{"id":52938,"date":"2025-10-24T19:19:37","date_gmt":"2025-10-24T12:19:37","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52938"},"modified":"2025-11-28T19:44:46","modified_gmt":"2025-11-28T12:44:46","slug":"gubernur-lampung-rapat-percepatan-investasi-bioetanol-bersama-wamen-investasi-dan-menkop-ukm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/24\/gubernur-lampung-rapat-percepatan-investasi-bioetanol-bersama-wamen-investasi-dan-menkop-ukm\/","title":{"rendered":"\u200eGubernur Lampung Rapat Percepatan Investasi Bioetanol bersama Wamen Investasi dan Menkop UKM"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eJakarta (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengikuti Rapat Percepatan Rencana Investasi Bioetanol bersama Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu dan Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono, di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jakarta, Kamis (23\/10\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePada kesempatan itu, Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menegaskan peran krusial koperasi petani dalam pengembangan ekosistem bioethanol nasional. Koperasi memiliki potensi besar untuk memperkuat rantai pasok energi terbarukan berbasis pertanian di Indonesia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKemenkop memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan potensi bioethanol di Indonesia, dengan melihat koperasi petani sebagai bagian penting. Keterlibatan ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pertanian lokal. Hal ini sekaligus mendorong kemandirian energi dan kesejahteraan petani. \u201cKementerian Koperasi memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan potensi bioetanol di Indonesia. Koperasi petani dapat menjadi bagian penting dalam ekosistem ini,\u201d ujar Ferry.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eFerry optimistis ekosistem bioetanol dapat segera terwujud. Hal ini didukung oleh regulasi pendukung yang telah disiapkan Kementerian Investasi serta adanya minat dari produsen otomotif besar asal Jepang, Toyota, untuk meningkatkan kapasitas produksi. Di sisi hulu, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan ratusan ribu hektare lahan untuk bahan baku seperti ubi kayu, tebu, dan jagung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eWakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menambahkan Indonesia kini memasuki era bahan bakar E10, campuran 10 persen etanol dalam bensin. Dengan E10, potensi pasar domestik diperkirakan mencapai tiga hingga empat juta kiloliter etanol per tahun.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTodotua juga menyebut produsen otomotif Jepang di Indonesia, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, telah menyatakan kesiapan terlibat dalam pengamanan pasokan bahan baku atau feedstock bagi pengembangan hidrogen dan bioetanol, termasuk terlibat di sektor hulu industri etanol. Dukungan ini memperkuat keyakinan akan terwujudnya ekosistem bioethanol yang terintegrasi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePada kesempatan ini, Rahmat Mirzani Djausal menyatakan komitmennya untuk mengoptimalkan sektor pertanian daerah sebagai bagian dari ekosistem industri bioetanol nasional. Ia menyebut Lampung adalah produsen utama singkong, peringkat kedua untuk tebu, dan ketiga untuk jagung. Meskipun komoditas tersebut ditanam di lahan ratusan ribu hektare, pemanfaatannya untuk industri hilir masih belum maksimal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Saat ini Lampung memiliki dua perusahaan ethanol yang beroperasi, tapi kapasitas serapnya terhadap hasil pertanian lokal masih terbatas, yang mengakibatkan kelebihan pasokan di tingkat petani sehingga berpotensi menurunkan harga,&#8221; ujar Gubernur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMirza berharap pengembangan ekosistem bioethanol, terutama bioethanol dari jagung, dapat mengatasi masalah ini dan meningkatkan nilai tambah pertanian.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eRapat ini juga dihadiri Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Nandi Julyanto dan jajaran Pemerintah Provinsi Lampung. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eJakarta (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengikuti Rapat Percepatan Rencana Investasi Bioetanol bersama Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu dan Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono, di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jakarta, Kamis (23\/10\/2025). \u200e \u200ePada kesempatan itu, Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menegaskan peran krusial koperasi petani dalam pengembangan ekosistem bioethanol nasional. Koperasi memiliki potensi besar untuk memperkuat rantai pasok energi terbarukan berbasis pertanian di Indonesia. \u200e \u200eKemenkop memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan potensi bioethanol di Indonesia, dengan melihat koperasi petani sebagai bagian penting. Keterlibatan ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pertanian lokal. Hal ini sekaligus mendorong kemandirian energi dan kesejahteraan petani. \u201cKementerian Koperasi memiliki semangat yang sama dalam mengembangkan potensi bioetanol di Indonesia. Koperasi petani dapat menjadi bagian penting dalam ekosistem ini,\u201d ujar Ferry. \u200e \u200eFerry optimistis ekosistem bioetanol dapat segera terwujud. Hal ini didukung oleh regulasi pendukung yang telah disiapkan Kementerian Investasi serta adanya minat dari produsen otomotif besar asal Jepang, Toyota, untuk meningkatkan kapasitas produksi. Di sisi hulu, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyiapkan ratusan ribu hektare lahan untuk bahan baku seperti ubi kayu, tebu, dan jagung. \u200e \u200eWakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu menambahkan Indonesia kini memasuki era bahan bakar E10, campuran [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52939,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406,8],"tags":[],"class_list":["post-52938","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52938","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52938"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52938\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52940,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52938\/revisions\/52940"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52938"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52938"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52938"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}