{"id":52945,"date":"2025-10-24T22:21:24","date_gmt":"2025-10-24T15:21:24","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52945"},"modified":"2025-10-24T22:23:59","modified_gmt":"2025-10-24T15:23:59","slug":"paris-masuk-10-kota-dengan-kasus-copet-tertinggi-di-dunia-tahun-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/24\/paris-masuk-10-kota-dengan-kasus-copet-tertinggi-di-dunia-tahun-2025\/","title":{"rendered":"\u200eParis Masuk 10 Kota dengan Kasus Copet Tertinggi di Dunia Tahun 2025 \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>LAMPUNGBAROMETER.ID<\/strong> &#8211; Kasus pencurian dan penipuan (copet) marak terjadi di tempat wisata di kota-kota besar yang populer di dunia, salah satunya Kota Paris yang berada di Prancis. Terlepas dari popularitasnya yang sangat mendunia sehingga banyak dikunjungi wisatawan, ternyata kota mode ini juga menjadi surga bagi para pencopet.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebuah studi yang dilakukan perusahaan perantara asuransi, Compare the Market, yang berbasis di Australia merilis daftar kota dengan tingkat pencurian dan penipuan tertinggi di dunia tahun 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSeperti dikutip dari Travel and Tour World, Jumat (23\/10\/2025), Kota Bangkok yang ada di Thailand menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan tingkat copet dan rawan penipuan di dunia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerdasarkan studi yang dilakukan, Compare the Market Australia menganalisis ulasan wisatawan dan laporan keamanan dari destinasi wisata utama di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan Bangkok mencatatkan angka paling tinggi, yakni 9,82 penipuan dan pencopetan per 1.000 ulasan, melampaui semua kota lainnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIni menunjukkan wisatawan yang berkunjung ke ibu kota Thailand itu berisiko paling tinggi untuk mengalami pencurian atau penipuan, terutama di sekitar objek wisata ikonik seperti Grand Palace.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKota Mode, Paris, menduduki posisi kedua dengan mencatat angka 6,81 penyebutan per 1.000 ulasan untuk pencopetan dan penipuan. Landmark ikonis seperti Basilique du Sacr\u00e9-C\u0153ur, Montmartre, dan Menara Eiffel berulang kali disebut sebagai lokasi berisiko tinggi terhadap pencurian dan penipuan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePesona romantis dan popularitas ibu kota Prancis yang menjadi magnet jutaan wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk berkunjung setiap tahun, membuatnya menjadikan lahan subur bagi pencurian dengan modus pedagang kaki lima, pengemis, dan penjual tiket yang terlibat dalam skema penipuan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePraha, yang menjadi ikon Republik Ceko, ada di peringkat ketiga dalam daftar tersebut, dengan 6,51 penyebutan penipuan dan pencopetan per 1.000 ulasan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eShanghai di Cina menduduki peringkat keempat, diikuti oleh Agra di India. Dua kota ini menjadi pusat penipuan dan pencurian utama di Asia. Shanghai, yang terkenal dengan objek wisata seperti Jalan Nanjing, mencatat 6,28 penyebutan per 1.000 ulasan, sementara Agra, yang banyak dikunjungi karena Taj Mahal, mencatat 4,77 penyebutan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSeiring pulihnya pariwisata global, tren kejahatan jenis ini menjadi tantangan yang dihadapi industri pariwisata. Popularitas destinasi wisata memang mampu mengundang banyak wisatawan, tapi yang harus menjadi perhatian adalah aksi penjahat oportunis yang selalu menjadikan wisatawan sebagai target.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerikut daftar 10 kota dengan kasus pencopetan tertinggi di dunia:<\/p>\n<ol>\n<li>\u200eBangkok<\/li>\n<li>Paris<\/li>\n<li>\u200ePraha<\/li>\n<li>Shanghai<\/li>\n<li>Agra<\/li>\n<li>Shenzen<\/li>\n<li>Roma<\/li>\n<li>Pattaya<\/li>\n<li>Phuket<\/li>\n<li>Mumbai. (*\/red)<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LAMPUNGBAROMETER.ID &#8211; Kasus pencurian dan penipuan (copet) marak terjadi di tempat wisata di kota-kota besar yang populer di dunia, salah satunya Kota Paris yang berada di Prancis. Terlepas dari popularitasnya yang sangat mendunia sehingga banyak dikunjungi wisatawan, ternyata kota mode ini juga menjadi surga bagi para pencopet. \u200e \u200eSebuah studi yang dilakukan perusahaan perantara asuransi, Compare the Market, yang berbasis di Australia merilis daftar kota dengan tingkat pencurian dan penipuan tertinggi di dunia tahun 2025. \u200e \u200eSeperti dikutip dari Travel and Tour World, Jumat (23\/10\/2025), Kota Bangkok yang ada di Thailand menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan tingkat copet dan rawan penipuan di dunia. \u200e \u200eBerdasarkan studi yang dilakukan, Compare the Market Australia menganalisis ulasan wisatawan dan laporan keamanan dari destinasi wisata utama di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan Bangkok mencatatkan angka paling tinggi, yakni 9,82 penipuan dan pencopetan per 1.000 ulasan, melampaui semua kota lainnya. \u200e \u200eIni menunjukkan wisatawan yang berkunjung ke ibu kota Thailand itu berisiko paling tinggi untuk mengalami pencurian atau penipuan, terutama di sekitar objek wisata ikonik seperti Grand Palace. \u200e \u200eKota Mode, Paris, menduduki posisi kedua dengan mencatat angka 6,81 penyebutan per 1.000 ulasan untuk pencopetan dan penipuan. Landmark ikonis seperti Basilique du Sacr\u00e9-C\u0153ur, Montmartre, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,412,7],"tags":[],"class_list":["post-52945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hiburan","category-barometer-ekonomi-dan-bisnis","category-pariwisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52945"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52945\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52949,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52945\/revisions\/52949"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}