{"id":52326,"date":"2025-09-15T08:44:48","date_gmt":"2025-09-15T01:44:48","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52326"},"modified":"2025-09-15T08:44:48","modified_gmt":"2025-09-15T01:44:48","slug":"tingkatkan-kompetensi-bernalar-kritis-dan-analitis-siswa-bbpl-gelar-pelatihan-di-sman-1-kedondong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/15\/tingkatkan-kompetensi-bernalar-kritis-dan-analitis-siswa-bbpl-gelar-pelatihan-di-sman-1-kedondong\/","title":{"rendered":"\u200eTingkatkan Kompetensi Bernalar Kritis dan Analitis Siswa, BBPL Gelar Pelatihan di SMAN 1 Kedondong"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200ePesawaran (LB):<\/strong> Balai Bahasa Provinsi Lampung (BBPL) menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA\/SMK di SMA Negeri 1 Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Jumat (12\/9\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePerwakilan Balai Bahasa Provinsi Lampung, Yudo Suryo Hapsoro, mengatakan program ini bertujuan meningkatkan kemampuan literasi tingkat lanjut melalui penguatan keterampilan berpikir kritis, logis, dan analitis dalam memahami teks, baik fiksi maupun non fiksi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia menjelaskan membaca kritis sangat penting karena memungkinkan siswa mempertanyakan, membandingkan, dan menilai keakuratan serta relevansi informasi, sementara membaca analitis membantu mereka mengidentifikasi struktur argumen dan hubungan antargagasan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Pelatihan ini dirancang untuk membekali siswa teknik dan strategi membaca yang memungkinkan mereka menganalisis struktur informasi, mengevaluasi argumentasi, serta menyusun kesimpulan yang rasional, alih-alih hanya memahami isi bacaan secara permukaan,&#8221; ucapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia juga mengatakan kegiatan ini diadakan sebagai respons atas temuan kemampuan literasi membaca peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah, khususnya dalam aspek berpikir kritis dan analitis.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Literasi tidak sekadar membaca dan menulis. Tujuan dari literasi adalah sikap kritis dan pemikiran analitis agar siswa bisa memahami wacana atau kabar yang tersebar di internet maupun dalam kehidupan sehari-hari,\u201d ujar Yudo.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Dalam era informasi yang berkembang pesat, siswa SMA dihadapkan pada berbagai jenis teks yang kompleks dan beragam, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Oleh karena itu, keterampilan membaca kritis dan analitis menjadi sangat penting sebagai bekal mereka menghadapi tantangan akademik dan kehidupan sehari-hari,&#8221; imbuhnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kedondong, Sukma, M.Pd., dalam sambutannya sekaligus membuka acara secara resmi, berharap para siswa dapat memperhatikan materi yang disajikan dan mengaplikasikan ilmu yang didapat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kepada semua peserta, diimbau untuk memperhatikan dan mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh sehingga bisa menyerap materi yang disampaikan,&#8221; ucap Sukma.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Setelah kegiatan ini diharapkan kita jadi paham terkait struktur dan informasi utama dalam teks, membedakan fakta dan opini, mengidentifikasi hubungan sebab-akibat, serta mengomunikasikan penilaian mereka secara logis dan komunikatif,&#8221; pungkasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ini menghadirkan pemateri dosen Universitas Lampung, Dr. Eka Sofia Agustina, M.Pd. Dalam pemaparannya, dosen Program Studi Bahasa Indonesia ini menjelaskan tentang berbagai jenis cara membaca, tahapan dalam membaca kritis dan analitis, serta cara membangun pertanyaan yang kritis dan analitis.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Saat membaca sebuah teks atau naskah kita harus mampu berpikir kritis. Tahapannya mencakup: prabaca, membaca aktif, analisis, evaluasi, dan sintesis,&#8221; tutur Eka. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200ePesawaran (LB): Balai Bahasa Provinsi Lampung (BBPL) menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis dan Analitis bagi Siswa SMA\/SMK di SMA Negeri 1 Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Jumat (12\/9\/2025). \u200e \u200ePerwakilan Balai Bahasa Provinsi Lampung, Yudo Suryo Hapsoro, mengatakan program ini bertujuan meningkatkan kemampuan literasi tingkat lanjut melalui penguatan keterampilan berpikir kritis, logis, dan analitis dalam memahami teks, baik fiksi maupun non fiksi. \u200e \u200eDia menjelaskan membaca kritis sangat penting karena memungkinkan siswa mempertanyakan, membandingkan, dan menilai keakuratan serta relevansi informasi, sementara membaca analitis membantu mereka mengidentifikasi struktur argumen dan hubungan antargagasan. \u200e \u200e&#8221;Pelatihan ini dirancang untuk membekali siswa teknik dan strategi membaca yang memungkinkan mereka menganalisis struktur informasi, mengevaluasi argumentasi, serta menyusun kesimpulan yang rasional, alih-alih hanya memahami isi bacaan secara permukaan,&#8221; ucapnya. \u200e \u200eDia juga mengatakan kegiatan ini diadakan sebagai respons atas temuan kemampuan literasi membaca peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah, khususnya dalam aspek berpikir kritis dan analitis. \u200e \u200e&#8221;Literasi tidak sekadar membaca dan menulis. Tujuan dari literasi adalah sikap kritis dan pemikiran analitis agar siswa bisa memahami wacana atau kabar yang tersebar di internet maupun dalam kehidupan sehari-hari,\u201d ujar Yudo. \u200e \u200e&#8221;Dalam era informasi yang berkembang pesat, siswa SMA dihadapkan pada berbagai jenis teks yang kompleks dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52327,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-52326","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52326"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52326\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52328,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52326\/revisions\/52328"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}