{"id":52772,"date":"2025-10-12T22:31:31","date_gmt":"2025-10-12T15:31:31","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52772"},"modified":"2025-10-12T22:31:31","modified_gmt":"2025-10-12T15:31:31","slug":"rahasia-kesaktian-raja-tua-dibedah-di-metro","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/12\/rahasia-kesaktian-raja-tua-dibedah-di-metro\/","title":{"rendered":"&#8216;Rahasia Kesaktian Raja Tua&#8217; Dibedah di Metro"},"content":{"rendered":"<p><strong>Metro (LB)<\/strong>: Rangkaian Diskusi Buku Sastra yang digelar Lampung Literature yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sukses digelar di Kota Metro dengan tajuk Diskusi Sastra #2: \u201cRahasia Kesaktian Raja Tua\u201d karya Zen Hae.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBertempat di Nuwo Budayo Metro, kegiatan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Metro ini menghadirkan pembacaan prosa, musikalisasi puisi, serta diskusi seputar buku \u201cRahasia Kesaktian Raja Tua\u201d karya Zen Hae.<br \/>\n\u200eDiskusi menghadirkan tiga narasumber yakni Solihin Ucok, Arman AZ, dan Oyos Suroso HN. Turut hadir para penulis muda, siswa, mahasiswa, seniman, dan pegiat literasi dari berbagai wilayah di Metro.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam diskusi, para narasumber menyoroti bagaimana Zen Hae melalui Rahasia Kesaktian Raja Tua memadukan unsur sejarah, mitos, dan politik dalam bentuk prosa. Karya ini dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali sejarah dan memori budaya yang kerap tersingkir dari wacana arus utama.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eArman AZ, salah satu narasumber, menekankan kekuatan karya Zen Hae terletak pada kemampuannya \u201cmenyusun ulang\u201d sejarah\u2014melihat masa lalu bukan sekadar sebagai arsip, melainkan membuatnya relevan dengan generasi sekarang.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cYang harus kita pelajari dari Zen adalah ia tak mentah-mentah membaca tradisi lokal. Cerita rakyat yang nyaris beku ia tuliskan lagi dengan pemaknaan ulang dan kesegaran cara pandang.\u201d<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eOyos Suroso menyoroti bagaimana agar generasi muda dapat gandrung dengan sastra, yakni salah satunya dengan alih wahana. \u201cDari teks ke musik, film, komik, atau pertunjukan, semua itu cara untuk membuat karya tetap hidup dan menjangkau lebih banyak orang, khususnya untuk generasi sekarang\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSolihin Ucok menekankan catatan sejarah sering kali bukan catatan objektif, melainkan kisah yang dikonstruk oleh pihak tertentu untuk suatu kepentingan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cZen Hae mengingatkan bahwa di balik narasi besar sejarah selalu ada strategi politik, mitos, dan legitimasi yang sengaja dibangun. Dalam konteks Lampung, sastra memiliki potensi besar untuk membangun narasi kebudayaan di Lampung,\u201d ungkapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam sambutannya, Iskandar, ketua Lampung Literature, menyampaikan buku Rahasia Kesaktian Raja Tua karya Zen Hae, adalah salah satu karya berkualitas, yang basis ceritanya dari sastra Lisan Lampung, khususnya Tubaba.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cDiskusi hari ini adalah momentum penting, buku ini bisa menjadi titik tolak untuk menghasilkan karya prosa yang berkualitas, dan menjadi pemantik bagi kegiatan sastra di Lampung,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAmin Budi Utomo, ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Metro (DKM), menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara komunitas, lembaga budaya, dan masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMetro punya energi seni yang besar. Kehadiran Lampung Literature di sini memberi semangat baru bagi pegiat sastra lokal. Kami berharap kolaborasi dan kegiatan semacam ini menjadi tradisi berkelanjutan,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, dari pihak Kementerian Kebudayaan RI, S. Metron menegaskan kembali pentingnya peran komunitas sastra sebagai ujung tombak diseminasi karya sastra di masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cProgram Penguatan Komunitas Sastra ini merupakan upaya untuk menjembatani karya sastra dengan pembaca. Selama ini, diseminasi karya sastra masih belum optimal. Karena itu, komunitas seperti Lampung Literature memiliki peran penting menjaga agar karya sastra terus hidup, dibaca, dan dibicarakan,\u201d tegasnya. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metro (LB): Rangkaian Diskusi Buku Sastra yang digelar Lampung Literature yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sukses digelar di Kota Metro dengan tajuk Diskusi Sastra #2: \u201cRahasia Kesaktian Raja Tua\u201d karya Zen Hae. \u200e \u200eBertempat di Nuwo Budayo Metro, kegiatan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Metro ini menghadirkan pembacaan prosa, musikalisasi puisi, serta diskusi seputar buku \u201cRahasia Kesaktian Raja Tua\u201d karya Zen Hae. \u200eDiskusi menghadirkan tiga narasumber yakni Solihin Ucok, Arman AZ, dan Oyos Suroso HN. Turut hadir para penulis muda, siswa, mahasiswa, seniman, dan pegiat literasi dari berbagai wilayah di Metro. \u200e \u200eDalam diskusi, para narasumber menyoroti bagaimana Zen Hae melalui Rahasia Kesaktian Raja Tua memadukan unsur sejarah, mitos, dan politik dalam bentuk prosa. Karya ini dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali sejarah dan memori budaya yang kerap tersingkir dari wacana arus utama. \u200e \u200eArman AZ, salah satu narasumber, menekankan kekuatan karya Zen Hae terletak pada kemampuannya \u201cmenyusun ulang\u201d sejarah\u2014melihat masa lalu bukan sekadar sebagai arsip, melainkan membuatnya relevan dengan generasi sekarang. \u200e \u200e\u201cYang harus kita pelajari dari Zen adalah ia tak mentah-mentah membaca tradisi lokal. Cerita rakyat yang nyaris beku ia tuliskan lagi dengan pemaknaan ulang dan kesegaran cara pandang.\u201d \u200e \u200eOyos Suroso menyoroti bagaimana agar generasi muda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52773,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[344,15],"tags":[],"class_list":["post-52772","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-metro","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52772","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52772"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52772\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52774,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52772\/revisions\/52774"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}