{"id":53636,"date":"2025-12-07T23:29:07","date_gmt":"2025-12-07T16:29:07","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53636"},"modified":"2025-12-07T23:29:07","modified_gmt":"2025-12-07T16:29:07","slug":"data-terbaru-bencana-sumatera-korban-meninggal-940-orang-276-masih-hilang-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/07\/data-terbaru-bencana-sumatera-korban-meninggal-940-orang-276-masih-hilang-2\/","title":{"rendered":"\u200eData Terbaru Bencana Sumatera Korban Meninggal 940 Orang, 276 Masih Hilang"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru korban bencana Sumatera. Hingga hari ini, Minggu (7\/12\/2025) pukul 17.00 WIB tercatat ada 940 orang meninggal dunia, 276 orang masih hilang, dan sekitar 5.000 orang terluka.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerikut rincian korban banjir dan tanah longsor Sumatera terbaru:<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eJumlah korban meninggal: 940 orang<br \/>\n\u200eJumlah korban hilang: 276 orang<br \/>\n\u200eJumlah korban terluka: 5.000 orang.<br \/>\n\u200eJumlah rumah rusak: 147 ribu unit<br \/>\n\u200eJumlah kabupaten\/kota terdampak: 52<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBNPB mencatat korban tewas paling banyak terdapat di wilayah Agam, Sumatera Barat, dengan total 172 jiwa. Aceh Utara juga menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak sebesar 304 ribu orang.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKemensos Salurkan Bantuan Rp 66,7 M untuk Penanganan Bencana Sumatera<br \/>\n\u200eJumlah korban tewas, hilang, luka serta yang menjadi pengungsi dapat bertambah seiring proses evakuasi dan pembersihan sisa material banjir bandang serta longsor dilakukan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHingga kini, sejumlah ruas jalan di Aceh, Sumut, dan Sumbar masih terputus. Aliran listrik dan komunikasi di daerah terdampak bencana juga belum sepenuhnya normal. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200e\u200eBandar Lampung (LB): Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru korban bencana Sumatera. Hingga hari ini, Minggu (7\/12\/2025) pukul 17.00 WIB tercatat ada 940 orang meninggal dunia, 276 orang masih hilang, dan sekitar 5.000 orang terluka. \u200e \u200eBerikut rincian korban banjir dan tanah longsor Sumatera terbaru: \u200e \u200eJumlah korban meninggal: 940 orang \u200eJumlah korban hilang: 276 orang \u200eJumlah korban terluka: 5.000 orang. \u200eJumlah rumah rusak: 147 ribu unit \u200eJumlah kabupaten\/kota terdampak: 52 \u200e \u200eBNPB mencatat korban tewas paling banyak terdapat di wilayah Agam, Sumatera Barat, dengan total 172 jiwa. Aceh Utara juga menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak sebesar 304 ribu orang. \u200e \u200eKemensos Salurkan Bantuan Rp 66,7 M untuk Penanganan Bencana Sumatera \u200eJumlah korban tewas, hilang, luka serta yang menjadi pengungsi dapat bertambah seiring proses evakuasi dan pembersihan sisa material banjir bandang serta longsor dilakukan. \u200e \u200eHingga kini, sejumlah ruas jalan di Aceh, Sumut, dan Sumbar masih terputus. Aliran listrik dan komunikasi di daerah terdampak bencana juga belum sepenuhnya normal. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53637,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406],"tags":[],"class_list":["post-53636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53636"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53636\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53638,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53636\/revisions\/53638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53637"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}