{"id":52830,"date":"2025-10-17T09:59:24","date_gmt":"2025-10-17T02:59:24","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52830"},"modified":"2025-11-28T19:02:23","modified_gmt":"2025-11-28T12:02:23","slug":"2-naskah-kuno-asal-lampung-raih-sertifikat-ikon-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/17\/2-naskah-kuno-asal-lampung-raih-sertifikat-ikon-2025\/","title":{"rendered":"\u200e2 Naskah Kuno Asal Lampung Raih Sertifikat IKON 2025"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Dua naskah kuno asal Provinsi Lampung, yakni Naskah &#8220;Kulit Kayu: <em>Ingok Perjanjian Kita<\/em>&#8221; dan &#8220;<em>Poerba Ratoe: Catatan Sejarah Masyarakat Labuhan Ratu 1907\u20131915&#8243;, <\/em>berhasil meraih Sertifikat IKON (Ingatan Kolektif Nasional) Tahun 2025 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKedua naskah tersebut dinilai memiliki nilai historis tinggi serta menggambarkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Lampung tempo dulu.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenghargaan bergengsi ini merupakan bentuk pengakuan atas nilai sejarah, budaya, dan literasi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut. Keberhasilan ini merupakan hasil usulan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung yang terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian warisan literasi dan budaya daerah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenetapan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan posisi naskah nusantara sebagai sumber pengetahuan, identitas budaya, dan memori kolektif bangsa yang perlu dilestarikan.<\/p>\n<div id=\"attachment_52832\" style=\"width: 1090px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-52832\" class=\"wp-image-52832 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251017-WA0050.jpg\" alt=\"\" width=\"1080\" height=\"743\" \/><p id=\"caption-attachment-52832\" class=\"wp-caption-text\">NASKAH KUNO asal Lampung &#8220;<em>Poerba Ratoe: Catatan Sejarah Masyarakat Labuhan Ratu 1907\u20131915&#8243;, meraih<\/em> sertifikat IKON 2025 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.<\/p><\/div>\n<p>\u200eKepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menegaskan pengarusutamaan naskah bukan sekadar formalitas, melainkan menempatkan manuskrip dan nilai-nilainya sebagai bagian utama dari kebudayaan dan pembangunan nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMelalui program ini, naskah dan kandungannya harus ditempatkan sebagai arus utama, tidak lagi menjadi isu yang termarjinalkan,\u201d ujarnya saat membuka Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XX di Jakarta, Rabu (15\/10\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenganugerahan Sertifikat IKON 2025 juga dirangkaikan dengan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XX, yang menghadirkan berbagai pakar, peneliti, dan pemerhati naskah dari lembaga nasional maupun internasional. Acara ini menjadi wadah penting dalam memperkuat jejaring pelestarian naskah kuno di Indonesia dan dunia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Fitrianita Damhuri, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas penghargaan tersebut.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Pengakuan ini bukan hanya kebanggaan bagi Lampung, tapi juga menjadi motivasi untuk melestarikan dan mengenalkan khazanah naskah kuno daerah kepada masyarakat luas,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eRaihan ini diharapkan akan menambah semangat menjaga naskah kuno sebagai sumber ilmu, identitas, dan kebanggaan budaya bangsa terus tumbuh di kalangan masyarakat. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Dua naskah kuno asal Provinsi Lampung, yakni Naskah &#8220;Kulit Kayu: Ingok Perjanjian Kita&#8221; dan &#8220;Poerba Ratoe: Catatan Sejarah Masyarakat Labuhan Ratu 1907\u20131915&#8243;, berhasil meraih Sertifikat IKON (Ingatan Kolektif Nasional) Tahun 2025 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). \u200e \u200eKedua naskah tersebut dinilai memiliki nilai historis tinggi serta menggambarkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Lampung tempo dulu. \u200e \u200ePenghargaan bergengsi ini merupakan bentuk pengakuan atas nilai sejarah, budaya, dan literasi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut. Keberhasilan ini merupakan hasil usulan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung yang terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian warisan literasi dan budaya daerah. \u200e \u200ePenetapan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan posisi naskah nusantara sebagai sumber pengetahuan, identitas budaya, dan memori kolektif bangsa yang perlu dilestarikan. \u200eKepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menegaskan pengarusutamaan naskah bukan sekadar formalitas, melainkan menempatkan manuskrip dan nilai-nilainya sebagai bagian utama dari kebudayaan dan pembangunan nasional. \u200e \u200e\u201cMelalui program ini, naskah dan kandungannya harus ditempatkan sebagai arus utama, tidak lagi menjadi isu yang termarjinalkan,\u201d ujarnya saat membuka Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XX di Jakarta, Rabu (15\/10\/2025). \u200e \u200ePenganugerahan Sertifikat IKON 2025 juga dirangkaikan dengan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XX, yang menghadirkan berbagai pakar, peneliti, dan pemerhati naskah dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52831,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,15],"tags":[],"class_list":["post-52830","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemprov-lampung","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52830","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52830"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52830\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52834,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52830\/revisions\/52834"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52830"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52830"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52830"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}