{"id":52525,"date":"2025-09-30T12:24:50","date_gmt":"2025-09-30T05:24:50","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52525"},"modified":"2025-09-30T18:14:29","modified_gmt":"2025-09-30T11:14:29","slug":"warga-dusun-3b-sabah-balau-resah-rumahnya-kerap-dilempar-batu-saat-malam-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/30\/warga-dusun-3b-sabah-balau-resah-rumahnya-kerap-dilempar-batu-saat-malam-hari\/","title":{"rendered":"\u200eWarga Dusun 3B Sabah Balau Resah Rumahnya Kerap Dilempar Batu Saat Malam Hari"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eLampung Selatan (LB)<\/strong>: Ayah lima anak, warga RT 01 Dusun 3B, Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Toni (73), mengaku resah karena rumahnya kerap dilempari batu hingga petasan saat malam hari oleh remaja-remaja usil.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal itu disampaikan Toni yang didampingi istrinya Romlah (63), saat mengunjungi Kantor Redaksi Media Online <strong><em>lampungbarometer.id<\/em><\/strong>, Senin (29\/9\/2025) malam.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKepada <em><strong>lampungbarometer.id<\/strong><\/em>, Toni menceritakan peristiwa pelemparan rumahnya sudah berlangsung sejak lama dan telah berulang kali terjadi sehingga membuat dia dan seluruh keluarganya merasa resah dan khawatir.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMendengar hal ini, selanjutnya dengan didampingi jurnalis <em><strong>lampungbarometer.id<\/strong><\/em> pasangan suami istri ini menemui Ketua RT 01, Slamet, untuk melaporkan peristiwa yang dialami dan meminta solusi agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Saya minta bantuan Pak RT agar ini tidak lagi terulang, karena kami merasa sangat terganggu. Selain itu, cucu kami juga sering diganggu. Pelakunya masih warga sini, sepengetahuan kami remaja-remaja yang sering nongkrong di dekat rumah kami, tapi tiap kali ditanya mereka tidak mau mengaku,&#8221; ungkap Toni.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Sudah setahun lebih ini, kalau malam saat kami sedang tidur sering ada yang melempar batu ke atap rumah, menurunkan skering termis meteran KWH sehingga rumah jadi gelap, bahkan meneriakkan kata-kata tidak sopan. Ini betul-betul membuat kami terganggu&#8221;, ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal senada diungkapkan istrinya, Romlah (63), yang menyebut keisengan para remaja tersebut sudah lewat batas dan sudah termasuk tidak kriminal.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Iya kalau malam sering ada yang lempar-lempar atap pakai batu krikil, bahkan mercon. Pernah saya kaget, dan langsung keluar mengejar pelaku sampai saya jeritin, tapi pelakunya sudah kabur. Besok-besoknya kejadian terulang lagi,&#8221; ungkap nenek tiga cucu ini.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenanggapi laporan warganya, Slamet mengaku telah mendengar peristiwa yang dilaporkan tersebut. Dia juga mengatakan telah mendatangi langsung dan memberi teguran keras para remaja yang diduga pelaku agar tidak lagi mengganggu warga, apalagi sampai melempar rumah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Saya sudah mendengar tentang keluhan Pak Toni, saya juga sudah menegur para terduga pelaku disertai peringatan keras. Apabila mereka masih mengganggu kenyamanan Pak Toni sekeluarga atau warga lainnya maka akan kita laporkan ke pihak berwajib,&#8221; katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Mudah-mudahan mereka tidak mengeluangi, karena kalau sampai terjadi lagi maka akan dilaporkan ke orang tua masing-masing dan pihak berwajib agar bisa di edukasi lebih lanjut,&#8221; pungkasnya. (Herdi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eLampung Selatan (LB): Ayah lima anak, warga RT 01 Dusun 3B, Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Toni (73), mengaku resah karena rumahnya kerap dilempari batu hingga petasan saat malam hari oleh remaja-remaja usil. \u200e \u200eHal itu disampaikan Toni yang didampingi istrinya Romlah (63), saat mengunjungi Kantor Redaksi Media Online lampungbarometer.id, Senin (29\/9\/2025) malam. \u200e \u200eKepada lampungbarometer.id, Toni menceritakan peristiwa pelemparan rumahnya sudah berlangsung sejak lama dan telah berulang kali terjadi sehingga membuat dia dan seluruh keluarganya merasa resah dan khawatir. \u200e \u200eMendengar hal ini, selanjutnya dengan didampingi jurnalis lampungbarometer.id pasangan suami istri ini menemui Ketua RT 01, Slamet, untuk melaporkan peristiwa yang dialami dan meminta solusi agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi. \u200e \u200e&#8221;Saya minta bantuan Pak RT agar ini tidak lagi terulang, karena kami merasa sangat terganggu. Selain itu, cucu kami juga sering diganggu. Pelakunya masih warga sini, sepengetahuan kami remaja-remaja yang sering nongkrong di dekat rumah kami, tapi tiap kali ditanya mereka tidak mau mengaku,&#8221; ungkap Toni. \u200e \u200e&#8221;Sudah setahun lebih ini, kalau malam saat kami sedang tidur sering ada yang melempar batu ke atap rumah, menurunkan skering termis meteran KWH sehingga rumah jadi gelap, bahkan meneriakkan kata-kata tidak sopan. Ini betul-betul membuat kami terganggu&#8221;, ujarnya. \u200e [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52526,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[114],"tags":[],"class_list":["post-52525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-lampung-selatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52525","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52525"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52525\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52537,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52525\/revisions\/52537"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}