{"id":52568,"date":"2025-10-01T13:31:22","date_gmt":"2025-10-01T06:31:22","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52568"},"modified":"2025-10-01T13:31:49","modified_gmt":"2025-10-01T06:31:49","slug":"dorong-pertanian-modern-mahasiswa-itera-dirikan-sanggar-sipetani-di-bagelen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/10\/01\/dorong-pertanian-modern-mahasiswa-itera-dirikan-sanggar-sipetani-di-bagelen\/","title":{"rendered":"\u200eDorong Pertanian Modern, Mahasiswa ITERA Dirikan Sanggar SIPETANI di Bagelen"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200ePesawaran (LB)<\/strong>: Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dari Program Studi Matematika dan Teknik Perkeretaapian, mendirikan Sanggar Tani Sistem Pertanian Hidroponik Berbasis Vertical Farming (SIPETANI) di Desa Bagelen sebagai pusat inovasi sekaligus pelatihan pertanian modern.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSanggar Tani SIPETANI hadir melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Kemendikbudristek yang dilaksanakan pada 18 Juli\u201312 Oktober 2025. Dengan melibatkan 15 mahasiswa dari dua program studi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eInisiatif ini dirancang untuk membantu petani mengatasi keterbatasan lahan, meningkatkan produktivitas, serta menumbuhkan kemandirian melalui teknologi hidroponik dan vertical farming.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eProgram ini dijalankan secara kolaboratif bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Karang Taruna Desa Bagelen. Masyarakat tidak hanya belajar membangun instalasi hidroponik, tetapi juga memahami teknik budi daya modern, pengolahan pascapanen, hingga strategi pemasaran.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBeberapa komoditas yang dikembangkan, antara lain bayam, selada, kangkung, dan sawi, seluruhnya ditanam dengan metode ramah lingkungan dan efisien lahan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-52569\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/IMG-20251001-WA0073_1_2.jpg\" alt=\"\" width=\"613\" height=\"422\" \/><br \/>\n\u200eKepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, S.Kom., M.Pd., menyebut pendirian sanggar ini menjadi peluang baru bagi warganya. Menurutnya, inovasi ini membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar pertanian modern sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Harapannya, sanggar ini dapat menjadi contoh bagi desa lain di Pesawaran bahkan di Lampung,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDukungan juga datang dari warga, Eka Dewi, salah satu warga dan juga angota KWT, menyampaikan pendampingan mahasiswa ITERA membawa pengetahuan baru bagi warga desa. Berkat mahasiswa ITERA, ucapnya, kini masyarakat bisa mengolah hasil pertanian secara modern, menghasilkan produk lebih berkualitas, dan siap dipasarkan lebih luas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Terima kasih kepada mahasiswa ITERA yang telah membimbing kami,\u201d tuturnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eWakil Ketua Tim PPK Ormawa, Egis Efri Rahyunda, menuturkan program ini menghasilkan sejumlah capaian penting. Output dari program ini meliputi terbentuknya sanggar sebagai pusat pelatihan pertanian modern, peningkatan kapasitas KWT dan petani muda, pemanfaatan lahan sempit menjadi produktif, hingga lahirnya petani baru dengan rencana usaha tani.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Selain itu, program ini juga menghasilkan kurikulum pelatihan nonformal, buku ber-ISBN, HKI, hingga publikasi media sebagai dokumentasi,\u201d jelasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia juga mengatakan berkomitmen mendampingi masyarakat Bagelen agar mampu memperluas jejaring pemasaran melalui media digital, sekaligus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak demi keberlanjutan program.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan program ini, keterbatasan lahan pertanian bukan menjadi hambatan bagi masyarakat Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, untuk terus mengembangkan sektor pertanian. Dalam jangka panjang, Sanggar Tani SIPETANI ditargetkan menjadi pusat pengembangan pertanian modern di tingkat desa. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200ePesawaran (LB): Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dari Program Studi Matematika dan Teknik Perkeretaapian, mendirikan Sanggar Tani Sistem Pertanian Hidroponik Berbasis Vertical Farming (SIPETANI) di Desa Bagelen sebagai pusat inovasi sekaligus pelatihan pertanian modern. \u200e \u200eSanggar Tani SIPETANI hadir melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Kemendikbudristek yang dilaksanakan pada 18 Juli\u201312 Oktober 2025. Dengan melibatkan 15 mahasiswa dari dua program studi. \u200e \u200eInisiatif ini dirancang untuk membantu petani mengatasi keterbatasan lahan, meningkatkan produktivitas, serta menumbuhkan kemandirian melalui teknologi hidroponik dan vertical farming. \u200e \u200eProgram ini dijalankan secara kolaboratif bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Karang Taruna Desa Bagelen. Masyarakat tidak hanya belajar membangun instalasi hidroponik, tetapi juga memahami teknik budi daya modern, pengolahan pascapanen, hingga strategi pemasaran. \u200e \u200eBeberapa komoditas yang dikembangkan, antara lain bayam, selada, kangkung, dan sawi, seluruhnya ditanam dengan metode ramah lingkungan dan efisien lahan. \u200eKepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, S.Kom., M.Pd., menyebut pendirian sanggar ini menjadi peluang baru bagi warganya. Menurutnya, inovasi ini membuka ruang bagi masyarakat untuk belajar pertanian modern sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi. \u200e \u200e&#8221;Harapannya, sanggar ini dapat menjadi contoh bagi desa lain di Pesawaran bahkan di Lampung,\u201d ujarnya. \u200e \u200eDukungan juga datang dari warga, Eka Dewi, salah satu warga dan juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52570,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11,2,132],"tags":[],"class_list":["post-52568","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","category-pertanian","category-barometer-pesawaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52568","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52568"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52568\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52572,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52568\/revisions\/52572"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52570"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52568"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52568"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52568"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}