{"id":52876,"date":"2025-10-21T21:28:29","date_gmt":"2025-10-21T14:28:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52876"},"modified":"2025-10-21T21:28:29","modified_gmt":"2025-10-21T14:28:29","slug":"ardian-cahyadi-sebut-ketimpangan-infrastruktur-hambat-pembangunan-olah-raga-di-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/21\/ardian-cahyadi-sebut-ketimpangan-infrastruktur-hambat-pembangunan-olah-raga-di-lampung\/","title":{"rendered":"\u200eArdian Cahyadi Sebut Ketimpangan Infrastruktur Hambat Pembangunan Olah Raga di Lampung \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Akademisi olah raga, Ardian Cahyadi, menilai sentralisasi penyelenggaraan even olah raga di Bandar Lampung menjadi tantangan serius bagi pemerataan pembangunan olah raga di Provinsi Lampung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eArdian Cahyadi menyebut mundurnya beberapa kabupaten yang sebelumnya mengajukan diri sebagai tuan rumah Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) menunjukkan adanya ketimpangan dalam kesiapan infrastruktur dan strategi daerah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cIni sudah ketiga kalinya Porprov digelar di Bandar Lampung. Harusnya ini menjadi alarm penting pemerataan infrastruktur olah raga di daerah belum berjalan optimal,\u201d kata Ardian kepada awak media, Selasa (21\/10\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurutnya, ketergantungan pada kota besar seperti Bandar Lampung mengindikasikan minimnya dukungan dan keberanian daerah lain dalam menjadikan olahraga sebagai sarana promosi wilayah. Padahal, di banyak daerah di Indonesia bahkan dunia, olahraga telah menjadi alat strategis untuk membangun citra, ekonomi, dan pariwisata lokal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cDaerah sebenarnya punya peluang besar. Olah raga itu bukan hanya soal prestasi, tapi juga industri. Ketika ada even besar, sektor perhotelan, transportasi, kuliner, bahkan UMKM ikut bergerak. Sayang sekali kalau potensi ini tidak ditangkap,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eArdian Cahyadi menambahkan Lampung memiliki potensi kuat sebagai daerah sport tourism berkat letak geografis dan minat masyarakat terhadap olah raga. Namun, agar hal itu terwujud, harus ada model bisnis yang melibatkan sponsor, investor, dan pelaku usaha lokal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKetika ekonomi olah raga hidup, masyarakat akan melihat olah raga sebagai karier masa depan. Atlet fokus pada prestasi, dan prestasi itulah yang mengangkat nama Lampung di level nasional dan internasional,&#8221; ungkapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eLebih lanjut ia menjelaskan, pemerintah daerah harus mulai melihat olah raga sebagai hilir ekonomi dan bukan sekadar aktivitas kompetisi semata.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKalau ditangani dengan baik, even olah raga bisa menjadi kampanye positif daerah. Bisa menunjukkan budaya, destinasi wisata, hingga produk unggulan. Tapi semua itu butuh keberanian membangun infrastruktur dan menggandeng sektor bisnis,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eOleh sebab itu, dia berharap pemerintah provinsi dan daerah segera menyusun kebijakan pemerataan infrastruktur olah raga yang disokong pentahelix yaitu sektor pemerintah, akademisi, bisnis, media, dan komunitas agar percepatan prestasi dan ekonomi olah raga di Lampung tidak hanya terpusat di ibu kota provinsi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cSudah saatnya daerah bergerak. Olah raga itu bukan beban, tapi peluang,\u201d pungkasnya. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Akademisi olah raga, Ardian Cahyadi, menilai sentralisasi penyelenggaraan even olah raga di Bandar Lampung menjadi tantangan serius bagi pemerataan pembangunan olah raga di Provinsi Lampung. \u200e \u200eArdian Cahyadi menyebut mundurnya beberapa kabupaten yang sebelumnya mengajukan diri sebagai tuan rumah Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) menunjukkan adanya ketimpangan dalam kesiapan infrastruktur dan strategi daerah. \u200e \u200e\u201cIni sudah ketiga kalinya Porprov digelar di Bandar Lampung. Harusnya ini menjadi alarm penting pemerataan infrastruktur olah raga di daerah belum berjalan optimal,\u201d kata Ardian kepada awak media, Selasa (21\/10\/2025). \u200e \u200eMenurutnya, ketergantungan pada kota besar seperti Bandar Lampung mengindikasikan minimnya dukungan dan keberanian daerah lain dalam menjadikan olahraga sebagai sarana promosi wilayah. Padahal, di banyak daerah di Indonesia bahkan dunia, olahraga telah menjadi alat strategis untuk membangun citra, ekonomi, dan pariwisata lokal. \u200e \u200e\u201cDaerah sebenarnya punya peluang besar. Olah raga itu bukan hanya soal prestasi, tapi juga industri. Ketika ada even besar, sektor perhotelan, transportasi, kuliner, bahkan UMKM ikut bergerak. Sayang sekali kalau potensi ini tidak ditangkap,\u201d ujarnya. \u200e \u200eArdian Cahyadi menambahkan Lampung memiliki potensi kuat sebagai daerah sport tourism berkat letak geografis dan minat masyarakat terhadap olah raga. Namun, agar hal itu terwujud, harus ada model bisnis yang melibatkan sponsor, investor, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52877,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,14],"tags":[],"class_list":["post-52876","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-olah-raga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52876","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52876"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52876\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52878,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52876\/revisions\/52878"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52877"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52876"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52876"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52876"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}