{"id":53183,"date":"2025-11-11T12:18:50","date_gmt":"2025-11-11T05:18:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=53183"},"modified":"2025-11-11T12:18:50","modified_gmt":"2025-11-11T05:18:50","slug":"jadi-arena-balap-liar-tugu-perahu-sabah-balau-penuh-coretan-banyak-sampah-dan-lubang-di-badan-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/11\/11\/jadi-arena-balap-liar-tugu-perahu-sabah-balau-penuh-coretan-banyak-sampah-dan-lubang-di-badan-jalan\/","title":{"rendered":"\u200eJadi Arena Balap Liar, Tugu Perahu Sabah Balau Penuh Coretan, Banyak Sampah, dan Lubang di Badan Jalan"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<strong>Lampung Selatan (LB):<\/strong> Kondisi Tugu Perahu atau sering juga disebut Tugu Putri Penari di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sangat memprihatinkan, kumuh dan tidak terawat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain kondisinya yang kumuh dan penuh coretan oleh aksi vandalisme orang yang tidak bertanggung jawab, di sekitar tugu tersebut juga berserakan sampah plastik, seperti botol minuman atau kemasan makanan ringan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTampak pula ada kerusakan di beberapa bagian, diduga disebabkan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSalah satu warga Desa Sabah Balau, Aan (21) mengatakan pelaku vandalisme di Tugu Perahu bukan warga sekitar, tapi dilakukan oleh para pengunjung yang tidak kita kenal. &#8220;Kalau sore kan banyak yang nongkrong di situ dan seringnya ada balapan liar juga, kalau warga sini tidak pernah corat-coret, pelakunya bukan orang sini,&#8221; ucap Aan, Selasa (11\/11\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eWarga lainnya, Lastri (32) mengatakan Tugu Perahu sudah menjadi ikon Desa Sabah Balau. Dia mengaku bangga dengan dibangunnya tugu tersebut, namun dia menyayangkan saat ini tugu tersebut terlihat kumuh dan kotor.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Sebagai warga Sabah Balau, tentu bangga karena tugu itu jadi brand. Orang tahu Sabah Balau karena ada tugu itu. Jadi kalau ada yang tanya alamat rumah, tinggal bilang Tugu Perahu, orang paham. Namun, sekarang kondisinya sangat mempritinkan karena tidak dirawat,&#8221; ungkap Lastri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain kondisinya yang kumuh dan rusak, berdasarkan pantauan lampungbarometer.id, pada sore hari, sekitar Pukul 15.30 WIB hingga waktu salat Magrib, ruas jalan dua jalur di Tugu Perahu, menjadi ajang balap liar bagi remaja sehingga sangat mengganggu dan membahayakan para pengguna jalan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebenarnya sudah ada upaya rutin penertiban oleh polisi, tapi belum membuahkan hasil. Para pelaku hanya sebentar menghilang lalu kembali lagi. Bahkan, para pelaku balap liar yang &#8220;kucing-kucingan&#8221; dengan polisi seakan tidak peduli dengan pengguna jalan lain.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eArdi, salah satu pengguna jalan, mengaku selalu was-was dan khawatir setiap akan melintasi ruas jalan tersebut saat sore hari. Padahal, sebagai buruh bangunan, dia rutin melalui jalan tersebut setiap sore.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau pulang kerja selalu merasa khawatir dan tidak nyaman saat melintasi ruas jalan dua jalur Sabah Balau. Banyak remaja yang balap liar bahkan sampai menuhi badan jalan. Mereka kandang cuek dan biasa saja ketika ada pengguna jalan yang melintas,&#8221; ujar Ardi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain problem sampah, coretan, dan balap liar, problem lain yang juga sangat membahayakan adalah lubang menganga di badan jalan serta batu split yang berserakan tepat di bundaran.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTampak sebuah ban bekas diletakkan warga tepat di jalan yang berlubang untuk mencegah terjadi korban jiwa. Kondisi ini tentu sangat membahayakan, terutama di malam hari karena di ruas jalan ini gelap sebab penerangan jalan sangat kurang.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Untuk pengguna jalan hati-hati kalau lewat bundaran, khususnya dari Arab bandar Lampung menuju ruas jalan ke arah Agropark. Sebab tepat di badan jalan ada lubang menganga dan ada pasir serta batu split berserakan,&#8221; im uh Aan. (Yadi\/Herdi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eLampung Selatan (LB): Kondisi Tugu Perahu atau sering juga disebut Tugu Putri Penari di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung sangat memprihatinkan, kumuh dan tidak terawat. \u200e \u200eSelain kondisinya yang kumuh dan penuh coretan oleh aksi vandalisme orang yang tidak bertanggung jawab, di sekitar tugu tersebut juga berserakan sampah plastik, seperti botol minuman atau kemasan makanan ringan. \u200e \u200eTampak pula ada kerusakan di beberapa bagian, diduga disebabkan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. \u200e \u200eSalah satu warga Desa Sabah Balau, Aan (21) mengatakan pelaku vandalisme di Tugu Perahu bukan warga sekitar, tapi dilakukan oleh para pengunjung yang tidak kita kenal. &#8220;Kalau sore kan banyak yang nongkrong di situ dan seringnya ada balapan liar juga, kalau warga sini tidak pernah corat-coret, pelakunya bukan orang sini,&#8221; ucap Aan, Selasa (11\/11\/2025). \u200e \u200eWarga lainnya, Lastri (32) mengatakan Tugu Perahu sudah menjadi ikon Desa Sabah Balau. Dia mengaku bangga dengan dibangunnya tugu tersebut, namun dia menyayangkan saat ini tugu tersebut terlihat kumuh dan kotor. \u200e \u200e&#8221;Sebagai warga Sabah Balau, tentu bangga karena tugu itu jadi brand. Orang tahu Sabah Balau karena ada tugu itu. Jadi kalau ada yang tanya alamat rumah, tinggal bilang Tugu Perahu, orang paham. Namun, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":53184,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[114],"tags":[],"class_list":["post-53183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-lampung-selatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53183"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53183\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53185,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53183\/revisions\/53185"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}