{"id":53343,"date":"2025-11-24T18:57:08","date_gmt":"2025-11-24T11:57:08","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53343"},"modified":"2025-12-01T19:26:40","modified_gmt":"2025-12-01T12:26:40","slug":"laku-ratusan-cangkir-per-hari-pedagang-kopi-keliling-raih-cuan-di-lampung-fest-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/11\/24\/laku-ratusan-cangkir-per-hari-pedagang-kopi-keliling-raih-cuan-di-lampung-fest-2025\/","title":{"rendered":"\u200eLaku Ratusan Cangkir Per Hari, Pedagang Kopi Keliling Raih Cuan di Lampung Fest 2025"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Lampung Fest 2025 yang digelar 11-25 November dengan mengusung tema \u201cCoffee and Tourism\u201d menampilkan ragam kopi premium lewat lomba manual brew, Coffee Pairing Competition hingga kopi tubruk kreasi menjado ajang meraih cuan bagi pedagang kopi keliling.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDelapan pedagang kopi keliling yang beradi di liar Paviliun Kopi mencuri perhatian dengan penjualan mencapai ratusan cangkir per hari selama festival. Fenomena ini menunjukkan kopi di Lampung bukan hanya komoditas ekspor berkelas, tetapi juga bagian dari ekonomi rakyat yang hidup dan digerakkan dari pinggir jalan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan harga Rp 8.000\u201312.000 per cangkir, para pedagang kopi keliling menjadi pilihan banyak pengunjung yang membutuhkan kopi cepat dengan harga terjangkau.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAdi (28), pedagang asal Bandar Lampung, mengaku penjualannya melonjak selama festival. \u201cDi hari biasa selama festival bisa 50\u201370 cup, tapi Sabtu dan Minggu bisa 100 bahkan 150 cup. Dari sore sampai malam nggak berhenti,\u201d ujarnya, Senin (24\/11\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eYusuf (32), pedagang dari Metro, mengatakan kopi keliling menyasar segmen berbeda dari booth premium.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKami nggak bersaing sama kafe atau barista. Kami jual kopi cepat, murah, dan cukup buat orang yang butuh minum langsung. Hasil dari sini lumayan buat kebutuhan sehari-hari,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBaik Adi dan Yusuf mengaku Lampung Fest menjadi momentum bagus bagi pedagang seperti mereka.<br \/>\n\u200e<\/p>\n<div id=\"attachment_53344\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-53344\" class=\"wp-image-53344 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG-20251124-WA0189.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"900\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG-20251124-WA0189.jpg 1200w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG-20251124-WA0189-320x240.jpg 320w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG-20251124-WA0189-600x450.jpg 600w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG-20251124-WA0189-80x60.jpg 80w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><p id=\"caption-attachment-53344\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>LAYANI PEMBELI.<\/strong> Seorang pedagang kopi keliling di ajang Lampung Fest 2025 terlihat sibuk melayani pembeli.<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u200e\u201cDi festval ini kami tidak perlu keliling, orang yang datang. Ada ribuan pengunjung setiap hari, itu sangat terasa untuk kami,\u201d ujar Yusuf.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eJika dihitung, delapan pedagang keliling yang beroperasi di sekitar area festival bisa menjual ratusan higga seribuan cangkir per hari secara total, menunjukkan tingginya permintaan kopi di level street vendor.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBeberapa pengunjung mengaku memilih kopi keliling karena kepraktisan. Nanda, misalnya, mengaku memilih kopi keliling karena Mudah dan cepat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cJujur, saya bukan pecinta kopi serius. Beli saja, yang penting cepat dan murah. Kalau sedang kelelahan berjalan begini, es kopi susu Rp 10.000 ya sudah cukup,\u201d ujar Nanda (22), pengunjung asal Sukarame.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePendapat berbeda disampaikan Rusdy (45), pengunjung asal Bukit Kemiling Permai. Menurutnya, pedagang keliling tetap memiliki tempat selama mereka menjaga kebersihan dan konsistensi rasa.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cTidak harus seenak kopi di kafe-kafe. Buat saya yang penting bersih, harganya masuk akal, dan tidak terlalu manis. Ada dua pedagang di sini yang rasanya lumayan,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eRusdy menilai, kontras antara booth kopi premium dan kopi keliling memperlihatkan rentang pelaku dalam ekosistem kopi Lampung, dari industri kreatif hingga pelaku mikro di jalanan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Keduanya mencerminkan wajah kopi Lampung yang berlapis dan dinamis,&#8221; ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, menilai keberadaan kopi keliling justru memperkaya ekosistem festival.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurutnya, keberagaman pelaku dari barista profesional hingga pedagang mikro, menunjukkan budaya kopi Lampung hidup di semua lapisan masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cFestival ini punya banyak lapisan pengunjung. Ada yang datang untuk mencicip kopi premium, ada yang hanya ingin menikmati suasana sambil minum kopi sederhana. Pedagang keliling mengisi kebutuhan itu,&#8221; ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menegaskan dalam kegiatan berskala besar seperti Lampung Fest, keragaman pelaku ekonomi kreatif adalah hal yang tidak bisa dihindari dan justru berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cFestival seperti ini kami rancang sebagai ruang besar. Di sini pelaku bisa bertemu, belajar, dan melihat peluang. Soal peningkatan teknik atau kualitas, itu bagian yang bisa didorong oleh komunitas dan industrinya,\u201d katanya. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Lampung Fest 2025 yang digelar 11-25 November dengan mengusung tema \u201cCoffee and Tourism\u201d menampilkan ragam kopi premium lewat lomba manual brew, Coffee Pairing Competition hingga kopi tubruk kreasi menjado ajang meraih cuan bagi pedagang kopi keliling. \u200e \u200eDelapan pedagang kopi keliling yang beradi di liar Paviliun Kopi mencuri perhatian dengan penjualan mencapai ratusan cangkir per hari selama festival. Fenomena ini menunjukkan kopi di Lampung bukan hanya komoditas ekspor berkelas, tetapi juga bagian dari ekonomi rakyat yang hidup dan digerakkan dari pinggir jalan. \u200e \u200eDengan harga Rp 8.000\u201312.000 per cangkir, para pedagang kopi keliling menjadi pilihan banyak pengunjung yang membutuhkan kopi cepat dengan harga terjangkau. \u200e \u200eAdi (28), pedagang asal Bandar Lampung, mengaku penjualannya melonjak selama festival. \u201cDi hari biasa selama festival bisa 50\u201370 cup, tapi Sabtu dan Minggu bisa 100 bahkan 150 cup. Dari sore sampai malam nggak berhenti,\u201d ujarnya, Senin (24\/11\/2025). \u200e \u200eYusuf (32), pedagang dari Metro, mengatakan kopi keliling menyasar segmen berbeda dari booth premium. \u200e \u200e\u201cKami nggak bersaing sama kafe atau barista. Kami jual kopi cepat, murah, dan cukup buat orang yang butuh minum langsung. Hasil dari sini lumayan buat kebutuhan sehari-hari,\u201d katanya. \u200e \u200eBaik Adi dan Yusuf mengaku Lampung Fest menjadi momentum bagus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53345,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[412,8],"tags":[],"class_list":["post-53343","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ekonomi-dan-bisnis","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53343"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53343\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53346,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53343\/revisions\/53346"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53345"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}