{"id":52950,"date":"2025-10-25T13:26:36","date_gmt":"2025-10-25T06:26:36","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52950"},"modified":"2025-10-25T13:26:36","modified_gmt":"2025-10-25T06:26:36","slug":"pkd-lampung-2025-diskusi-buku-toponimi-hidupkan-jejak-budaya-dan-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/25\/pkd-lampung-2025-diskusi-buku-toponimi-hidupkan-jejak-budaya-dan-sejarah\/","title":{"rendered":"\u200ePKD Lampung 2025: Diskusi Buku Toponimi Hidupkan Jejak Budaya dan Sejarah"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Suasana Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung (TBL), Jl. Cut Nyak Dien No. 24, Palapa, Tanjung Karang Pusat, Rabu (22\/10\/2025) terasa berbeda. Ruang yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni, kali ini menjadi arena pemikiran dan refleksi sejarah dalam Diskusi Buku Toponimi, salah satu agenda penting dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) IV Provinsi Lampung 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ini menyoroti dua karya monumental: \u201cToponimi Sumatra Bagian Selatan\u201d dan \u201cToponimi Bandarlampung\u201d, yang sama-sama menggali jejak sejarah dan identitas wilayah melalui penelusuran asal-usul penamaan tempat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDiskusi menghadirkan dua penulisnya, Anshori Djausal, ketua Akademi Lampung, dan Iwan Nurdaya-Djafar, sekretaris Akademi Lampung, serta dipandu Dr. Khaidarmansyah dari IIB Darmajaya. Turut hadir pula jurnalis dan penulis Maspriel Aries, yang memberikan pandangan kritis terhadap pentingnya kajian toponimi di era modern.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAnshori menjelaskan bukunya, \u201cToponimi Sumatra Bagian Selatan (berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920\u20131940)\u201d, merupakan hasil penelitian selama hampir satu dekade. Buku setebal lebih dari 330 halaman ini memuat sekitar 3.560 nama tempat, mulai dari umbul, kampung, bukit, gunung, hingga sungai, yang semuanya merekam hubungan erat antara penamaan tempat, budaya lokal, dan dinamika sosial masyarakat masa lalu.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cToponimi tidak sekadar nama di peta, melainkan identitas dan memori kolektif masyarakat,\u201d ujar Anshori.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Iwan Nurdaya-Djafar memaparkan bukunya \u201cToponimi Bandarlampung\u201d, yang mengulas lebih dari 300 halaman data tentang asal-usul nama-nama tempat di ibu kota Provinsi Lampung. Dari nama kelurahan hingga rumah sakit dan pasar, buku ini menelusuri kisah di balik nama yang sering luput dari perhatian warga kota.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cSetiap nama tempat adalah potongan sejarah. Melalui toponimi, kita dapat membaca perjalanan kota ini dari masa ke masa,\u201d tutur Iwan, yang baru-baru ini mendapat penghargaan dari Badan Bahasa atas kiprahnya di dunia sastra lebih dari 40 tahun.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMaspriel Aries menegaskan kajian toponimi memiliki manfaat praktis bagi tata ruang kota, penyusunan peta, dan bahkan mitigasi bencana. \u201cTanpa nama yang bermakna, peta menjadi \u2018peta buta\u2019. Buku-buku ini memberi arah dan makna bagi wilayah, sekaligus menjaga warisan bahasa lokal,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDiskusi pun menghasilkan rekomendasi menarik: kegiatan lanjutan berupa penanaman pohon yang namanya digunakan pada banyak toponimi di Bandar Lampung, bekerja sama dengan Taman Estetika Kebun Raya Institut Teknologi Sumatra (Itera).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eLangkah ini menjadi simbol keterikatan antara alam, sejarah, dan kebudayaan lokal. Dengan semangat kebudayaan yang hidup dan reflektif, PKD IV 2025 membuktikan sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi juga untuk dijaga dan dihidupkan kembali melalui pengetahuan dan tindakan nyata. (ch)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Suasana Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung (TBL), Jl. Cut Nyak Dien No. 24, Palapa, Tanjung Karang Pusat, Rabu (22\/10\/2025) terasa berbeda. Ruang yang biasanya digunakan untuk pertunjukan seni, kali ini menjadi arena pemikiran dan refleksi sejarah dalam Diskusi Buku Toponimi, salah satu agenda penting dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) IV Provinsi Lampung 2025. \u200e \u200eKegiatan ini menyoroti dua karya monumental: \u201cToponimi Sumatra Bagian Selatan\u201d dan \u201cToponimi Bandarlampung\u201d, yang sama-sama menggali jejak sejarah dan identitas wilayah melalui penelusuran asal-usul penamaan tempat. \u200e \u200eDiskusi menghadirkan dua penulisnya, Anshori Djausal, ketua Akademi Lampung, dan Iwan Nurdaya-Djafar, sekretaris Akademi Lampung, serta dipandu Dr. Khaidarmansyah dari IIB Darmajaya. Turut hadir pula jurnalis dan penulis Maspriel Aries, yang memberikan pandangan kritis terhadap pentingnya kajian toponimi di era modern. \u200e \u200eAnshori menjelaskan bukunya, \u201cToponimi Sumatra Bagian Selatan (berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920\u20131940)\u201d, merupakan hasil penelitian selama hampir satu dekade. Buku setebal lebih dari 330 halaman ini memuat sekitar 3.560 nama tempat, mulai dari umbul, kampung, bukit, gunung, hingga sungai, yang semuanya merekam hubungan erat antara penamaan tempat, budaya lokal, dan dinamika sosial masyarakat masa lalu. \u200e \u200e\u201cToponimi tidak sekadar nama di peta, melainkan identitas dan memori kolektif masyarakat,\u201d ujar Anshori. \u200e \u200eSementara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52951,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,15],"tags":[],"class_list":["post-52950","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52950","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52950"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52950\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52952,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52950\/revisions\/52952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}