{"id":53615,"date":"2025-12-07T19:25:18","date_gmt":"2025-12-07T12:25:18","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53615"},"modified":"2025-12-07T21:46:45","modified_gmt":"2025-12-07T14:46:45","slug":"kalahkan-alexandre-pantoja-joshua-van-menjadi-juara-ufc-asal-asia-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/07\/kalahkan-alexandre-pantoja-joshua-van-menjadi-juara-ufc-asal-asia-pertama\/","title":{"rendered":"\u200eKalahkan Alexandre Pantoja, Joshua Van Menjadi Juara UFC Asal Asia Pertama \u200e \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lampungbarometer.id<\/strong> &#8211; Joshua Van menjadi juara UFC usai mengalahkan petarung UFC asal Brasil, Alexandre Pantoja, dalam pertarungan kejuaraan kelas terbang di ajang UFC 323 yang digelar di T-Mobile Arena Las Vegas, Nevada pada Minggu (7\/12\/2025) WIB.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePantoja mengalami kekalahan hanya dalam waktu kurang dari 30 detik akibat mengalami cedera. Pantoja jatuh ke kanvas dan mengalami patah lengan kiri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan kemenangan ini, petarung asal Myanmar ini menjadi raja baru di kelas terbang sekaligus juara UFC pertama asal Asia. Dia juga menjadi juara termuda kedua dalam sejarah UFC setelah John Jones. Van menjadi juara UFC dalam usia 24 tahun, satu bulan, dan 27 hari.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam duel ini, Pantoja langsung tancap gas menekan lawannya sejak awal. Kedua petarung sempat dalam posisi clinch sebelum Pantoja mencoba tendangan kepala yang tajam.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eVan menangkap tendangan Pantoja, membuat sang juara menggantung di udara. Lalu, saat &#8216;Si Kanibal&#8217; hendak mendaratkan pukulan, lengan kirinya mengalami masalah dan tak bisa melanjutkan pertarungan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKomentator UFC, Joe Rogan, menyebut insiden itu sebagai &#8216;kecelakaan aneh&#8217; dan &#8216;sangat anti-klimaks&#8217;.<\/p>\n<p>\u200eUsai pertarungan, Pantoja yang berusia 35 tahun langsung membuat unggahan di media sosial. &#8220;Saya pernah mengalami yang lebih buruk. Saya akan kembali lebih kuat, Anda bisa yakin akan hal itu. Terima kasih atas pesan-pesannya,&#8221; tulisnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\nKomentator UFC, Joe Rogan, menyebut insiden itu sebagai &#8216;kecelakaan aneh&#8217; dan &#8216;sangat anti-klimaks&#8217;. Sementara itu, \u200eJurnalis MMA, Ariel Helwani, melaporkan cedera Pantoja adalah dislokasi siku. Meskipun tidak perlu operasi, dia memprediksi Pantoja akan absen beberapa bulan. (Yadi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lampungbarometer.id &#8211; Joshua Van menjadi juara UFC usai mengalahkan petarung UFC asal Brasil, Alexandre Pantoja, dalam pertarungan kejuaraan kelas terbang di ajang UFC 323 yang digelar di T-Mobile Arena Las Vegas, Nevada pada Minggu (7\/12\/2025) WIB. \u200e \u200ePantoja mengalami kekalahan hanya dalam waktu kurang dari 30 detik akibat mengalami cedera. Pantoja jatuh ke kanvas dan mengalami patah lengan kiri. \u200e \u200eDengan kemenangan ini, petarung asal Myanmar ini menjadi raja baru di kelas terbang sekaligus juara UFC pertama asal Asia. Dia juga menjadi juara termuda kedua dalam sejarah UFC setelah John Jones. Van menjadi juara UFC dalam usia 24 tahun, satu bulan, dan 27 hari. \u200e \u200eDalam duel ini, Pantoja langsung tancap gas menekan lawannya sejak awal. Kedua petarung sempat dalam posisi clinch sebelum Pantoja mencoba tendangan kepala yang tajam. \u200e \u200eVan menangkap tendangan Pantoja, membuat sang juara menggantung di udara. Lalu, saat &#8216;Si Kanibal&#8217; hendak mendaratkan pukulan, lengan kirinya mengalami masalah dan tak bisa melanjutkan pertarungan. \u200e \u200eKomentator UFC, Joe Rogan, menyebut insiden itu sebagai &#8216;kecelakaan aneh&#8217; dan &#8216;sangat anti-klimaks&#8217;. \u200eUsai pertarungan, Pantoja yang berusia 35 tahun langsung membuat unggahan di media sosial. &#8220;Saya pernah mengalami yang lebih buruk. Saya akan kembali lebih kuat, Anda bisa yakin akan hal itu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53616,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-53615","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-olah-raga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53615","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53615"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53619,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53615\/revisions\/53619"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53616"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}