{"id":52531,"date":"2025-09-30T16:39:47","date_gmt":"2025-09-30T09:39:47","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52531"},"modified":"2025-09-30T16:40:34","modified_gmt":"2025-09-30T09:40:34","slug":"kober-lampung-sukses-angkat-isu-krisis-pangan-di-fts-iii-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/30\/kober-lampung-sukses-angkat-isu-krisis-pangan-di-fts-iii-palembang\/","title":{"rendered":"\u200eKOBER Lampung Sukses Angkat Isu Krisis Pangan di FTS III Palembang"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>\u200ePalembang (LB):<\/strong> Komunitas Berkat Yakin (KOBER) sukses mementaskan karya teater \u201cHilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif\u201d pada Festival Teater Sumatra III 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, 24\u201325 September 2025.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMengangkat tema besar festival \u201cPangan: Tanah, Air, dan Ingatan\u201d, pertunjukan ini dibangun dengan logika deduktif: membaca krisis pangan global dan nasional, menyoroti bagaimana sistem pertanian monokultur merampas ruang hidup, lalu memperlihatkan dampaknya pada masyarakat tradisi yang kehilangan ladang, rumah, bahkan tubuh ekologisnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan format esai performance, muncul konsekuensi dan peluang untuk menghadirkan pertunjukan lintas disiplin\u2014tubuh, musik, cahaya\u2014yang menjauh dari bentuk dramatik, sebagai cara alternatif menghubungkan data sejarah, teori ekologi, dan pengalaman konkret masyarakat adat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSecara garis besar, pertunjukan dibagi menjadi 6 fragmen utama. Fragmen 1 membuka dengan kisah nelayan yang kehilangan kepastian hidup akibat \u2018laut\u2019 yang berubah\u2014simbol dari hilangnya ingatan ekologis masyarakat tradisi. Fragmen 2 merefleksikan kehancuran hutan dan ladang sebagai hilangnya horizon pengalaman dan teknologi ekologis tradisional. Fragmen 3 menampilkan hadirnya industri dan negara yang, lewat garis peta dan kebijakan agraria, memutus relasi manusia dengan tanah. Tubuh manusia menjadi ahistoris\/kehilangan sejarah.<\/p>\n<div id=\"attachment_52532\" style=\"width: 1290px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-52532\" class=\"wp-image-52532 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250930-WA0156.jpg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"720\" \/><p id=\"caption-attachment-52532\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>KOBER<\/strong> Lampung pentaskan \u201cHilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif\u201d pada Festival Teater Sumatra III 2025 di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, 24\u201325 September 2025. (Foto: Yudi Semai)<\/em><\/p><\/div>\n<p dir=\"ltr\">\u200eSementara itu Fragmen 4 menghadirkan suara masyarakat adat yang melawan perampasan tanah dan program food estate yang justru mempercepat krisis pangan. Fragmen 5 memperlihatkan kontras antara tubuh kota yang hilang akar dan tubuh agraris yang menyimpan ingatan ekologis. Fragmen 6 menutup dengan refleksi politik saat ini: kebijakan tanah dan pangan di era Jokowi yang memperparah kerentanan petani, ditutup dengan paduan suara yang menyerukan kembalinya tanah, langit, laut, dan jagad ke dalam diri manusia, lalu disusul ironi lagu Rayuan Pulau Kelapa.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSutradara Ari Pahala Hutabarat menegaskan bahwa istilah esai dipilih karena sifatnya yang terbuka, menghubungkan data, sejarah, dan subjektivitas artistik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPertunjukan ini tidak dibangun dari narasi dramatik. Yang kami hadirkan adalah paparan\u2014data tentang krisis pangan, monokultur, dan kehilangan tanah serta identitas\u2014yang dikemas secara agitatif,&#8221; ucap Ari Pahala.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Tubuh aktor tidak membangun karakter atau menyalurkan emosi, melainkan media yang mentransmisikan intensitas energi\u2014membuat agitasi tidak hanya hadir sebagai pengalaman intelektual, melainkan juga menjangkau motorik penonton,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain membuka ruang refleksi atas isu pangan dan ekologi, pementasan ini juga memperkuat jejaring seniman teater Sumatra. Telah hadir 10 grup penampil, yangg masing-masing telah membagikan keprihatinan yang sama akan krisis pangan namun dengan pilihan gaya yang berbeda.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMelalui partisipasi di Festival Teater Sumatra III, Komunitas Berkat Yakin berharap karya ini dapat menyentuh kesadaran masyarakat, peneliti, maupun pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan berbasis kearifan lokal: utamanya kementrian kebudayaan. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200ePalembang (LB): Komunitas Berkat Yakin (KOBER) sukses mementaskan karya teater \u201cHilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif\u201d pada Festival Teater Sumatra III 2025 yang berlangsung di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang, 24\u201325 September 2025. \u200e \u200eMengangkat tema besar festival \u201cPangan: Tanah, Air, dan Ingatan\u201d, pertunjukan ini dibangun dengan logika deduktif: membaca krisis pangan global dan nasional, menyoroti bagaimana sistem pertanian monokultur merampas ruang hidup, lalu memperlihatkan dampaknya pada masyarakat tradisi yang kehilangan ladang, rumah, bahkan tubuh ekologisnya. \u200e \u200eDengan format esai performance, muncul konsekuensi dan peluang untuk menghadirkan pertunjukan lintas disiplin\u2014tubuh, musik, cahaya\u2014yang menjauh dari bentuk dramatik, sebagai cara alternatif menghubungkan data sejarah, teori ekologi, dan pengalaman konkret masyarakat adat. \u200e \u200eSecara garis besar, pertunjukan dibagi menjadi 6 fragmen utama. Fragmen 1 membuka dengan kisah nelayan yang kehilangan kepastian hidup akibat \u2018laut\u2019 yang berubah\u2014simbol dari hilangnya ingatan ekologis masyarakat tradisi. Fragmen 2 merefleksikan kehancuran hutan dan ladang sebagai hilangnya horizon pengalaman dan teknologi ekologis tradisional. Fragmen 3 menampilkan hadirnya industri dan negara yang, lewat garis peta dan kebijakan agraria, memutus relasi manusia dengan tanah. Tubuh manusia menjadi ahistoris\/kehilangan sejarah. \u200eSementara itu Fragmen 4 menghadirkan suara masyarakat adat yang melawan perampasan tanah dan program food estate yang justru mempercepat krisis pangan. Fragmen 5 memperlihatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52533,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-52531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52531"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52531\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52535,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52531\/revisions\/52535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}