{"id":52896,"date":"2025-10-22T08:22:56","date_gmt":"2025-10-22T01:22:56","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52896"},"modified":"2025-10-22T08:22:56","modified_gmt":"2025-10-22T01:22:56","slug":"2-mahasiswa-unila-harumkan-lampung-di-forum-energi-asean-2025-kuala-lumpur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/22\/2-mahasiswa-unila-harumkan-lampung-di-forum-energi-asean-2025-kuala-lumpur\/","title":{"rendered":"\u200e2 Mahasiswa Unila Harumkan Lampung di Forum Energi ASEAN 2025 Kuala Lumpur"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kuala Lumpur (LB)<\/strong>: Dua mahasiswa Universitas Lampung, Salsa Bila Wijaya dan Ryan Mukti Sasongko, sukses mengharumkan nama almamater dan daerahnya di ajang The 5th ASEAN International Conference on Energy and Environment (AICEE) 2025 yang digelar di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, pada 15\u201317 Oktober 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKeduanya menjadi wakil Indonesia dalam forum bergengsi yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan se-ASEAN untuk membahas arah masa depan energi kawasan. Dalam sesi bertajuk Just and Inclusive Energy Transition, Salsa dan Ryan tampil sebagai presenter utama, membawakan hasil riset mereka yang menyoroti kesenjangan gender dalam kebijakan energi di Asia Tenggara.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eLewat penelitian berjudul \u201cGender Disparities and Energy Sustainability: Women as Catalysts in Indonesia, Vietnam, and Philippines\u2019 Renewable Transitions,\u201d Salsa dan Ryan menyoroti fakta sebagian besar kebijakan energi di kawasan ASEAN masih \u201cgender-blind\u201d, atau belum sepenuhnya mempertimbangkan peran perempuan dalam perencanaan dan implementasi transisi energi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKami ingin menunjukkan transisi energi bukan sekadar urusan teknologi atau ekonomi. Ia juga tentang keadilan sosial dan keterlibatan semua pihak, termasuk perempuan,\u201d ujar Salsa, mahasiswa Fakultas Hukum Unila yang tampil percaya diri di hadapan panelis dan peserta internasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Ryan Mukti Sasongko dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menegaskan pentingnya dukungan institusi terhadap riset mahasiswa. \u201cKami percaya prestasi akademik akan tumbuh jika kampus memberikan kepercayaan dan dukungan kepada mahasiswanya. Pengalaman ini membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah pun bisa bersuara di forum global,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam sesi presentasi yang digelar di Room 302 pada hari pertama konferensi, keduanya memaparkan empat pilar utama dari ASEAN Gender-Responsive Energy Transition Framework (AGRETF), yaitu Capacity Building and Education, Inclusive Decision-Making, Economic Empowerment, serta Gender-Sensitive Monitoring and Evaluation.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSesi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dari panelis dan peserta, termasuk perwakilan dari ASEAN Centre for Energy (ACE) dan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), yang menilai penelitian mereka sebagai kontribusi penting dalam memperkaya perspektif sosial dalam kebijakan energi kawasan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDukungan Pemerintah Daerah<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePerjalanan Salsa dan Ryan menuju Kuala Lumpur tidaklah mudah. Keduanya sempat menghadapi kendala pendanaan dan keraguan dari sebagian pihak terhadap relevansi kegiatan ini bagi institusi, tapi semangat mereka tidak surut.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBeruntung, dukungan datang dari Pemerintah Provinsi Lampung melalui fasilitas langsung Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, yang membantu keberangkatan keduanya sebagai wujud dukungan terhadap pengembangan kapasitas intelektual generasi muda Lampung di kancah internasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cAwalnya kami sempat merasa kecewa karena ada yang meragukan kegiatan ini, tapi kami tetap maju karena ingin membuktikan mahasiswa dari Lampung juga bisa berkontribusi di level ASEAN,\u201d tutur Salsa.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eForum Energi ASEAN dan Arah Baru Transisi Rendah Karbon<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAICEE 2025 merupakan bagian dari rangkaian besar KTT ASEAN ke-47 yang terintegrasi dengan ASEAN Business Forum (AEBF) dan ASEAN Minister on Energy Meeting (AMEM). Konferensi ini mengusung tema \u201cAdvancing Low-Carbon Development through Inclusive Regional Cooperation.