{"id":53590,"date":"2025-12-07T08:00:29","date_gmt":"2025-12-07T01:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53590"},"modified":"2025-12-07T08:21:04","modified_gmt":"2025-12-07T01:21:04","slug":"cuaca-ekstrem-sebabkan-4-kabupaten-di-lampung-banjir-hingga-tanah-longsor-bmkg-imbau-masyarakat-waspada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/12\/07\/cuaca-ekstrem-sebabkan-4-kabupaten-di-lampung-banjir-hingga-tanah-longsor-bmkg-imbau-masyarakat-waspada\/","title":{"rendered":"Cuaca Ekstrem Sebabkan 4 Kabupaten di Lampung Banjir Hingga Tanah Longsor, BMKG Imbau Masyarakat Waspada"},"content":{"rendered":"<p><em>\u200efoto: Ilustrasi<\/em><\/p>\n<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Cuaca ekstrem yang terjadi di Provinsi Lampung menyebabkan banjir, longsor hingga angin puting beliung di 4 kabupaten. BMKG memprediksi cuaca buruk masih akan terjadi setidaknya hingga 3 hari ke depan sehingga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eEmpat kabupaten yang mengalami banjir, tanah longsor hingga puting beliung, yaitu Lampung Selatan, Pesisir Barat, Tanggamus, dan Lampung Utara.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut petugas BMKG Raden Intan Lampung, Iqbal Arief Pangestu, fenomena cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang yang terjadi di Provinsi Lampung disebabkan gelombang Rossby yang memicu pembentukan awan-awan hujan yang cukup intens.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Beberapa gelombang atmosfer seperti <em>low frequence<\/em> dan gelombang Rossby terpantau aktif di wilayah Sumatera bagian tengah hingga Lampung,&#8221; katanya, Sabtu (6\/12\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Suhu permukaan laut di sekitar Lampung juga terpantau hangat sehingga menambah pasokan uap air ke atmosfer, ditambah adanya kelembapan udara tinggi di lapisan bawah atmosfer. Kondisi ini secara keseluruhan meningkatkan potensi terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di wilayah Lampung,&#8221; imbuhnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIqbal menjelaskan potensi hujan dengan intensitas tinggi umumnya terjadi sejak siang hingga malam hari meliputi wilayah Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Tanggamus, Lampung Selatan, dan Pesisir barat, Tulang Bawang Barat dan Pesawaran. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat selalu waspada.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Selalu waspada dan mencari informasi perkembangan cuaca terkini di situs maupun media sosial BMKG. Semua informasi perubahan cuaca selalu kami update,&#8221; tandasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung melaporkan ratusan rumah terdampak bencana yang terjadi sejak Selasa (2\/12\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHumas BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menjelaskan bencana alam yang melanda beberapa kabupaten di Lampung mencakup banjir, tanah longsor, dan puting beliung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Ada 4 kabupaten yang terdampak, yaitu Lampung Selatan, Pesisir Barat, Tanggamus, dan Lampung Utara,&#8221; ungkap Wahyu, Sabtu (6\/12\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebanyak 34 rumah di Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan rusak akibat dihantam angin puting beliung. Di Kabupaten Pesisir Barat, dua kecamatan mengalami banjir hingga setinggi satu meter. &#8220;Ada dua kecamatan yang mengalami longsor dan banjir hingga setinggi satu meter,&#8221; kata Wahyu.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDi Lampung Utara, hujan deras disertai badai melanda Desa Bumi Agung dan menyebabkan sejumlah fasilitas dan rumah warga mengalami kerusakan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, luapan Kali Bego di Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus pada Kamis (4\/12\/2025) sore membuat air meluap dan merendam 350 rumah warga dengan ketinggian banjir mencapai 120 sentimeter. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200efoto: Ilustrasi Bandar Lampung (LB): Cuaca ekstrem yang terjadi di Provinsi Lampung menyebabkan banjir, longsor hingga angin puting beliung di 4 kabupaten. BMKG memprediksi cuaca buruk masih akan terjadi setidaknya hingga 3 hari ke depan sehingga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. \u200e \u200eEmpat kabupaten yang mengalami banjir, tanah longsor hingga puting beliung, yaitu Lampung Selatan, Pesisir Barat, Tanggamus, dan Lampung Utara. \u200e \u200eMenurut petugas BMKG Raden Intan Lampung, Iqbal Arief Pangestu, fenomena cuaca ekstrem hujan deras disertai angin kencang yang terjadi di Provinsi Lampung disebabkan gelombang Rossby yang memicu pembentukan awan-awan hujan yang cukup intens. \u200e \u200e&#8221;Beberapa gelombang atmosfer seperti low frequence dan gelombang Rossby terpantau aktif di wilayah Sumatera bagian tengah hingga Lampung,&#8221; katanya, Sabtu (6\/12\/2025). \u200e \u200e&#8221;Suhu permukaan laut di sekitar Lampung juga terpantau hangat sehingga menambah pasokan uap air ke atmosfer, ditambah adanya kelembapan udara tinggi di lapisan bawah atmosfer. Kondisi ini secara keseluruhan meningkatkan potensi terjadinya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di wilayah Lampung,&#8221; imbuhnya. \u200e \u200eIqbal menjelaskan potensi hujan dengan intensitas tinggi umumnya terjadi sejak siang hingga malam hari meliputi wilayah Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Tanggamus, Lampung Selatan, dan Pesisir barat, Tulang Bawang Barat dan Pesawaran. Oleh karena itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53593,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1196],"tags":[],"class_list":["post-53590","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53590"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53595,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53590\/revisions\/53595"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}