{"id":52089,"date":"2025-08-28T18:22:36","date_gmt":"2025-08-28T11:22:36","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52089"},"modified":"2025-08-28T18:22:36","modified_gmt":"2025-08-28T11:22:36","slug":"gusdurian-lampung-bawa-gagasan-rumah-ibadah-hijau-dan-ruang-dialogis-ke-tunas-2025-di-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/08\/28\/gusdurian-lampung-bawa-gagasan-rumah-ibadah-hijau-dan-ruang-dialogis-ke-tunas-2025-di-jakarta\/","title":{"rendered":"\u200eGUSDURian Lampung Bawa Gagasan Rumah Ibadah Hijau dan Ruang Dialogis ke TUNAS 2025 di Jakarta \u200e"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eBandar Lampung (LB):<\/strong> Komunitas GUSDURian Lampung bersama KLASIKA Lampung memastikan diri ikut serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian dan Konferensi Pemikiran Gus Dur 2025 yang berlangsung pada 29\u201331 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ini menjadi ajang konsolidasi nasional sekaligus ruang refleksi atas gagasan, nilai, dan keteladanan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam merespons tantangan sosial, demokrasi, dan ekologi di Indonesia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKoordinator GUSDURian Lampung, Yogi Prazani, menegaskan partisipasi perwakilan Lampung kali ini diarahkan untuk mengangkat isu-isu lokal ke ranah diskusi nasional. Salah satu gagasan utama yang mereka bawa adalah inisiatif Rumah Ibadah Hijau.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKami mendorong lahirnya ide-ide segar terkait peran agama dalam mengatasi problem lingkungan. Salah satu gagasan yang ingin kami bawa adalah inisiatif Rumah Ibadah Hijau, yang mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam ruang spiritual masyarakat,\u201d ujar Yogi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menjelaskan, Rumah Ibadah Hijau dirancang tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan aksi lingkungan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cBayangkan masjid atau gereja yang tidak hanya menyemangati spiritualitas, tetapi juga mengajak jemaat menanam, daur ulang, dan menjaga lingkungan sekitar,\u201d ungkapnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut Yogi, inisiatif tersebut bertujuan menjadikan agama sebagai landasan kesadaran ekologis yang konkret.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cRumah ibadah hijau mencerminkan bagaimana nilai religius bisa berpadu dengan tanggung jawab lingkungan, memupuk sinergi antara iman dan aksi nyata,\u201d tambahnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGUSDURian Lampung berharap gagasan tersebut dapat menyebar lebih luas melalui forum nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cTak hanya untuk Lampung, tetapi kami ingin gagasan ini memberi inspirasi bagi pembangunan rumah ibadah yang ramah lingkungan di seluruh Indonesia,\u201d pungkasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSementara itu, penggerak GUSDURian Lampung yang juga Direktur KLASIKA, Ahmad Mufid, menyoroti masalah intoleransi yang masih marak di berbagai daerah.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurutnya, akar persoalan intoleransi sering kali bukan sekadar perbedaan keyakinan, melainkan problem epistemologi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cSering kali, intoleransi berakar pada problem epistemologi cara kita memahami, mengelola, dan mendistribusikan pengetahuan. Di forum nasional ini, kami ingin mendiskusikan bagaimana gagasan Gus Dur bisa menjadi solusi untuk memperbaiki cara pandang masyarakat agar lebih inklusif dan toleran,\u201d jelas Mufid.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa mengutip pandangan Gus Dur yang menulis bahwa \u201cPerbedaan itu fitrah. Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.\u201d<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKLASIKA dan Gusdurian Lampung mendorong setiap komunitas dan lembaga di daerah untuk terus membangun ruang dialogis, di mana berbeda tidak berarti berkonflik, tetapi peluang untuk saling memahami,\u201d pungkasnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eTUNAS Gusdurian 2025 dijadwalkan diikuti 1.500\u20132.000 peserta dari berbagai daerah, terdiri atas penggerak komunitas, akademisi, tokoh lintas agama, hingga pegiat masyarakat sipil.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAgenda kegiatan meliputi Konferensi Pemikiran Gus Dur dengan tiga tema utama: Agama sebagai Etika Sosial, Demokrasi dan Supremasi Sipil, serta Keadilan Ekologi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain itu, akan digelar musyawarah gerakan dan festival gerakan yang menampilkan karya-karya kreatif dari komunitas seluruh Indonesia. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eBandar Lampung (LB): Komunitas GUSDURian Lampung bersama KLASIKA Lampung memastikan diri ikut serta dalam Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian dan Konferensi Pemikiran Gus Dur 2025 yang berlangsung pada 29\u201331 Agustus 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. \u200e \u200eKegiatan ini menjadi ajang konsolidasi nasional sekaligus ruang refleksi atas gagasan, nilai, dan keteladanan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam merespons tantangan sosial, demokrasi, dan ekologi di Indonesia. \u200e \u200eKoordinator GUSDURian Lampung, Yogi Prazani, menegaskan partisipasi perwakilan Lampung kali ini diarahkan untuk mengangkat isu-isu lokal ke ranah diskusi nasional. Salah satu gagasan utama yang mereka bawa adalah inisiatif Rumah Ibadah Hijau. \u200e \u200e\u201cKami mendorong lahirnya ide-ide segar terkait peran agama dalam mengatasi problem lingkungan. Salah satu gagasan yang ingin kami bawa adalah inisiatif Rumah Ibadah Hijau, yang mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam ruang spiritual masyarakat,\u201d ujar Yogi. \u200e \u200eIa menjelaskan, Rumah Ibadah Hijau dirancang tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan aksi lingkungan. \u200e \u200e\u201cBayangkan masjid atau gereja yang tidak hanya menyemangati spiritualitas, tetapi juga mengajak jemaat menanam, daur ulang, dan menjaga lingkungan sekitar,\u201d ungkapnya. \u200e \u200eMenurut Yogi, inisiatif tersebut bertujuan menjadikan agama sebagai landasan kesadaran ekologis yang konkret. \u200e \u200e\u201cRumah ibadah hijau mencerminkan bagaimana nilai religius [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52090,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,16],"tags":[],"class_list":["post-52089","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung","category-gaya-hidup"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52089"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52089\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52091,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52089\/revisions\/52091"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}