{"id":52265,"date":"2025-09-11T19:08:42","date_gmt":"2025-09-11T12:08:42","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52265"},"modified":"2025-09-11T19:08:42","modified_gmt":"2025-09-11T12:08:42","slug":"ekonomi-tumbuh-509-persen-lampung-bersiap-jadi-sentra-industri-agro","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/11\/ekonomi-tumbuh-509-persen-lampung-bersiap-jadi-sentra-industri-agro\/","title":{"rendered":"\u200eEkonomi Tumbuh 5,09 Persen, Lampung Bersiap Jadi Sentra Industri Agro \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Perekonomian Provinsi Lampung mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan 5,09 persen pada triwulan II tahun 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan Sumatra.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eCapaian ini menjadi sinyal kuat Lampung mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan dan pusat produksi komoditas strategis nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, mewakili Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam acara Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Lampung di Ballroom Hotel Novotel, Kamis (11\/9\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMengusung Tema \u201cSinergi Memperkuat Hilirisasi Komoditas Unggulan sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan\u201d, forum tersebut menghadirkan pejabat Kementerian Perindustrian, pelaku usaha besar, seperti PT. Great Giant Pineapple dan PT. Kurnia Alam, pimpinan perbankan, akademisi, hingga asosiasi pelaku usaha.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPertumbuhan ekonomi Lampung yang solid ini perlu terus diperkuat dengan hilirisasi. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan harus menjadi motor penggerak, bukan hanya sebagai penghasil bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi,\u201d ujar Bani membacakan sambutan Gubernur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menegaskan program hilirisasi sejalan dengan RPJMN 2025\u20132029 yang menitikberatkan pada pembangunan industri pengolahan komoditas unggulan padat karya, padat teknologi, dan berorientasi ekspor. Lampung, menurutnya, memiliki peluang besar menjadi pusat industri agro nasional dengan dukungan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang terus berkembang.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-52266\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250911-WA0202.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"802\" \/><br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam 100 hari kerja, Pemprov Lampung telah menyalurkan 24 unit dryer padi dan 4 mesin penepung mockup kepada kelompok tani dan UMKM sebagai langkah nyata memperkuat rantai pasok pangan. Dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dana desa, hingga koperasi juga disebut menjadi instrumen penting mendorong produktivitas petani dan UMKM.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKeberhasilan hilirisasi membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga desa. Dunia usaha perlu memperkuat kemitraan dengan petani, akademisi menghadirkan inovasi teknologi pascapanen, sementara perbankan menyalurkan pembiayaan untuk sektor produktif,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDengan strategi tersebut, Gubernur optimistis Lampung mampu mempercepat transformasi ekonomi, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, serta menjadikan hilirisasi sebagai motor pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cForum ini bukan hanya memperkaya literatur ekonomi, tetapi juga harus melahirkan rekomendasi konkret bagi pembangunan daerah. Mari jadikan hilirisasi sebagai gerakan bersama demi kesejahteraan petani, kemajuan industri, dan daya saing Lampung di tingkat nasional maupun global,\u201d tutupnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan dilanjutkan talkshow yang dimoderatori jurnalis sekaligus presenter Metro TV, Jessica Wulandari dan menghadirkan 4 narasumber profesional yaitu: Kepala Bank Indonesia Perwakilan Lampung Bimo Epyanto, Sekretaris Direktorat Jendral Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Yulia Astuti, Direktur Corporate PT. Great Giant Pineapple Welly Soegiono dan Excecutive Director PT. Sumber Karunia Alam Mulyono Susilo.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam sesi diskusi, Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Lampung, Ridwan Saifuddin menambahkan Pemerintah Provinsi Lampung telah menjadikan hilirisasi sebagai instrumen utama dan sejalan dengan program strategis nasional yang telah dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang Daerah (RPJMD dan RPJPD) Lampung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eRidwan mengatakan pertanian menjadi basis utama program hilirisasi di Provinsi Lampung, melalui pendekatan share value diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Proses hilirisasi pertanian di Lampung masih menghadapi tantangan yang sangat besar dan membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak baik pihak industri swasta, akademisi dan pelaku pertanian kecil dan menengah serta pemerintah pusat,&#8221; ujar Ridwan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Subhan Siafari, kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran hasil perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, mengatakan dalam upayanya meningkatkan hilirisasi di sektor perkebunan Pemerintah Provinsi Lampung telah melakukan berbagai upaya konkret melalui peningkatan produktivitas dan populasi tanaman perkebunan dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDari sisi akademisi, Arivina Ratih Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung memberikan insight hilirisasi dari sudut pandang ekonomi adalah memberdayakan sumber daya yang dimiliki agar dapat menghasilkan added value yang lebih besar.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Tantangan seperti iklim investasi, penyesuaian dan kontribusi pendidikan pada hilirisasi serta implementasi kebijakan di lapangan menjadi beberapa faktor yang perlu mendapatkan perhatian,&#8221; ucapnya. (kmf)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Perekonomian Provinsi Lampung mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan 5,09 persen pada triwulan II tahun 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan Sumatra. \u200e \u200eCapaian ini menjadi sinyal kuat Lampung mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan dan pusat produksi komoditas strategis nasional. \u200e \u200eHal tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, mewakili Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam acara Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Lampung di Ballroom Hotel Novotel, Kamis (11\/9\/2025). \u200e \u200eMengusung Tema \u201cSinergi Memperkuat Hilirisasi Komoditas Unggulan sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan\u201d, forum tersebut menghadirkan pejabat Kementerian Perindustrian, pelaku usaha besar, seperti PT. Great Giant Pineapple dan PT. Kurnia Alam, pimpinan perbankan, akademisi, hingga asosiasi pelaku usaha. \u200e \u200e\u201cPertumbuhan ekonomi Lampung yang solid ini perlu terus diperkuat dengan hilirisasi. Sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan harus menjadi motor penggerak, bukan hanya sebagai penghasil bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi,\u201d ujar Bani membacakan sambutan Gubernur. \u200e \u200eIa menegaskan program hilirisasi sejalan dengan RPJMN 2025\u20132029 yang menitikberatkan pada pembangunan industri pengolahan komoditas unggulan padat karya, padat teknologi, dan berorientasi ekspor. Lampung, menurutnya, memiliki peluang besar menjadi pusat industri agro nasional dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52267,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[412,8],"tags":[],"class_list":["post-52265","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ekonomi-dan-bisnis","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52265"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52268,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52265\/revisions\/52268"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52267"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}