{"id":52238,"date":"2025-09-10T08:56:24","date_gmt":"2025-09-10T01:56:24","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52238"},"modified":"2025-09-10T08:56:24","modified_gmt":"2025-09-10T01:56:24","slug":"residensi-novela-lampung-literature-2025-akan-digelar-hadirkan-tokoh-sastra-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/10\/residensi-novela-lampung-literature-2025-akan-digelar-hadirkan-tokoh-sastra-nasional\/","title":{"rendered":"\u200eResidensi Novela Lampung Literature 2025 Akan Digelar, Hadirkan Tokoh Sastra Nasional"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB)<\/strong>: Lampung Literature akan menggelar Residensi Penulisan Novela dalam program \u201cMenulisi Lampung: Sayembara Penulisan Novela Berbasis Sejarah dan Budaya Lampung\u201d.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eProgram ini terselenggara dengan dukungan Badan Bahasa, Kemendikbudristek RI, dan ditujukan untuk mendorong revitalisasi bahasa serta budaya Lampung melalui medium sastra.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSebelumnya, seleksi sinopsis berlangsung pada 5\u20136 September 2025. Dari total 43 peserta, muncul delapan peserta terpilih yang akan mengikuti Residensi Penulisan Novela pada 11\u201315 September 2025 di Bandar Lampung.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIskandar, penanggung jawab program, menyatakan bahwa selama lima hari, para peserta akan mendapatkan pendampingan intensif dari sejumlah tokoh sastra nasional, antara lain Raudal Tanjung Banua, Niduparas Erlang, Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iswadi Pratama.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cMateri yang diberikan meliputi teknik penulisan kreatif, pembacaan ulang sejarah dan budaya Lampung, hingga strategi mengolah sensibilitas budaya menjadi karya sastra. Di sini peserta benar-benar digodok, baik keterampilan teknis menulis hingga wawasannya,\u201d ungkapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, Ari Pahala Hutabarat sebagai salah satu pemateri menambahkan residensi bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan juga proses dialog.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKami ingin mengajak para penulis muda untuk mengolah kembali warisan budaya Lampung agar bisa berbicara kepada pembaca masa kini. Novela yang mereka tulis kelak bisa menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas,\u201d jelasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eProgram ini akan ditutup dengan acara Perjamuan Prosa pada 28 Oktober 2025 di Bandar Lampung, yang menghadirkan diskusi karya, peluncuran 8 novela terpilih, serta pertunjukan musikalisasi puisi oleh musisi lokal. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Lampung Literature akan menggelar Residensi Penulisan Novela dalam program \u201cMenulisi Lampung: Sayembara Penulisan Novela Berbasis Sejarah dan Budaya Lampung\u201d. \u200e \u200eProgram ini terselenggara dengan dukungan Badan Bahasa, Kemendikbudristek RI, dan ditujukan untuk mendorong revitalisasi bahasa serta budaya Lampung melalui medium sastra. \u200e \u200eSebelumnya, seleksi sinopsis berlangsung pada 5\u20136 September 2025. Dari total 43 peserta, muncul delapan peserta terpilih yang akan mengikuti Residensi Penulisan Novela pada 11\u201315 September 2025 di Bandar Lampung. \u200e \u200eIskandar, penanggung jawab program, menyatakan bahwa selama lima hari, para peserta akan mendapatkan pendampingan intensif dari sejumlah tokoh sastra nasional, antara lain Raudal Tanjung Banua, Niduparas Erlang, Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iswadi Pratama. \u200e \u200e\u201cMateri yang diberikan meliputi teknik penulisan kreatif, pembacaan ulang sejarah dan budaya Lampung, hingga strategi mengolah sensibilitas budaya menjadi karya sastra. Di sini peserta benar-benar digodok, baik keterampilan teknis menulis hingga wawasannya,\u201d ungkapnya. \u200e \u200eSementara itu, Ari Pahala Hutabarat sebagai salah satu pemateri menambahkan residensi bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan juga proses dialog. \u200e \u200e\u201cKami ingin mengajak para penulis muda untuk mengolah kembali warisan budaya Lampung agar bisa berbicara kepada pembaca masa kini. Novela yang mereka tulis kelak bisa menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas,\u201d jelasnya. \u200e \u200eProgram [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52239,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-52238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52238"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52238\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52240,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52238\/revisions\/52240"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52239"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}