{"id":52062,"date":"2025-08-27T10:15:35","date_gmt":"2025-08-27T03:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=52062"},"modified":"2025-08-27T10:15:35","modified_gmt":"2025-08-27T03:15:35","slug":"tinjau-penggilingan-padi-dan-produksi-pupuk-organik-di-lamtim-gubernur-dialog-dengan-petani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/08\/27\/tinjau-penggilingan-padi-dan-produksi-pupuk-organik-di-lamtim-gubernur-dialog-dengan-petani\/","title":{"rendered":"\u200eTinjau Penggilingan Padi dan Produksi Pupuk Organik di Lamtim, Gubernur Dialog dengan Petani"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eLampung Timur (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau lokasi penggilingan dan pengeringan padi (dryer) di Desa Taman Asri, Kabupaten Lampung Timur dan berdialog dengan petani, Selasa (26\/8\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGubernur juga meninjau lokasi produksi pupuk organik cair (POC) untuk meningkatkan produktivitas padi agar mencapai 7\u20138 ton per hektare dan berharap hasil panen dapat lebih optimal dari unit dryer yang telah tersedia.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenggilingan dan dryer di desa Taman Asri memiliki kapasitas 20 ton dari total sekitar 30 ribu hektare sawah di Purbolinggo. Dari jumlah itu baru tersedia sekitar lima unit dryer.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePenggilingan padi dan dryer di Desa Taman Asri telah menjalin kerja sama dengan 16 kelompok tani (Poktan) yang mengelola sekitar 350 hektare lahan dengan skema sistem bagi hasil, di mana keuntungan dibagi untuk kelompok tani, perawatan mesin, dan kas bersama.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMirza menekankan Pemprov Lampung terus berupaya memperkuat sarana pascapanen agar kesejahteraan petani meningkat. Ia juga menyampaikan harga gabah dan jagung mendapat jaminan pemerintah, sementara komoditas singkong masih perlu dukungan kebijakan agar lebih menguntungkan petani.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cAlhamdulillah, dengan kenaikan harga gabah, pendapatan petani Lampung juga naik. Pemerintah akan terus hadir untuk memastikan kesejahteraan petani kita semakin baik,\u201d ujar Gubernur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSaat berkunjung ke lokasi pengolahan pupuk organik cair (POC) yang juga terdapat di desa Taman Asri, Gubernur Mirza melihat langsung hasil produksi POC yang telah dibagikan secara gratis kepada petani dengan dukungan program Pemerintah Provinsi Lampung dan dana desa. Hingga kini, tercatat sekitar 620 liter POC telah terserap beberapa kelompok tani (Poktan) di Desa Taman Asri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cProduksi pupuk organik ini biayanya sangat murah, hanya sekitar Rp5.000 per liter, karena memanfaatkan bahan lokal seperti air kelapa, air cucian beras, dan limbah tahu. Namun manfaatnya luar biasa,\u201d ucap Giyo, pengelola POC di Desa Taman Asri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGiyo menuturkan POC terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanaman. Beberapa tanaman cabai dan durian yang hampir mati kembali hidup setelah diberikan pupuk cair ini. Potensi produktivitas juga meningkat signifikan, panen padi bisa mencapai 7\u20138 ton per hektare jika penggunaan dilakukan dengan benar.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMirza menyampaikan Pemprov Lampung menargetkan program POC dapat menjangkau 2.000 desa di seluruh Lampung. Setiap desa diharapkan mampu mengelola sekitar 400 hektare lahan dengan pupuk organik.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cAlhamdulillah, ini bukti nyata inovasi masyarakat yang harus kita dukung bersama. Pupuk organik cair ini bukan hanya murah dan ramah lingkungan, tapi juga terbukti meningkatkan hasil panen petani,\u201d ujar Gubernur.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDalam kunjungan tersebut, Gubernur meninjau proses produksi POC yang sudah memasuki tahap fermentasi 18 hari dan tahap yang lebih lama. Produk yang telah siap pakai akan diuji coba di lahan pertanian seluas 2\u20133,5 hektare. Ia mendorong agar petani tidak hanya memproduksi, tetapi juga menggunakan dan mengembangkan kembali POC secara mandiri.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPemerintah hanya menyiapkan fasilitas dan ilmunya. Selanjutnya masyarakat yang menjaga, karena mikroba ini makhluk hidup yang harus terus dikaji,\u201d katanya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eGubernur optimistis penerapan POC dapat meningkatkan produktivitas tanaman hingga 20\u201330 persen. Jika diterapkan secara luas di ribuan desa, manfaatnya akan sangat signifikan bagi ketahanan pangan Lampung. (*\/red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eLampung Timur (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau lokasi penggilingan dan pengeringan padi (dryer) di Desa Taman Asri, Kabupaten Lampung Timur dan berdialog dengan petani, Selasa (26\/8\/2025). \u200e \u200eGubernur juga meninjau lokasi produksi pupuk organik cair (POC) untuk meningkatkan produktivitas padi agar mencapai 7\u20138 ton per hektare dan berharap hasil panen dapat lebih optimal dari unit dryer yang telah tersedia. \u200e \u200ePenggilingan dan dryer di desa Taman Asri memiliki kapasitas 20 ton dari total sekitar 30 ribu hektare sawah di Purbolinggo. Dari jumlah itu baru tersedia sekitar lima unit dryer. \u200e \u200ePenggilingan padi dan dryer di Desa Taman Asri telah menjalin kerja sama dengan 16 kelompok tani (Poktan) yang mengelola sekitar 350 hektare lahan dengan skema sistem bagi hasil, di mana keuntungan dibagi untuk kelompok tani, perawatan mesin, dan kas bersama. \u200e \u200eMirza menekankan Pemprov Lampung terus berupaya memperkuat sarana pascapanen agar kesejahteraan petani meningkat. Ia juga menyampaikan harga gabah dan jagung mendapat jaminan pemerintah, sementara komoditas singkong masih perlu dukungan kebijakan agar lebih menguntungkan petani. \u200e \u200e\u201cAlhamdulillah, dengan kenaikan harga gabah, pendapatan petani Lampung juga naik. Pemerintah akan terus hadir untuk memastikan kesejahteraan petani kita semakin baik,\u201d ujar Gubernur. \u200e \u200eSaat berkunjung ke lokasi pengolahan pupuk organik cair [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":52063,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[243,8],"tags":[],"class_list":["post-52062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-lampung-timur","category-pemprov-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52062"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52064,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52062\/revisions\/52064"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52063"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}