{"id":53219,"date":"2025-11-12T18:28:21","date_gmt":"2025-11-12T11:28:21","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53219"},"modified":"2025-11-12T18:48:23","modified_gmt":"2025-11-12T11:48:23","slug":"dihujat-netizen-usai-video-viral-cium-anak-anak-di-pengajian-gus-elham-ngaku-khilaf-dan-minta-maaf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/11\/12\/dihujat-netizen-usai-video-viral-cium-anak-anak-di-pengajian-gus-elham-ngaku-khilaf-dan-minta-maaf\/","title":{"rendered":"\u200eDihujat Netizen Usai Video Viral Cium Anak-Anak di Pengajian, Gus Elham Ngaku Khilaf dan Minta Maaf \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Muhammad Ilham Yahya Luqman Almaliki, yang dikenal sebagai Gus Elham, menjadi sorotan publik setelah video dirinya mencium beberapa anak perempuan di majelis pengajian viral di media sosial.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenanggapi kontroversi ini, Ilham Yahya Almaliki meminta maaf dan mengaku khilaf dan berjanji untuk menjadi lebih baik.<\/p>\n<div style=\"width: 840px;\" class=\"wp-video\"><video class=\"wp-video-shortcode\" id=\"video-53219-1\" width=\"840\" height=\"473\" loop autoplay preload=\"auto\" controls=\"controls\"><source type=\"video\/mp4\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Ilham-Yahya.mp4?_=1\" \/><a href=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Ilham-Yahya.mp4\">https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Ilham-Yahya.mp4<\/a><\/video><\/div>\n<p>\u200e\u201cSaya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang<br \/>\n\u200emenimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,&#8221; ujarnya di Majelis Taklim Ibadallah, Kediri, seperti dikutip <em><strong>lampungbarometer.id<\/strong><\/em>, Rabu (12\/11\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenanggapi hal ini, Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafii, menegaskan tindakan pendakwah asal Kediri tersebut tidak patut. Dia juga menekankan pentingnya pengawasan serta keteladanan dalam ruang publik keagamaan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kemenag akan memastikan pengawasan dan penertiban dalam kegiatan keagamaan agar tidak menimbulkan kontroversi serupa,&#8221; tegasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Saya sepakat dengan pendapat publik bahwa itu tidak pantas dan harus dihentikan (aksi mencium anak di panggung pengajian, red). Yang bersangkutan harus mengembalikan kepada posisinya, dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi,&#8221; pungkasnya. (AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Muhammad Ilham Yahya Luqman Almaliki, yang dikenal sebagai Gus Elham, menjadi sorotan publik setelah video dirinya mencium beberapa anak perempuan di majelis pengajian viral di media sosial. \u200e \u200eMenanggapi kontroversi ini, Ilham Yahya Almaliki meminta maaf dan mengaku khilaf dan berjanji untuk menjadi lebih baik. \u200e\u201cSaya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas beredarnya video yang \u200emenimbulkan kegaduhan. Saya mengakui bahwa hal tersebut merupakan kekhilafan dan kesalahan saya pribadi,&#8221; ujarnya di Majelis Taklim Ibadallah, Kediri, seperti dikutip lampungbarometer.id, Rabu (12\/11\/2025). \u200e \u200eMenanggapi hal ini, Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafii, menegaskan tindakan pendakwah asal Kediri tersebut tidak patut. Dia juga menekankan pentingnya pengawasan serta keteladanan dalam ruang publik keagamaan. \u200e \u200e&#8221;Kemenag akan memastikan pengawasan dan penertiban dalam kegiatan keagamaan agar tidak menimbulkan kontroversi serupa,&#8221; tegasnya. \u200e \u200e&#8221;Saya sepakat dengan pendapat publik bahwa itu tidak pantas dan harus dihentikan (aksi mencium anak di panggung pengajian, red). Yang bersangkutan harus mengembalikan kepada posisinya, dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi,&#8221; pungkasnya. (AK)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53222,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,406],"tags":[],"class_list":["post-53219","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hukum-dan-kriminal","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53219"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53224,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53219\/revisions\/53224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53222"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}