{"id":51918,"date":"2025-08-20T10:43:22","date_gmt":"2025-08-20T03:43:22","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51918"},"modified":"2025-08-20T10:43:22","modified_gmt":"2025-08-20T03:43:22","slug":"dkl-gelar-diskusi-terpumpun-mak-lebon-lampung-menggali-sastra-lokal-dan-warna-lokal-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/08\/20\/dkl-gelar-diskusi-terpumpun-mak-lebon-lampung-menggali-sastra-lokal-dan-warna-lokal-lampung\/","title":{"rendered":"\u200eDKL Gelar Diskusi Terpumpun &#8216;Mak Lebon Lampung: Menggali Sastra Lokal dan Warna Lokal Lampung&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u200eKotabumi (LB):<\/strong> Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) bersama Dewan Kesenian Lampung Utara (DKLU) dan Dewan Kesenian Way Kanan (DKWK) menggelar diskusi terpumpun bertajuk \u201cMak Lebon Lampung di Bumi: Sastra Lokal dan Warna Lokal Lampung\u201d.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ini berlangsung di Kotabumi, Rabu (20\/8\/2025) dan akan berlanjut di Blambangan Umpu, Kamis (21\/8\/2026).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKetua Komite Sastra DKL, Udo Z. Karzi menjelaskan diskusi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak 2024. Tahun lalu, diskusi serupa telah digelar di tiga lokasi: Pekon Hujung (Lampung Barat), Krui (Pesisir Barat), dan Palembapang (Lampung Selatan).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cKegiatan ini dimaksudkan menggali lebih dalam permasalahan sastra berbahasa Lampung maupun sastra yang bermuatan lokal Lampung. Harapannya, lahir solusi agar sastra Lampung tetap eksis dan berkembang mengikuti zaman,\u201d ujar Udo Z. Karzi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menambahkan, hasil dari FGD di beberapa daerah ini akan disusun menjadi manuskrip dan diterbitkan pada tahun ini.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurutnya, Lampung memiliki kekayaan seni budaya, termasuk di dalamnya sastra, namun perhatian terhadap sastra Lampung masih minim, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Diskusi ini menghadirkan pelaku dan pemangku kebijakan daerah sebagai narasumber untuk menggali data dan informasi secara mendalam.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSastra lokal didefinisikan sebagai karya sastra dalam bahasa Lampung, sedangkan sastra warna lokal adalah karya berbahasa Indonesia yang menampilkan kekhasan Lampung, seperti adat, nilai, budaya, dan latar tempat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKetua DKL, Prof. Satria Bangsawan, menyambut baik kegiatan ini. \u201cLampung memiliki kekayaan sastra lisan dan tulisan yang harus kita kenali, gali, lestarikan, dan kembangkan. Sastra Lampung menyimpan nilai dan kearifan lokal yang penting bagi pembentukan identitas dan peradaban Lampung,\u201d ujarnya.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eIa menekankan banyak bentuk sastra tradisi masih hidup di masyarakat adat Lampung, meski menghadapi tantangan zaman. \u201cKalau bahasa dan sastra Lampung hilang, maka hilang pula pengetahuan dan kearifan lokal yang dikandungnya,\u201d tegasnya. (CH)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eKotabumi (LB): Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) bersama Dewan Kesenian Lampung Utara (DKLU) dan Dewan Kesenian Way Kanan (DKWK) menggelar diskusi terpumpun bertajuk \u201cMak Lebon Lampung di Bumi: Sastra Lokal dan Warna Lokal Lampung\u201d. \u200e \u200eKegiatan ini berlangsung di Kotabumi, Rabu (20\/8\/2025) dan akan berlanjut di Blambangan Umpu, Kamis (21\/8\/2026). \u200e \u200eKetua Komite Sastra DKL, Udo Z. Karzi menjelaskan diskusi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak 2024. Tahun lalu, diskusi serupa telah digelar di tiga lokasi: Pekon Hujung (Lampung Barat), Krui (Pesisir Barat), dan Palembapang (Lampung Selatan). \u200e \u200e\u201cKegiatan ini dimaksudkan menggali lebih dalam permasalahan sastra berbahasa Lampung maupun sastra yang bermuatan lokal Lampung. Harapannya, lahir solusi agar sastra Lampung tetap eksis dan berkembang mengikuti zaman,\u201d ujar Udo Z. Karzi. \u200e \u200eIa menambahkan, hasil dari FGD di beberapa daerah ini akan disusun menjadi manuskrip dan diterbitkan pada tahun ini. \u200e \u200eMenurutnya, Lampung memiliki kekayaan seni budaya, termasuk di dalamnya sastra, namun perhatian terhadap sastra Lampung masih minim, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Diskusi ini menghadirkan pelaku dan pemangku kebijakan daerah sebagai narasumber untuk menggali data dan informasi secara mendalam. \u200e \u200eSastra lokal didefinisikan sebagai karya sastra dalam bahasa Lampung, sedangkan sastra warna lokal adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51919,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[230],"tags":[],"class_list":["post-51918","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-lampung-utara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51918"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51918\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51920,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51918\/revisions\/51920"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51919"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}