{"id":52158,"date":"2025-09-02T17:03:40","date_gmt":"2025-09-02T10:03:40","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52158"},"modified":"2025-09-02T19:31:01","modified_gmt":"2025-09-02T12:31:01","slug":"protes-wali-murid-sdn-di-pesawaran-tolak-guru-baru-lulusan-sma-jadi-wali-kelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/09\/02\/protes-wali-murid-sdn-di-pesawaran-tolak-guru-baru-lulusan-sma-jadi-wali-kelas\/","title":{"rendered":"\u200eProtes, Wali Murid SDN di Pesawaran Tolak Guru Baru Lulusan SMA Jadi Wali Kelas"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<strong>Pesawaran (LB):<\/strong> Dunia pendidikan di Kabupaten Pesawaran kembali berpolemik. Kali ini wali murid SDN 6 Taman Sari Kecamatan Gedong Tataan protes dan menolak kebijakan Kepala Sekolah Ida Laila yang menunjuk guru honorer lulusan SMA sebagai wali kelas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePara wali murid melayangkan protes keras terkait penunjukan guru baru tersebut sebagai wali kelas, sebab masih ada guru yang lebih senior lulusan sarjana yang dianggap lebih kompeten untuk menjadi wali kelas.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSalah satu wali murid berinisial E (36), kepada <strong><em>lampungbarometer.id<\/em><\/strong>, mengungkapkan kekecewaan dan mengaku keberatan dengan kebijakan sekolah tersebut.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kami keberatan Pak jika anak yang baru lulus sekolah SMA sudah ngajar di SD ini, apalagi sampai jadi wali kelas anak-anak kami. Apa sudah tidak ada guru lain yang lebih berpengalaman?&#8221; ucapnya, Selasa (2\/9\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKekecewaan dan penolakan tersebut, ucap E, dia sampaikan lantaran SDN 6 Taman Sari memiliki tenaga pendidik yang cukup banyak.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau guru tidak kurang, ada 18 orang guru. 7 di antaranya berstatus PNS termasuk kepala sekolah, 1 orang guru berstatus PPPK, serta 10 guru honorer. Ini jadi pertanyaan kami, mengapa posisi wali kelas justru diberikan kepada lulusan SMA yang baru belajar mengajar,&#8221; ungkapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Peristiwa ini seakan menegaskan kualitas pendidikan di Pesawaran dan carut-marut sistem rekrutmen guru honorer,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya E mengatakan keterbatasan anggaran sering menjadi kambing hitam sebagai alasan untuk menempatkan tenaga pengajar tanpa kualifikasi memadai padahal peran wali kelas sangat strategis karena menjadi penghubung utama antara sekolah, siswa, dan orang tua.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eOleh sebab itu, E berharap pihak Dinas Pendidikan segera turun tangan agar kualitas pendidikan di SDN 6 Taman Sari tidak dikorbankan hanya karena alasan administratif atau keterbatasan tenaga.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kami berharap pihak Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Pesawaran segera turun tangan,&#8221; pungkasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSayangnya saat dikonfirmasi langsung ke kantornya, Kepala SDN 6 Taman Sari, Ida Laila, S.Pd., tidak berada di tempat. Salah satu guru menyebutkan kepala sekolah sedang mengikuti rapat koordinasi (Rakor).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kalau tadi ada Pak, bahkan sempat ikut senam. Tapi sekarang sedang ada rakor, kami juga tidak tahu di SD mana. Kalau soal kebijakan wali kelas, sebaiknya langsung ke kepala sekolah saja,&#8221; ucap Deska, salah satu guru.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerdasarkan informasi yang dihimpun <em><strong>lampungbarometer.id<\/strong><\/em>, guru baru yang dimaksud berinisial PUT dan menjadi Wali Kelas kelas 2 di SDN 6 Taman Sari. (Yadi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200ePesawaran (LB): Dunia pendidikan di Kabupaten Pesawaran kembali berpolemik. Kali ini wali murid SDN 6 Taman Sari Kecamatan Gedong Tataan protes dan menolak kebijakan Kepala Sekolah Ida Laila yang menunjuk guru honorer lulusan SMA sebagai wali kelas. \u200e \u200ePara wali murid melayangkan protes keras terkait penunjukan guru baru tersebut sebagai wali kelas, sebab masih ada guru yang lebih senior lulusan sarjana yang dianggap lebih kompeten untuk menjadi wali kelas. \u200e \u200eSalah satu wali murid berinisial E (36), kepada lampungbarometer.id, mengungkapkan kekecewaan dan mengaku keberatan dengan kebijakan sekolah tersebut. \u200e \u200e&#8221;Kami keberatan Pak jika anak yang baru lulus sekolah SMA sudah ngajar di SD ini, apalagi sampai jadi wali kelas anak-anak kami. Apa sudah tidak ada guru lain yang lebih berpengalaman?&#8221; ucapnya, Selasa (2\/9\/2025). \u200e \u200eKekecewaan dan penolakan tersebut, ucap E, dia sampaikan lantaran SDN 6 Taman Sari memiliki tenaga pendidik yang cukup banyak. \u200e \u200e&#8221;Kalau guru tidak kurang, ada 18 orang guru. 7 di antaranya berstatus PNS termasuk kepala sekolah, 1 orang guru berstatus PPPK, serta 10 guru honorer. Ini jadi pertanyaan kami, mengapa posisi wali kelas justru diberikan kepada lulusan SMA yang baru belajar mengajar,&#8221; ungkapnya. \u200e \u200e&#8221;Peristiwa ini seakan menegaskan kualitas pendidikan di Pesawaran dan carut-marut sistem rekrutmen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52159,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11,132],"tags":[],"class_list":["post-52158","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","category-barometer-pesawaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52158"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52165,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52158\/revisions\/52165"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}