{"id":51729,"date":"2025-08-11T23:25:29","date_gmt":"2025-08-11T16:25:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=51729"},"modified":"2025-08-12T07:02:22","modified_gmt":"2025-08-12T00:02:22","slug":"program-sksd-bawa-desa-karang-sari-wakili-lampung-dalam-lomba-penanganan-stunting-tingkat-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2025\/08\/11\/program-sksd-bawa-desa-karang-sari-wakili-lampung-dalam-lomba-penanganan-stunting-tingkat-nasional\/","title":{"rendered":"Program SKSD Bawa Desa Karang Sari Wakili Lampung dalam Lomba Penanganan Stunting Tingkat Nasional"},"content":{"rendered":"<p>\u200e<strong>Lampung Selatan (LB)<\/strong>: Desa Karang Sari, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, mewakili Provinsi Lampung dalam Lomba Percepatan Penanganan Stunting Tingkat Nasional.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePembukaan dan registrasi dan registrasi lomba dilakukan secara daring dan diikuti para aparatur desa dari Aula Desa Karang Sari, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, Senin (11\/8\/2025).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eBerdasarkan informasi yang dihimpun <strong><em>lampungbarometer.id<\/em><\/strong>, lomba yang diadakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (Kemendes PDT RI) ini diikuti 38 Provinsi se-Indonesia dengan metode Zoom Meeting.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKepala Desa Romsi, S.H. mengungkapkan Desa Karang Sari mewakili Provinsi Lampung dalam lomba Percepatan Penanganan dan Pencegahan Angka Stunting Tingkat Nasional, setelah berhasil meraih Juara 1 di Tingkat Kabupaten Lampung Selatan dan Tingkat Provinsi Lampung.<\/p>\n<div id=\"attachment_51731\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-51731\" class=\"wp-image-51731 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250811-WA0179.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"900\" srcset=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250811-WA0179.jpg 1200w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250811-WA0179-320x240.jpg 320w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250811-WA0179-600x450.jpg 600w, https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250811-WA0179-80x60.jpg 80w\" sizes=\"auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><p id=\"caption-attachment-51731\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PEMBUKAAN<\/strong>. Pemerintah Desa Karang Sari mengikuti pembukaan dan registrasi Lomba Percepatan Penanganan Stunting Tingkat Nasional\u00a0secara daring, Senin (11\/8\/2025).<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u200e&#8221;Alhamdulillah desa kami zero stunting dan menjadi perwakilan Provinsi Lampung untuk lomba Percepatan Penanganan Stunting Desa yang diadakan Kemendes PDT. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras bersama seluruh aparatur desa, para kader dan semua lini yang terlibat serta berkontribusi dalam lomba ini dari tingkat desa hingga antarprovinsi ini,&#8221; ungkap Romsi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eLebih lanjut Romsi mengatakan ada program andalan yang membuat desa yang ia pimpin menjadi pemenang sehingga bisa mewakili Lampung. Program ini bernama Satgas Konvergensi Stunting Desa (SKSD).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Kami membuat inovasi program pamungkas yang dikenal SKSD, wadah ini kami buat legalitasnya di Pemerintah Desa. Anggota program percepatan penanganan stunting ini kami rekrut dari Kader PKK, Kader Posyandu, Bidan Desa, dan stakeholder lainnya sehingga lebih efektif dalam pencegahan dan menangani penurunan angka stunting di Desa Karang Sari,&#8221; ujar Romsi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eDia juga berpesan kepada seluruh aparatur desa, para kader kesehatan, bidan desa, dan warga untuk menjaga dan mempertahankan agar di masa depan Desa Karang Sari benar-benar bebas dari stunting.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e&#8221;Besok adalah sesi akhir penilaian lomba, kami berharap bisa menjadi salah satu yang terbaik dalam kategori Desa Berkinerja Baik Percepatan Penanganan Stunting. Saya juga berpesan agar prestasi baik ini tetap dipertahankan bukan hanya karena adanya lomba, tapi menjadi kebiasaan baik yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan di Desa Karang Sari yang kita cintai ini,&#8221; pungkasnya. (Rian\/Herdi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200eLampung Selatan (LB): Desa Karang Sari, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, mewakili Provinsi Lampung dalam Lomba Percepatan Penanganan Stunting Tingkat Nasional. \u200e \u200ePembukaan dan registrasi dan registrasi lomba dilakukan secara daring dan diikuti para aparatur desa dari Aula Desa Karang Sari, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan, Senin (11\/8\/2025). \u200e \u200eBerdasarkan informasi yang dihimpun lampungbarometer.id, lomba yang diadakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (Kemendes PDT RI) ini diikuti 38 Provinsi se-Indonesia dengan metode Zoom Meeting. \u200e \u200eKepala Desa Romsi, S.H. mengungkapkan Desa Karang Sari mewakili Provinsi Lampung dalam lomba Percepatan Penanganan dan Pencegahan Angka Stunting Tingkat Nasional, setelah berhasil meraih Juara 1 di Tingkat Kabupaten Lampung Selatan dan Tingkat Provinsi Lampung. \u200e&#8221;Alhamdulillah desa kami zero stunting dan menjadi perwakilan Provinsi Lampung untuk lomba Percepatan Penanganan Stunting Desa yang diadakan Kemendes PDT. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras bersama seluruh aparatur desa, para kader dan semua lini yang terlibat serta berkontribusi dalam lomba ini dari tingkat desa hingga antarprovinsi ini,&#8221; ungkap Romsi. \u200e \u200eLebih lanjut Romsi mengatakan ada program andalan yang membuat desa yang ia pimpin menjadi pemenang sehingga bisa mewakili Lampung. Program ini bernama Satgas Konvergensi Stunting Desa (SKSD). \u200e \u200e&#8221;Kami membuat inovasi program pamungkas yang dikenal SKSD, wadah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":51730,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-51729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-desa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51729"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51729\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51735,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51729\/revisions\/51735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/51730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}