\u201d<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan diikuti perwakilan dari berbagai kementerian energi negara-negara ASEAN, lembaga internasional seperti GIZ (Deutsche Gesellschaft f\u00fcr Internationale Zusammenarbeit), serta para pemimpin tinggi kawasan, di antaranya Perdana Menteri Malaysia Dato\u2019 Seri Anwar Ibrahim, Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia, dan Prof. Tetsuya Watanabe, Presiden ERIA.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePuncak acara ditandai dengan peluncuran ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) \u2014 dokumen strategis yang menjadi peta jalan kerja sama energi berkelanjutan di Asia Tenggara.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain mempresentasikan riset, Salsa dan Ryan juga mengikuti networking session dan poster showcase yang menampilkan inovasi energi terbarukan dari berbagai universitas di kawasan. Mereka turut berkunjung ke Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), belajar langsung tentang bagaimana lembaga pendidikan tinggi di Malaysia mengintegrasikan kebijakan energi ramah lingkungan dalam sistem akademiknya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBagi keduanya, pengalaman ini bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga tentang pembelajaran moral dan keberanian. \u201cKami belajar bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari panggung, tetapi dari tekad untuk tetap berjuang ketika dukungan terasa minim,\u201d ungkap Ryan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKisah perjuangan dua mahasiswa Unila ini menjadi inspirasi baru bagi kalangan akademik di Lampung. Bahwa keberanian untuk melangkah ke forum internasional bukanlah mimpi yang mustahil, selama ada keyakinan, kerja keras, dan dukungan nyata dari berbagai pihak. (*)<br \/>\n\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuala Lumpur (LB): Dua mahasiswa Universitas Lampung, Salsa Bila Wijaya dan Ryan Mukti Sasongko, sukses mengharumkan nama almamater dan daerahnya di ajang The 5th ASEAN International Conference on Energy and Environment (AICEE) 2025 yang digelar di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, pada 15\u201317 Oktober 2025. \u200e \u200eKeduanya menjadi wakil Indonesia dalam forum bergengsi yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan se-ASEAN untuk membahas arah masa depan energi kawasan. Dalam sesi bertajuk Just and Inclusive Energy Transition, Salsa dan Ryan tampil sebagai presenter utama, membawakan hasil riset mereka yang menyoroti kesenjangan gender dalam kebijakan energi di Asia Tenggara. \u200e \u200eLewat penelitian berjudul \u201cGender Disparities and Energy Sustainability: Women as Catalysts in Indonesia, Vietnam, and Philippines\u2019 Renewable Transitions,\u201d Salsa dan Ryan menyoroti fakta sebagian besar kebijakan energi di kawasan ASEAN masih \u201cgender-blind\u201d, atau belum sepenuhnya mempertimbangkan peran perempuan dalam perencanaan dan implementasi transisi energi. \u200e \u200e\u201cKami ingin menunjukkan transisi energi bukan sekadar urusan teknologi atau ekonomi. Ia juga tentang keadilan sosial dan keterlibatan semua pihak, termasuk perempuan,\u201d ujar Salsa, mahasiswa Fakultas Hukum Unila yang tampil percaya diri di hadapan panelis dan peserta internasional. \u200e \u200eSementara itu, Ryan Mukti Sasongko dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menegaskan pentingnya dukungan institusi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52897,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1194,8,11],"tags":[],"class_list":["post-52896","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-unila","category-pemprov-lampung","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52896","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52896"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52896\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52898,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52896\/revisions\/52898"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52897"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52896"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52896"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52896"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}