{"id":53702,"date":"2025-12-10T23:37:44","date_gmt":"2025-12-10T16:37:44","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53702"},"modified":"2025-12-10T23:41:42","modified_gmt":"2025-12-10T16:41:42","slug":"bupati-lampung-tengah-ardito-wijaya-diduga-terjaring-ott-kpk-begini-kronologinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/10\/bupati-lampung-tengah-ardito-wijaya-diduga-terjaring-ott-kpk-begini-kronologinya\/","title":{"rendered":"\u200eBupati Lampung Tengah Ardito Wijaya Diduga Terjaring OTT KPK, Begini Kronologinya"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Bupati Lampung Tengah, Lampung, Ardito Wijaya diduga terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap proyek, Rabu (10\/12\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKPK menggeledah rumahnya selama sekitar 3,5 jam sebelum Bupati Lampung Tengah itu digelandang ke KPK bersama barang sitaan, dan tiba Gedung Merah Putih KPK pada Rabu pukul 20.15 WIB. KPK memiliki waktu 1&#215;24 jam untuk menentukan status hukumnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eJuru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan kronologi penangkapan Ardito Wijaya bermula dari upaya lembaga antirasuah itu meminta keterangan kepada sejumlah pihak.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cBermula dari permintaan keterangan kepada sejumlah pihak di wilayah Jakarta dan Lampung pada Selasa, 9 Desember 2025,\u201d ujar Budi Prasetyo kepada jurnalis di Jakarta, Rabu malam seperti dilansir Antara.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTim KPK kemudian melakukan kegiatan tangkap tangan dugaan tindak pidana korupsi di wilayah Kabupaten Lampung Tengah pada 10 Desember 2025, dan menangkap lima orang, termasuk Ardito Wijaya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMengutip data dalam elhkpn.kpk.go.id, Rabu (10\/12\/2025), LHKPN yang disampaikan terakhir pada 10 April 2025, Ardito diketahui memiliki kekayaan Rp 12,8 miliar dalam bentuk bangunan hingga kendaraan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKPK memiliki waktu 1&#215;24 jam untuk menentukan status Bupati Lampung Tengah itu sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). (ak)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Bupati Lampung Tengah, Lampung, Ardito Wijaya diduga terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap proyek, Rabu (10\/12\/2025). \u200e \u200eKPK menggeledah rumahnya selama sekitar 3,5 jam sebelum Bupati Lampung Tengah itu digelandang ke KPK bersama barang sitaan, dan tiba Gedung Merah Putih KPK pada Rabu pukul 20.15 WIB. KPK memiliki waktu 1&#215;24 jam untuk menentukan status hukumnya. \u200e \u200eJuru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan kronologi penangkapan Ardito Wijaya bermula dari upaya lembaga antirasuah itu meminta keterangan kepada sejumlah pihak. \u200e \u200e\u201cBermula dari permintaan keterangan kepada sejumlah pihak di wilayah Jakarta dan Lampung pada Selasa, 9 Desember 2025,\u201d ujar Budi Prasetyo kepada jurnalis di Jakarta, Rabu malam seperti dilansir Antara. \u200e \u200eTim KPK kemudian melakukan kegiatan tangkap tangan dugaan tindak pidana korupsi di wilayah Kabupaten Lampung Tengah pada 10 Desember 2025, dan menangkap lima orang, termasuk Ardito Wijaya. \u200e \u200eMengutip data dalam elhkpn.kpk.go.id, Rabu (10\/12\/2025), LHKPN yang disampaikan terakhir pada 10 April 2025, Ardito diketahui memiliki kekayaan Rp 12,8 miliar dalam bentuk bangunan hingga kendaraan. \u200e \u200eKPK memiliki waktu 1&#215;24 jam untuk menentukan status Bupati Lampung Tengah itu sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). (ak)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53705,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-53702","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hukum-dan-kriminal"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53702","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53702"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53702\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53706,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53702\/revisions\/53706"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53705"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}