmen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53918,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[194,7],"tags":[],"class_list":["post-53917","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lampung-barat","category-pariwisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53917"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53917\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53919,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53917\/revisions\/53919"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}